Marc Marquez: Musuh Terbesar Saya Adalah Diri Sendiri, Kini Saya Harus Belajar Menahan Naluri

Marc Marquez

Jakarta, Satuju.com – Marc Marquez mengungkapkan bahwa lawan terberat sepanjang kariernya bukanlah rival-rival hebat di lintasan, melainkan dirinya sendiri. Pengakuan itu disampaikan juara dunia sembilan kali tersebut saat menghadiri World Ducati Week di Misano, Italia.

Menurut Marquez, karakter agresif yang selama ini menjadi identitasnya di MotoGP merupakan pedang bermata dua. Naluri untuk selalu membalap di batas kemampuan telah membawanya meraih banyak gelar juara, tetapi di saat yang sama juga menjadi penyebab berbagai kecelakaan dan cedera serius yang pernah dialaminya.

"Itu memang menjadi salah satu kelemahan dalam karier olahraga saya. Saya selalu masuk ke tikungan tanpa melihat risiko dan batasnya. Saya baru menemukan batasnya setelah saya terjatuh, bukan sebelumnya," ujar pembalap berjuluk Baby Alien tersebut.

Memasuki usia 33 tahun dan setelah beberapa kali menjalani operasi akibat cedera berat, Marquez mengakui dirinya kini tidak lagi bisa mengandalkan insting seperti saat masih berada di puncak performa fisik.

"Sedikit demi sedikit saya mulai bisa mengendalikannya. Kalau saya membalap mengikuti naluri alami seperti dulu, tubuh saya sudah tidak mampu mengikutinya," katanya.

Perubahan itu, menurut Marquez, terlihat jelas sepanjang musim 2026. Ia mengaku lebih sering mengalami kecelakaan pada sesi latihan bebas pertama (FP1), sesuatu yang jarang terjadi pada masa-masa sebelumnya.

"Saya keluar dari pit berdasarkan naluri, tetapi tubuh saya tidak merespons seperti yang saya inginkan. Karena itu sepanjang akhir pekan saya mencoba menemukan cara membalap yang tetap cepat tanpa hanya mengandalkan insting," jelas rider Ducati Lenovo tersebut.

Sulit Mengulang Penyelamatan Spektakuler

Marquez juga mengakui era penyelamatan spektakuler (save) yang dulu menjadi ciri khasnya kini hampir mustahil dilakukan. Perkembangan teknologi aerodinamika MotoGP membuat motor jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.

Menurutnya, ketika sudut kemiringan motor sudah mencapai sekitar 62 derajat, komponen aerodinamika mulai bergesekan dengan aspal sehingga kedua ban kehilangan traksi.

"Dulu motor sangat tidak stabil. Dengan Honda saya harus selalu membalap di batas kemampuan. Karena itu saya bisa menyelamatkan motor menggunakan kaki, bahu, atau tenaga tubuh. Sekarang kondisinya sudah berbeda," ungkapnya.

Operasi 2022 Jauh Lebih Berat

Marquez juga membandingkan operasi besar yang dijalaninya pada 2022 dengan prosedur medis terakhir usai GP Prancis.

Ia menegaskan operasi empat tahun lalu jauh lebih berat karena lengan kanannya mengalami deformasi hingga 34 derajat sehingga tidak dapat berfungsi secara normal.

Sementara operasi terakhir dilakukan untuk mengatasi gangguan saraf yang muncul setelah kecelakaan di MotoGP Indonesia.

"Masalah itu hanya muncul saat saya berada di atas motor. Di rumah saya merasa normal. Operasi terakhir jauh lebih kecil dan sejauh ini saya hanya merasakan sedikit peningkatan," katanya.

Gugup Saat Pertama Kali Mengendarai Ducati

Marquez juga mengenang momen pertamanya mengendarai Ducati Desmosedici setelah menghabiskan 12 musim bersama Honda. Di balik statusnya sebagai salah satu pembalap terbaik MotoGP, ia ternyata sempat dihantui keraguan.

"Saya benar-benar gugup sebelum tes pertama. Saya bahkan mengatakan kepada Michele Masini, Alex Marquez, dan Nadia Padovani bahwa saya tidak yakin semuanya akan berjalan baik," ujarnya.

Namun rasa cemas itu langsung hilang begitu keluar dari garasi.

"Setelah satu putaran saya berpikir, pada akhirnya ini hanya dua roda dan sebuah motor. Kalau motornya bagus, semuanya akan berjalan dengan baik."

Rendah Hati Meski Berkali-kali Juara Dunia

Meski telah mengoleksi sembilan gelar juara dunia dan lebih dari 100 kemenangan di semua kelas balap, Marquez mengaku tidak pernah merasa dirinya lebih berbakat dibanding pembalap lain.

Sebaliknya, ia selalu menganggap para rivalnya lebih baik sehingga memaksanya terus bekerja keras.

"Saya tidak pernah berpikir memiliki bakat lebih besar. Saya selalu menganggap rival saya lebih baik. Kalau merasa diri yang terbaik, kita akan mudah terlena," katanya.

Meski demikian, ia mengakui ada beberapa momen luar biasa sepanjang kariernya, salah satunya saat menjalani tes MotoGP di Austin pada 2013.

Saat itu ia mampu mencatat waktu 1,5 detik lebih cepat dibanding Dani Pedrosa, Valentino Rossi, dan Jorge Lorenzo.

"Mereka sampai bertanya apakah saya memotong tikungan. Saya bilang tidak. Hari itu semuanya terasa berjalan sangat mudah," kenangnya.

Rossi Paling Cerdas, Lorenzo Paling Konsisten

Dalam kesempatan tersebut, Marquez juga memberikan penghormatan kepada para rival terbesarnya.

Ia menyebut Jorge Lorenzo sebagai pembalap dengan konsistensi paling luar biasa karena mampu menjaga selisih waktu putaran yang sangat kecil sepanjang balapan.

Sementara Dani Pedrosa dinilainya sebagai talenta murni yang mampu mengendarai motor MotoGP dengan postur tubuh kecil, sesuatu yang menurutnya hanya bisa dilakukan pembalap berbakat.

Untuk Casey Stoner, Marquez memuji kemampuannya langsung tampil cepat hanya dalam beberapa lap pertama.

Sedangkan Valentino Rossi disebutnya sebagai pembalap paling cerdas dalam membaca jalannya balapan.

"Sering kali dia tidak terlihat istimewa sepanjang akhir pekan. Tapi ketika balapan hari Minggu, dia mampu mengelola lomba seperti tidak ada pembalap lain yang bisa melakukannya. Dia bisa menang tanpa menjadi yang tercepat, dan ketika memang tercepat dia tahu bagaimana mengendalikan situasi dengan sempurna," tutur Marquez.

Menurutnya, kekuatan terbesar Rossi bukan semata kecepatan satu putaran, melainkan kecerdasan membaca strategi, mengelola ban, menentukan waktu menyerang, hingga mengambil keputusan terbaik menuju garis finis.

Tetap Berpegang pada Karakter

Ketika diminta mendeskripsikan dirinya sendiri, Marquez menegaskan bahwa karakter merupakan identitas yang tidak pernah berubah sepanjang kariernya.

"Saya selalu memiliki karakter dan keyakinan terhadap diri sendiri. Saya akan tetap berpegang pada itu sampai akhir."

Hingga seri ke-10 MotoGP 2026, Marquez berada di posisi kelima klasemen sementara dengan koleksi 153 poin, terpaut 40 poin dari pemuncak klasemen Jorge Martin. Sementara rekan setimnya di Ducati Lenovo, Francesco "Pecco" Bagnaia, berada di posisi kedelapan dengan raihan 130 poin.


BERITA TERKAIT