Analisis: Prabowo Dinilai Bisa Terjepit di Tengah Perebutan Kekuasaan Elite
Foto Ai hanya ilustrasi, Prabowo Subianto.(poto/ist/Erizal)
Satuju.com - Prabowo terjepit di tengah perebutan kekuasaan menjadi sorotan dalam analisis yang ditulis Erizal. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto memiliki hubungan baik dengan hampir seluruh tokoh politik nasional, namun kondisi itu justru dapat menjadi tantangan ketika kepentingan politik mulai saling berbenturan.
Dalam tulisannya, Erizal menilai Prabowo tidak memiliki persoalan dengan Megawati Soekarnoputri beserta PDI Perjuangan, Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat, maupun Presiden ke-7 Joko Widodo serta jejaring politiknya. Hubungan baik juga disebut terjalin dengan Jusuf Kalla, Anies Baswedan, Mahfud MD, hingga sejumlah tokoh lain meski kerap melontarkan kritik.
Menurut Erizal, sejak awal Prabowo memilih pendekatan merangkul seluruh kekuatan politik. Namun, langkah tersebut dinilai tidak mudah karena setiap kelompok memiliki kepentingan yang berbeda.
"Artinya, saat Prabowo condong kepada tokoh dan jejaring tertentu, maka tokoh dan jejaring yang lain itu cenderung tidak mau menerimanya. Begitu sebaliknya. Prabowo menjauhi semua atau menjaga jarak dengan mereka semua, tentu itu juga mustahil. Prabowo bisa terjepit di tengah," tulis Erizal.
Ia juga menilai perebutan kekuasaan selalu menghadirkan kompetisi antarelite. Menurutnya, pembagian pengaruh politik tidak pernah berlangsung mudah karena setiap kelompok berusaha memperoleh porsi yang lebih besar.
Selain dinamika politik, Erizal menyoroti sejumlah langkah pemerintahan Prabowo yang disebut menyasar kebocoran penerimaan negara. Ia menyinggung kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas unggulan, penertiban kawasan tambang dan perkebunan ilegal, hingga pengembalian denda kepada negara yang nilainya disebut mendekati Rp100 triliun.
Erizal berpendapat kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi kepentingan berbagai pihak yang selama ini menikmati keuntungan dari sektor-sektor tersebut.
Ia kemudian mengaitkan kondisi itu dengan munculnya berbagai suara yang mengkritik pemerintahan Prabowo sebelum genap dua tahun masa kepemimpinannya.
"Yang berselancar di atas suara-suara yang hendak menggulingkan Prabowo itu tidak hanya satu, bisa jadi semuanya. Itu yang saya katakan tadi bahwa Prabowo tak ada masalah dengan orang (tokoh) dan jejaringnya. Tapi bisa jadi justru bermasalah dengan semuanya, kalau tidak hati-hati. Kekuasaan itu candu, meski dibalut dengan niat baik sekalipun," tulisnya.
Analisis tersebut menegaskan bahwa tantangan terbesar Presiden Prabowo tidak hanya berasal dari oposisi, tetapi juga kemungkinan munculnya tarik-menarik kepentingan di antara berbagai kekuatan politik yang selama ini memiliki hubungan baik dengannya.
