Patrick Moore Dukung Nuklir, Eks Pendiri Greenpeace Nilai PLTN Solusi Krisis Iklim

Foto Ai hanya ilustrasi, DARI GREENPEACE KE NUKLIR.

Jakarta, Satuju.com - Patrick Moore dukung nuklir menjadi salah satu perubahan sikap yang menarik perhatian dalam perdebatan energi bersih dunia. Mantan pendiri Greenpeace itu kini menilai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan bagian penting dari solusi menghadapi perubahan iklim dan kebutuhan energi global.

Moore dikenal sebagai salah satu tokoh yang ikut mendirikan Greenpeace dan aktif dalam berbagai kampanye lingkungan, termasuk penolakan uji coba nuklir serta perlindungan mamalia laut. Namun, pandangannya berubah setelah mempelajari perkembangan teknologi nuklir dan tantangan krisis iklim.

Ia mengaku sempat memiliki kekhawatiran besar terhadap limbah radioaktif dan potensi kecelakaan reaktor.

"Saya selalu takut terhadap limbah nuklir. Saya berpikir bahwa jika berada terlalu dekat dengannya, saya bisa mati. Tetapi secara intelektual, saya juga menyadari bahwa teknologi ini sebenarnya dapat bekerja dengan aman," ungkap Moore dalam wawancara dengan Politico pada 2008.

Menurut Moore, meningkatnya ancaman perubahan iklim membuat dunia membutuhkan sumber energi rendah emisi yang mampu memasok listrik dalam skala besar. Dalam pandangannya, energi nuklir memenuhi kebutuhan tersebut karena menghasilkan listrik tanpa emisi karbon selama proses pembangkitan.

Setelah meninggalkan Greenpeace pada 1986, Moore secara aktif menyuarakan pentingnya energi nuklir sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih.

"Siapa pun yang melihat kebutuhan energi modern secara realistis akan memahami bahwa energi nuklir harus menjadi bagian penting dari solusi perubahan iklim," ujarnya.

Meski demikian, dukungan Moore terhadap PLTN tetap menuai perdebatan. Sejumlah organisasi lingkungan masih menolak pengembangan pembangkit nuklir dengan alasan biaya investasi yang besar, pengelolaan limbah radioaktif, serta risiko keselamatan.

Moore menilai sebagian penolakan terhadap nuklir masih dipengaruhi persepsi yang berkembang sejak era Perang Dingin. Ia menegaskan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir berbeda dengan senjata nuklir, baik dari sisi tujuan, teknologi, maupun sistem keamanannya.

Ia juga menilai berbagai insiden besar, seperti Three Mile Island, Chernobyl, dan Fukushima, telah menjadi pelajaran penting yang mendorong peningkatan standar keselamatan reaktor modern.

Perdebatan mengenai energi nuklir hingga kini masih berlangsung di berbagai negara. Namun, meningkatnya kebutuhan listrik bersih dan target penurunan emisi karbon membuat sejumlah negara kembali memasukkan PLTN dalam strategi bauran energi nasional.

Moore menegaskan bahwa dukungannya terhadap energi nuklir tidak bertentangan dengan komitmen menjaga lingkungan.

"Pertanyaannya bukan apakah kita menyukai energi nuklir atau tidak," kata Moore. "Pertanyaannya adalah bagaimana kita menyediakan energi yang cukup bagi masyarakat modern sekaligus mengurangi emisi karbon secara signifikan."

Pandangan tersebut juga dinilai relevan bagi Bangka Belitung yang memiliki potensi sumber daya strategis seperti timah dan logam tanah jarang. Di tengah persaingan industri berbasis energi bersih, daerah tersebut dinilai perlu membuka ruang diskusi yang lebih objektif mengenai pengembangan teknologi energi masa depan, termasuk energi nuklir, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, kajian ilmiah, dan kepentingan masyarakat.