Tulisan Dr Tifa tentang Baju Orange Jadi Sorotan, Dinilai sebagai Narasi Perlawanan

Foto Ai hanya ilustrasi, Tulisan Dr Tifa tentang baju orange memicu perhatian publik. Narasi tersebut dinilai sebagai simbol perlawanan dan keteguhan prinsip.(poto/ist/Andrian Saputra)

Satuju.com - Tulisan Dr Tifa tentang baju orange menjadi perbincangan di media sosial setelah ia mengunggah refleksi pribadi yang sarat pesan perjuangan, integritas, dan keteguhan sikap di tengah tekanan yang dihadapinya.

Dalam tulisan tersebut, dr. Tifauzia Tyassuma atau yang dikenal sebagai Dr Tifa mengaku tidak pernah membayangkan harus berada pada situasi yang membuatnya mengenakan baju berwarna orange, simbol yang kerap dikaitkan dengan stigma negatif di ruang publik.

Namun, ia justru membingkai pengalaman tersebut sebagai lambang perlawanan terhadap apa yang diyakininya sebagai kebohongan, kepalsuan, dan ketidakadilan.

"Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini. Memakai baju orange, berdiri di tengah kerumunan, dilihat banyak mata, seolah hidupku diringkas menjadi satu warna," tulisnya.

Dalam narasi yang panjang dan emosional itu, Dr Tifa menyebut baju orange yang dikenakannya bukan sebagai simbol kekalahan, melainkan "baju zirah" yang membungkus perjuangan yang selama ini ia jalani.

"Baju orange ini, di tubuhku adalah tanda perlawanan terhadap kebohongan, kepalsuan, kezaliman. Tanda bahwa aku terus berdiri tegak dan senyuman karena aku tahu nilai apa yang terkepal di tanganku," tulisnya.

Ia juga menegaskan bahwa dirinya tetap berjalan sesuai keyakinan yang dipegang, meski harus menghadapi risiko dan konsekuensi yang tidak ringan.

Menurut Dr Tifa, ada banyak tekanan yang tidak terlihat publik, mulai dari rasa lelah, takut, hingga berbagai pertanyaan yang belum tentu memiliki jawaban. Namun, ia memilih tetap bertahan demi menjaga integritas yang diyakininya.

"Hari itu, melihat aku berbaju orange, mungkin banyak orang iba padaku, menangisiku. Tapi di dalam diriku, muncul bara api membara seterang baju ini," lanjutnya.

Tulisan tersebut kemudian mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Andrian Saputra yang menilai narasi Dr Tifa bukan sekadar curahan hati, melainkan sebuah strategi komunikasi yang kuat.

Menurutnya, tulisan itu berhasil mengubah simbol yang selama ini dipandang negatif menjadi representasi keteguhan prinsip dan perlawanan terhadap tekanan.

Andrian menyebut Dr Tifa tidak sedang berusaha meyakinkan pihak yang berseberangan dengannya, melainkan memperkuat ikatan emosional dengan para pendukung melalui narasi perjuangan yang lebih besar.

"Ini adalah manifesto tentang bagaimana seseorang yang terpojok menggunakan narasi untuk mengambil kendali kembali atas dirinya sendiri," tulis Andrian dalam komentarnya.

Ia juga menilai keputusan Dr Tifa untuk tidak menempatkan diri sebagai korban, melainkan sebagai sosok yang tetap tersenyum dan bertahan dalam tekanan, menjadi langkah komunikasi yang efektif dalam membangun persepsi publik.

Tulisan tersebut hingga kini masih ramai diperbincangkan dan memunculkan beragam respons dari masyarakat di media sosial.


BERITA TERKAIT