Debat Hasan Nasbi vs Fatimah Azzahra Memanas, Kritik Soal Sistem Korupsi Jadi Sorotan
Foto Ai hanya ilustrasi, FATIMAH AZZAHRA vs HASAN NASBI.(poto/ist/Andrian Saputra)
Debat Hasan Nasbi dan Fatimah Azzahra di tvOne menjadi sorotan setelah kritik soal kegagalan sistem pencegahan korupsi memicu perhatian publik.
Satuju.com - Debat Hasan Nasbi Fatimah menjadi perhatian publik setelah perdebatan keduanya dalam program Catatan Demokrasi tvOne membahas komitmen pemerintah terhadap pemberantasan korupsi. Adu argumen tersebut menyoroti perbedaan pandangan antara pemerintah dan kalangan mahasiswa mengenai ukuran keberhasilan pemberantasan korupsi.
Dalam diskusi itu, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menegaskan bahwa penangkapan sejumlah pihak yang memiliki kedekatan dengan Presiden menunjukkan komitmen pemerintah dalam menindak praktik korupsi.
"Itu orang yang sangat dekat dengan Presiden. Jaraknya bukan satu kilo, tapi satu meter dari Presiden, tanpa tedeng aling-aling! Ini bentuk komitmen untuk mengedepankan pemberantasan korupsi," ujar Hasan.
Hasan juga mengajak publik melihat persoalan secara menyeluruh dan tidak hanya dari satu sudut pandang. Pernyataan tersebut mendapat respons dari peserta diskusi dan penonton di studio.
Namun, Wakil Ketua BEM UI, Fatimah Azzahra, menyampaikan pandangan berbeda. Menurutnya, keberhasilan pemberantasan korupsi tidak cukup diukur dari banyaknya pelaku yang ditangkap, melainkan dari kemampuan sistem mencegah korupsi terjadi.
"Iya, Bang Hasan Nasbi ya tadi mengatakan bahwa ini orang terdekat Presiden, sehingga lagi-lagi itu adalah satu bentuk komitmen. Lagi-lagi, mungkin di sinilah kita 'agree to disagree'," kata Fatimah.
Ia kemudian menegaskan bahwa masyarakat menginginkan sistem yang mampu menutup celah korupsi sejak awal.
"Tapi masalahnya, bagi mahasiswa dan rakyat, keberhasilan itu adalah ketika tidak ada lagi korupsi, bagaimanapun juga! Sehingga yang harus dikejar adalah sistem, bukan perorangan," tegasnya.
Fatimah juga menyoroti argumen mengenai pengawasan yang dilakukan Presiden. Menurutnya, kasus yang melibatkan orang-orang dekat kekuasaan justru menunjukkan masih adanya kelemahan dalam sistem pengawasan.
"Kalau kita ibaratkan tadi dari Bang Hasan Nasbi, kan Prabowo ini sudah sangat mengawasi semuanya nih. 'Kalian semua jangan sampai korupsi!' Tapi di sini aja, orang yang jaraknya satu meter ada yang korupsi, gimana yang di sana? Yang jauh-jauh di sana?" ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Fatimah kembali menegaskan bahwa penangkapan pelaku korupsi bukan indikator utama keberhasilan tata kelola pemerintahan.
"Jadi sebetulnya, adanya korupsi dan ditangkap itu bukan bukti keberhasilan, Bang. Tapi itu adalah bukti bahwa sistem yang dibentuk itu masih gagal untuk menghindarkan kita dari kerugian korupsi, begitu," pungkasnya.
Perdebatan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Banyak warganet menyoroti perbedaan pendekatan antara penindakan korupsi dan upaya membangun sistem yang efektif untuk mencegah praktik korupsi sejak dini.
