Wahyudi El Panggabean: Jurnalis Harus Kuasai AI atau Tersingkir dari Industri Pers
Foto Ai hanya ilustrasi, KARYA BUKU WAHYUDI EL PANGGABEAN, (STRATEGI WARTAWAN).(photo/ist)
Wahyudi El Panggabean mengingatkan insan pers segera menguasai AI, meningkatkan kompetensi, dan menjaga etika jurnalistik di era digital.
PEKANBARU, Satuju.com - Jurnalis Hadapi Era AI menjadi perhatian serius di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Direktur Utama Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center (PJC), Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H., MT.BNSP., CPCT., mengingatkan seluruh insan pers di Indonesia agar segera meningkatkan kompetensi dan beradaptasi dengan perubahan teknologi demi menjaga keberlangsungan profesi.
Pesan tersebut disampaikan Wahyudi saat menerima kunjungan sejumlah pemimpin redaksi media di kediamannya di Pekanbaru, Rabu (1/7/2026).
Menurut Wahyudi, transformasi digital telah mengubah cara kerja jurnalistik secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran generative AI, kata dia, menjadi titik balik yang menuntut jurnalis memiliki kemampuan baru agar tetap relevan di tengah persaingan industri media.
"Kita sedang menghadapi titik balik sejarah pers. Saat ini telah terjadi pergeseran metodologi kerja yang sangat masif. Pilihan kita hanya dua: beradaptasi dengan belajar lebih giat untuk menguasai teknologi ini, atau menolak berubah lalu perlahan-lahan tergilas dan hilang dari industri," ujar tokoh yang telah lebih dari empat dekade berkecimpung di dunia jurnalistik tersebut.
Selain memimpin PJC, Wahyudi juga dikenal sebagai Anggota Dewan Kehormatan Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Pekanbaru serta penulis belasan buku di bidang jurnalistik.
Ia menjelaskan, jurnalis modern harus menguasai sejumlah keterampilan baru, mulai dari literasi AI melalui prompt engineering, teknik verifikasi informasi tingkat lanjut (advanced fact-checking), hingga pemahaman terhadap regulasi pers digital yang terus berkembang.
Namun, Wahyudi mengingatkan bahwa pemanfaatan AI tidak boleh mengabaikan prinsip-prinsip etika jurnalistik. Teknologi, menurutnya, hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat proses kerja, bukan menggantikan tanggung jawab seorang wartawan.
"AI mutlak diposisikan sebagai instrumen akselerasi riset, seperti merangkum dokumen hukum yang tebal atau memetakan big data. Namun, jurnalis tidak boleh malas. Hasil olahan mesin wajib diuji akurasinya karena AI rawan mengalami halusinasi informasi. Jangan sampai proses penyuntingan kehilangan prinsip human oversight atau pengawasan manusia," tegasnya.
Praktisi jurnalistik yang telah melatih ribuan wartawan selama lebih dari dua dekade itu menilai keunggulan utama jurnalis tetap berada pada kemampuan manusia yang tidak dimiliki teknologi.
Ia menegaskan bahwa AI tidak memiliki nurani, tidak memahami kode etik, dan tidak mampu membangun hubungan emosional dengan narasumber ketika melakukan peliputan maupun wawancara mendalam.
"Mesin tidak dibekali nurani, tidak memiliki kode etik, dan tidak mempunyai hunting instinct atau naluri berburu berita di lapangan. AI tidak akan pernah bisa membangun hubungan emosional yang intim dengan narasumber saat wawancara mendalam (in-depth interview). Keunggulan otentik manusia itulah yang harus kita pertajam," tambahnya.
Di akhir pertemuan, Wahyudi mengajak perusahaan pers, organisasi media, serta lembaga pendidikan jurnalistik untuk segera menyesuaikan kurikulum pelatihan dengan kebutuhan industri media saat ini.
Menurutnya, penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan integritas, profesionalisme, dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik agar pers tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai pilar keempat demokrasi di tengah era disrupsi digital.(PJC)
