Inggris Jual “Saham Matahari”, Indonesia Dorong Koperasi Energi Desa

Foto AI hanya ilustrasi, Ahmadie Thaha:PATUNGAN MATAHARI.(poto/ist)

Inggris mengembangkan kepemilikan energi berbasis komunitas lewat saham proyek surya. Indonesia mendorong koperasi energi melalui pembiayaan LPDB.

Satuju.com - Kepemilikan energi berbasis komunitas menjadi salah satu model yang mulai mendapat perhatian dunia. Inggris dan Indonesia menempuh jalur berbeda dalam membangun kemandirian energi masyarakat, namun keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni memperluas akses dan memperkuat ekonomi lokal.

Di Oxfordshire, Inggris, proyek Ray Valley Solar mengembangkan sistem energi yang melibatkan masyarakat sebagai pemilik modal. Ribuan panel surya di kawasan tersebut memasok listrik bagi sekitar 7.000 rumah.

Produksi listrik yang melimpah pada siang hari sempat menjadi persoalan karena kapasitas jaringan tidak mampu menampung seluruh pasokan. Untuk mengatasi hal itu, kelebihan energi disimpan dalam baterai berkapasitas 12 MWh dan digunakan kembali pada malam hari saat permintaan serta harga listrik meningkat.

Model tersebut tidak hanya mengandalkan teknologi penyimpanan energi, tetapi juga partisipasi warga. Masyarakat dapat membeli saham komunitas mulai sekitar 100 poundsterling untuk mendukung pembangunan fasilitas penyimpanan energi.

Keuntungan dari penjualan listrik saat harga tinggi tidak sepenuhnya masuk ke perusahaan besar. Sebagian keuntungan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk dividen, proyek sosial, program efisiensi energi, hingga investasi lingkungan.

Sementara itu, Indonesia memilih pendekatan berbeda melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi. Pemerintah menyediakan pembiayaan murah dengan bunga rendah dan tenor panjang guna mendukung pengembangan koperasi, termasuk sektor energi.

Skema tersebut memungkinkan desa memperoleh akses pembiayaan untuk mempercepat elektrifikasi dan menggerakkan ekonomi masyarakat, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Pengamat dan penulis Ahmadie Thaha atau Cak AT menilai terdapat perbedaan mendasar antara kedua model tersebut.

"Skema LPDB pada dasarnya adalah negara membantu masyarakat membangun aset energi. Sedangkan model Ray Valley adalah masyarakat bersama-sama membangun aset energi mereka sendiri," tulisnya dalam Catatan Cak AT, Senin (23/6/2026).

Menurut dia, pendekatan Indonesia bertumpu pada kekuatan fiskal negara, sedangkan Inggris mengandalkan partisipasi warga sebagai pemilik modal.

"Yang satu lahir dari logika pembangunan. Yang lain tumbuh dari logika kepemilikan. Yang satu menjawab pertanyaan, 'Bagaimana desa mendapatkan listrik?' Yang lain mulai bertanya lebih jauh, 'Siapa yang memiliki listrik itu?'" tulisnya.

Ia menilai pelajaran penting bagi Indonesia bukan menyalin model Inggris secara utuh. Tantangan infrastruktur, modal, dan kapasitas kelembagaan di Indonesia masih jauh lebih besar.

Namun, konsep kepemilikan partisipatif dinilai layak dipertimbangkan. Koperasi energi desa pada masa mendatang dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk menjadi pemilik sekaligus penerima manfaat.

"Bagaimana jika petani, guru, pedagang, nelayan, dan warga desa bisa membeli 'saham matahari' dalam koperasi energi mereka sendiri?" tulisnya.

Menurut Cak AT, energi tidak semata berkaitan dengan panel surya dan jaringan listrik, tetapi juga menyangkut distribusi kekuatan ekonomi.

"Inggris sedang bereksperimen mengubah warga dari pembayar tagihan menjadi pemilik aset. Indonesia melalui LPDB sedang berusaha mengubah warga dari objek pembangunan menjadi pelaku pembangunan," katanya.

Ia menilai masa depan transisi energi dapat berada di tengah kedua pendekatan tersebut, yakni negara hadir sebagai pengungkit awal dan masyarakat menjadi pemilik akhir.

"Sebab matahari memang diciptakan Tuhan untuk semua orang. Akan terasa agak lucu jika sinarnya menyinari seluruh desa, tetapi keuntungannya hanya mampir ke segelintir kantor berpendingin udara di kota besar."

Menurutnya, pelajaran terbesar dari Oxfordshire bukan sekadar peralihan dari batu bara ke panel surya, melainkan perubahan pola pikir masyarakat.

"Karena ketika rakyat mulai memiliki pembangkit listriknya sendiri, yang menyala bukan hanya lampu rumah. Harga diri komunitas ikut terang."


BERITA TERKAIT