INDODAX Ungkap Ancaman AI Jadi Risiko Terbesar Keamanan Aset Kripto

INDODAX mengingatkan ancaman AI seperti deepfake, voice cloning, dan phishing kini menjadi risiko utama keamanan aset kripto pengguna.(poto/ist)

JAKARTA, Satuju.com - Keamanan aset kripto AI menjadi sorotan di tengah maraknya penipuan digital berbasis kecerdasan buatan. INDODAX menilai ancaman terhadap pengguna kini lebih banyak memanfaatkan kelemahan manusia dibandingkan membobol sistem teknologi.

Chief Information Security Officer (CISO) INDODAX, Ledy, mengatakan pelaku kejahatan siber semakin mengandalkan social engineering, phishing, deepfake, hingga voice cloning untuk memperoleh akses terhadap data pribadi dan aset digital korban.

Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi Beyond Code: The Human Side of Crypto Security yang digelar INDODAX bersama blockchain developer, komunitas kripto, dan pelaku industri. Forum bertema Security Starts With You tersebut membahas pentingnya kesadaran pengguna dalam menjaga keamanan aset digital.

Data NordStellar menunjukkan pembahasan layanan Deepfake-as-a-Service (DFaaS) di forum dark web meningkat sekitar 39 persen sepanjang Januari hingga Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menandakan teknologi deepfake semakin mudah diakses dan dimanfaatkan untuk menjalankan penipuan berbasis identitas.

Selain itu, teknologi AI voice cloning kini mampu menghasilkan tiruan suara yang sangat mirip hanya dengan sampel audio sekitar 10 detik. Modus ini dinilai semakin menyulitkan masyarakat membedakan komunikasi asli dan palsu.

Ledy menjelaskan, pola ancaman di ekosistem aset kripto telah berubah. Jika sebelumnya pelaku berusaha mengeksploitasi celah sistem, kini mereka lebih fokus memanipulasi psikologi korban agar secara sukarela memberikan akses atau informasi penting.

"Banyak orang masih menganggap ancaman terbesar berasal dari peretasan sistem pada exchange. Padahal, dalam beberapa kasus yang terjadi belakangan, pelaku justru memperoleh akses karena korban secara tidak sadar memberikan informasi penting atau mengklik tautan berbahaya yang menyerupai layanan resmi," ujarnya pada Jumat (26/6).

Ia menambahkan, pelaku juga memanfaatkan iklan palsu di Facebook, manipulasi hasil pencarian (AI search engine repositioning), hingga menyamar sebagai Customer Support melalui WhatsApp.

"Di INDODAX sendiri kami tidak memiliki nomor WhatsApp Customer Support resmi. Seluruh layanan hanya dapat diakses melalui nomor telepon, email, maupun kanal resmi perusahaan. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri melakukan verifikasi bahkan riset mandiri (DYOR) dalam mencerna informasi sebelum mengambil keputusan," tambahnya.

Menurut Ledy, keamanan digital tidak lagi cukup mengandalkan teknologi canggih. Pengguna harus membangun kebiasaan melakukan verifikasi informasi, menjaga kerahasiaan data pribadi, dan memahami berbagai bentuk manipulasi digital sebagai bagian dari cyber hygiene.

"Platform dapat menyediakan berbagai sistem lapisan keamanan. Namun pada akhirnya, setiap keputusan tetap berada di tangan pengguna. Karena itu, kami selalu mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya dan selalu melakukan verifikasi sebelum memberikan informasi ataupun mengambil keputusan terkait aset digital," tutupnya.

INDODAX menegaskan peningkatan literasi keamanan digital harus berjalan beriringan dengan penguatan sistem keamanan. Edukasi mengenai social engineering, phishing, deepfake, dan penyalahgunaan identitas digital dinilai semakin penting agar masyarakat dapat bertransaksi aset kripto secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.


BERITA TERKAIT