Microsoft Kian Mengandalkan Linux, Azure Linux 4 Perkuat Ambisi AI dan Cloud

Foto Ai hanya ilustrasi, MICROSOFT MUALAF LINUK.(poto/ist/Cak AT - Ahmadie Thaha)

Microsoft memperkuat strategi AI dan cloud lewat Azure Linux 4.0. Linux kini menjadi sistem operasi utama di Azure dan menopang layanan AI modern.

Satuju.com - Microsoft semakin menunjukkan perubahan besar dalam strategi teknologinya dengan menghadirkan Azure Linux 4.0, distribusi Linux yang dirancang khusus untuk mendukung layanan cloud dan kecerdasan buatan (AI). Langkah ini menegaskan bahwa Microsoft Azure Linux AI kini menjadi fondasi penting bagi infrastruktur perusahaan.

Peluncuran Azure Linux 4.0 diumumkan dalam ajang Open Source Summit North America. Pada kesempatan tersebut, Brendan Burns, salah satu pendiri Kubernetes yang kini menjabat petinggi Azure Microsoft, menyampaikan bahwa Linux telah menjadi sistem operasi mayoritas di layanan cloud Azure.

Ia bahkan menyatakan, "Microsoft kini pada dasarnya adalah perusahaan Linux."

Pernyataan tersebut menjadi ironi tersendiri jika melihat sejarah hubungan Microsoft dengan Linux. Bertahun-tahun lalu, mantan CEO Microsoft Steve Ballmer pernah menyebut Linux sebagai "kanker". Kini, perusahaan justru mengembangkan distribusi Linux sendiri berbasis Fedora untuk kebutuhan server modern.

Azure Linux bukan ditujukan bagi pengguna desktop, melainkan dikembangkan sebagai sistem operasi ringan, aman, dan efisien untuk menjalankan infrastruktur cloud berskala besar. Sistem ini dirancang untuk mendukung jutaan container, Kubernetes, machine learning, hingga berbagai layanan AI.

Perubahan strategi tersebut tidak lepas dari dominasi Linux dalam ekosistem kecerdasan buatan. Berbagai framework AI populer seperti CUDA, Docker, Kubernetes, PyTorch, dan TensorFlow berjalan optimal di lingkungan Linux, sehingga menjadi pilihan utama bagi penyedia layanan cloud.

Microsoft sebelumnya juga memperkenalkan Windows Subsystem for Linux (WSL) agar pengguna Windows dapat menjalankan lingkungan Linux tanpa meninggalkan sistem operasi Windows. Langkah tersebut dinilai menjadi jembatan bagi para pengembang yang membutuhkan fleksibilitas Linux.

Kini, transformasi Microsoft semakin nyata. Selain menghadirkan Azure Linux, perusahaan tetap menyediakan dukungan bagi distribusi Linux lain seperti Ubuntu dan Red Hat di platform Azure.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persaingan lama antara Windows dan Linux telah bergeser menjadi kolaborasi demi memenuhi kebutuhan komputasi modern, terutama di bidang cloud dan kecerdasan buatan.

Pengamat teknologi Ahmadie Thaha dalam catatannya menilai perubahan tersebut sebagai bukti bahwa kebutuhan industri lebih menentukan arah perkembangan teknologi dibandingkan rivalitas lama antarplatform.

Menurutnya, kemenangan Linux tidak terjadi melalui persaingan slogan, melainkan karena efisiensi, stabilitas, fleksibilitas, serta kemampuannya menopang infrastruktur server modern dan layanan AI dalam skala besar.