Bahasa Burung Zebra Finch Mulai Terpecahkan, Ilmuwan Susun Kamus Berisi 11 Kosakata Dasar
Foto Ai hanya ilustrasi, BURUNG BICARA 11 KATA.(poto/ist/Ahmadie Thaha)
Satuju.com - Bahasa burung zebra finch menjadi sorotan setelah seorang ilmuwan berhasil menyusun kamus berisi 11 panggilan dasar yang digunakan burung tersebut untuk berkomunikasi. Penelitian yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan machine learning itu dinilai menjadi langkah penting dalam memahami komunikasi antarmakhluk hidup.
Penelitian dilakukan oleh Dr. Julie Elie dari University of California, Berkeley. Atas riset yang berlangsung lebih dari 15 tahun tersebut, ia menerima penghargaan senilai 100 ribu dolar Amerika Serikat dari Coller-Dolittle Prize.
Melalui analisis ribuan rekaman suara, Julie Elie menemukan bahwa zebra finch memiliki sebelas jenis panggilan dengan fungsi yang berbeda. Mulai dari memanggil kelompok dari kejauhan, memberi tanda bahaya, meminta makanan, menjaga wilayah, hingga memperkuat ikatan dengan pasangan.
Selain panggilan dasar, burung jantan juga memiliki lagu yang lebih kompleks sebagai sarana menarik pasangan sekaligus menandai wilayah kekuasaannya.
Temuan ini memperlihatkan bahwa komunikasi burung tidak sekadar menghasilkan bunyi, tetapi memiliki hubungan yang konsisten antara suara, konteks, dan makna. Hasil klasifikasi tersebut kemudian diuji kembali melalui eksperimen perilaku untuk memastikan burung benar-benar memahami panggilan yang diperdengarkan.
Penelitian ini turut memperkuat berbagai temuan ilmiah sebelumnya mengenai kemampuan komunikasi hewan. Lumba-lumba diketahui memiliki siulan yang berfungsi layaknya nama pribadi, gajah menggunakan gelombang infrasonik untuk berkomunikasi dalam jarak jauh, sementara lebah menyampaikan lokasi sumber makanan melalui tarian.
Menurut penulis catatan, Ahmadie Thaha atau Cak AT, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia selama ini mungkin hanya gagal memahami bahasa alam.
Ia mengaitkan penelitian modern dengan kisah Nabi Sulaiman AS dalam Al-Qur'an yang diberi kemampuan memahami bahasa burung dan semut. Namun, ia menegaskan bahwa mukjizat para nabi dan penelitian ilmiah berada pada ranah yang berbeda.
"Sains hari ini sedang mengejar apa yang dahulu diberikan sebagai mukjizat. Tentu keduanya berada di wilayah yang berbeda. Mukjizat adalah karunia ilahi yang melampaui hukum biasa, sedangkan sains bekerja melalui pengamatan, eksperimen, dan verifikasi."
Menurutnya, kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, bukan menciptakan dunia baru, melainkan membantu manusia memahami dunia yang selama ini belum dipahami.
Penelitian tersebut juga memunculkan implikasi etis mengenai hubungan manusia dengan hewan. Jika hewan memiliki sistem komunikasi yang terstruktur, maka hubungan manusia dengan makhluk lain tidak lagi semata didasarkan pada nilai ekonomi, tetapi juga pada penghormatan terhadap kehidupan dan kesadaran mereka.
Coller-Dolittle Prize bahkan menyediakan hadiah utama sebesar 10 juta dolar AS bagi ilmuwan yang berhasil menciptakan komunikasi dua arah antara manusia dan hewan. Pendiri penghargaan itu, Jeremy Coller, meyakini perkembangan AI dapat mewujudkan komunikasi lintas spesies sebelum 2030.
Di akhir tulisannya, Ahmadie Thaha menyampaikan bahwa tantangan terbesar manusia bukan sekadar memahami bahasa hewan, melainkan belajar mendengar sesama manusia.
"Sains hari ini sedang mengejar apa yang dahulu diberikan sebagai mukjizat. Tentu keduanya berada di wilayah yang berbeda. Mukjizat adalah karunia ilahi yang melampaui hukum biasa, sedangkan sains bekerja melalui pengamatan, eksperimen, dan verifikasi."
Ia menutup refleksinya dengan kalimat bahwa alam semesta tidak pernah benar-benar sunyi. Selama ini burung mungkin telah berbicara, sementara manusialah yang baru mulai belajar mendengarkan.
