Wahyudi El Panggabean: Jurnalisme Investigasi Ditentukan Kecerdasan dan Kualitas Berpikir Wartawan
Foto Ai hanya ilustrasi, WARTAWAN BERANI BERETIKA. (Wahyudi El Panggabean)
Jurnalisme investigasi membutuhkan kecerdasan, analisis tajam, dan integritas. Wahyudi El Panggabean menjelaskan kunci menghasilkan laporan berkualitas.
PEKANBARU, Satuju.com - Jurnalisme investigasi berkualitas wartawan ditentukan oleh kemampuan berpikir kritis, menyusun hipotesis, serta menguji setiap fakta sebelum dipublikasikan. Hal itu disampaikan Wahyudi El Panggabean saat mengulas pentingnya kecerdasan dan kualitas berpikir dalam menghasilkan karya jurnalistik investigatif.
Menurutnya, wartawan investigasi tidak cukup hanya mencatat peristiwa di lapangan. Seorang jurnalis harus mampu membaca pola yang tersembunyi, menghubungkan setiap data, lalu mengujinya dengan pendekatan deduktif agar menghasilkan laporan yang kuat.
"Tanpa kecerdasan memadukan bukti, investigasi akan rapuh. Laporan yang dihasilkan hanya menyentuh permukaan," ujarnya.
Ia menjelaskan, teori investigasi harus dibuktikan melalui penelusuran langsung di lapangan. Ketajaman analisis menjadi modal utama untuk mengungkap persoalan yang selama ini tertutup.
Sebagai contoh, Wahyudi menyoroti investigasi kasus pajak Asian Agri yang dikenal sebagai salah satu skandal pajak terbesar di Indonesia. Dalam kasus tersebut, wartawan tidak langsung menerima keterangan dari whistleblower, melainkan menguji setiap informasi melalui ribuan dokumen keuangan menggunakan metode akuntansi forensik.
Dari proses itu, modus rekayasa transfer pricing yang dilakukan secara terstruktur berhasil diungkap berdasarkan bukti yang kuat.
Selain itu, Wahyudi juga menyinggung pentingnya investigasi terhadap praktik perkebunan sawit ilegal di Riau. Menurutnya, penelusuran kasus lingkungan membutuhkan kemampuan membaca peta satelit, memverifikasi dokumen perizinan kawasan hutan, hingga kesiapan menghadapi berbagai bentuk intimidasi di lapangan.
"Dalam lingkup daerah, saya kerap mendorong pers untuk terjun langsung menginvestigasi kasus kebun sawit ilegal. Penelusuran lahan jutaan hektar ini membutuhkan ketajaman biologis dan ketahanan psikologis yang ekstra," katanya.
Ia menegaskan, tanpa kerangka berpikir yang matang, investigasi berpotensi gagal sebelum memperoleh bukti hukum yang sah.
Di akhir pemaparannya, Wahyudi menilai kompetensi, integritas, dan kedalaman pemahaman menjadi fondasi utama dalam menghasilkan produk jurnalistik yang berkualitas. Laporan investigasi, kata dia, harus mampu menyajikan fakta yang tidak terbantahkan serta mengungkap modus operandi secara terang.
"Menjaga pikiran tetap jernih adalah kewajiban moral. Pikiran yang sehat melahirkan karya yang menegakkan keadilan."(PJC)
