Kivlan Zen Desak Prabowo Percepat Langkah, Jangan Terus di Pinggir Bubur
Podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan, Kivlan Zen.(poto/ist/Erizal)
Satunu.com - Kivlan Zen kembali menyampaikan dukungannya kepada Presiden Prabowo Subianto. Namun, mantan perwira TNI itu mengingatkan agar langkah pembenahan yang dilakukan pemerintahan saat ini tidak berlangsung terlalu lambat.
Dalam Podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan, Kivlan Zen menilai Prabowo tengah berupaya memperbaiki kondisi Indonesia yang menurutnya sudah jauh melenceng. Ia mengibaratkan proses tersebut seperti menyantap bubur panas yang harus dimulai dari bagian pinggir.
Meski demikian, Kivlan menilai saat ini Prabowo harus bergerak lebih cepat. Menurutnya, tahapan awal sudah cukup dan kini saatnya mengambil langkah yang lebih tegas.
"Makan bubur panasnya sudah harus ke tengah. Jangan di pinggir terus," kata Kivlan Zen.
Dalam kesempatan itu, Kivlan juga menegaskan bahwa Indonesia selama ini tidak sepenuhnya berada di bawah kendali presiden. Menurutnya, pengaruh oligarki yang memiliki kekuatan modal dan jaringan besar sudah berlangsung sejak lama.
Kivlan mengaku memiliki kedekatan dengan Prabowo sejak mendapat pesan khusus dari Soemitro Djojohadikusumo untuk menjaga putranya tersebut. Kedekatan itu semakin kuat ketika terjadi persaingan elite militer di sekitar Istana yang berujung pada tersingkirnya Prabowo dari lingkaran kekuasaan.
Ia menyebut memahami niat Prabowo untuk bangsa dan negara. Bahkan, pada 21 Mei 1998, Kivlan bersama Prabowo sempat meminta Presiden Soeharto agar tidak mengundurkan diri.
Menurut Kivlan, sebagai pimpinan TNI yang lebih muda saat itu, mereka masih merasa mampu mengendalikan situasi. Namun, Soeharto akhirnya memilih mundur dan kondisi politik berubah drastis.
"Reformasi diartikan Kivlan Zen sebagai Rusakisasi. Semua jadi rusak," demikian pandangan yang disampaikannya dalam podcast tersebut.
Meski optimistis terhadap kepemimpinan Prabowo, Kivlan mengingatkan bahwa waktu menjadi faktor penting. Ia berharap Presiden segera menentukan sikap dan tidak terlalu lama berada dalam posisi yang menurutnya serba abu-abu.
Kivlan menilai keterlambatan dalam mengambil keputusan berisiko membuat keadaan kembali tidak terkendali.
