Musikalisasi Syair Datuk Laksamana Memukau Batam, Rumah Budaya Kacip Tembaga Tuai Apresiasi
Kenduri Seni Melayu (KSM) Kota Batam 2026.(poto/ust)
Musikalisasi Syair Datuk Laksamana karya Rumah Budaya Kacip Tembaga memukau penonton Kenduri Seni Melayu Batam 2026 dan menuai apresiasi.
BATAM, Satuju.com - Musikalisasi Syair Datuk Laksamana menjadi salah satu penampilan yang paling menyita perhatian pada malam keempat Kenduri Seni Melayu (KSM) Kota Batam 2026. Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning berhasil menghadirkan pertunjukan teatrikal yang memadukan sastra Melayu, musik, teater, dan pencak silat dalam satu panggung megah di Dataran Engku Putri, Batam Centre, Minggu (5/7/2026) malam.
Penampilan tersebut membawa penonton menyelami perjalanan sejarah Datuk Laksamana Raja Dilaut I hingga IV melalui perpaduan syair klasik, tata artistik, tata cahaya, serta komposisi musik yang dikemas secara modern tanpa meninggalkan nilai budaya Melayu.
Pertunjukan yang dipersiapkan selama dua bulan itu disutradarai oleh seniman dan budayawan Riau, Datuk Zalfandri Zainal, M.Pd atau Mat Rock Sejangat. Selain menjadi sutradara, ia juga tampil membacakan syair dengan karakter vokal khas Melayu yang memperkuat suasana dramatik sepanjang pertunjukan.
Nuansa musikal dipimpin Ridho Fatwandi, S.Pd bersama Ibenk Arrekan, Agus, dan para musisi lainnya. Aransemen musik yang mereka tampilkan menyatu dengan alur cerita sehingga setiap adegan terasa lebih hidup dan emosional.
Tokoh Datuk Laksamana Raja Dilaut diperankan secara bergantian oleh Wawan Irnawan sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut I, Erwin Syah Putra sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut II, Alfero sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut III, serta Supriandy atau Dedek Minah sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut IV.
Pergantian tokoh dalam setiap babak menggambarkan kesinambungan kepemimpinan para Datuk Laksamana dalam menjaga marwah negeri Melayu di kawasan Selat Malaka.
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian penonton adalah atraksi pencak silat Melayu yang mengiringi perjalanan setiap tokoh. Koreografi bunga silat tampil selaras dengan lantunan syair dan iringan musik sehingga menghadirkan pertunjukan yang kaya makna.
Penata silat, Tuan Guru Syaiful Bahri bin Rahman dari Dompas, Sungai Pakning, merancang setiap gerakan agar tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga merepresentasikan nilai kepahlawanan, adab, dan filosofi budaya Melayu.
Penampilan Rumah Budaya Kacip Tembaga mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah daerah dan pegiat budaya.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Samson Rambah Pasir, menilai pertunjukan tersebut berhasil mengangkat syair Melayu ke dalam format seni pertunjukan modern.
«"Pertunjukan Kacip Tembaga sangat berkelas, menunjukkan bahwa syair Melayu bukan sekadar warisan sastra, tetapi dapat dihidupkan kembali menjadi pertunjukan panggung yang modern tanpa kehilangan ruh budayanya. Garapannya matang, artistiknya kuat, dan mampu menyentuh emosi penonton."»
Apresiasi juga disampaikan Ketua Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kota Dumai, Datuk Timo Kipda, SH.
«"Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning telah memperlihatkan bagaimana warisan budaya Melayu dapat dipentaskan dengan kualitas tinggi. Ini bukan hanya hiburan, tetapi juga pendidikan budaya yang patut diapresiasi dan terus dikembangkan agar dikenal lebih luas oleh generasi muda."»
Keberhasilan pertunjukan tersebut merupakan hasil latihan intensif selama dua bulan yang melibatkan pemain, musisi, penata artistik, hingga seluruh kru produksi. Proses panjang itu terbayar dengan tepuk tangan meriah dari para tamu undangan, seniman, budayawan, dan masyarakat yang memadati arena Kenduri Seni Melayu Batam 2026.
Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning dikenal sebagai wadah pelestarian seni dan budaya Melayu Riau Pesisir. Selain rutin menggelar pementasan, lembaga ini aktif membina generasi muda, melestarikan sastra Melayu, permainan rakyat, hingga mewakili Kabupaten Bengkalis dalam berbagai festival budaya tingkat daerah maupun nasional.
Organisasi tersebut dipimpin Ketua Datuk Erwin Syah Putra, S.Psi, didampingi Sekretaris Datuk Supriandy, S.Pd, Bendahara Datuk Wawan Irnawan, SE, Timbalan I Datuk Alfero, serta Timbalan II Andhika. Sementara Dewan Pendiri dijabat Datuk Zalfandri Zainal, dengan Dewan Penasehat terdiri atas Datuk Ridho Fatwandi, Datuk Ibenk Arrekan, dan Datuk Ephan Arrahman.
Melalui pementasan ini, Rumah Budaya Kacip Tembaga kembali menunjukkan bahwa warisan sastra Melayu mampu dikemas menjadi pertunjukan panggung yang relevan, menarik, dan tetap menjaga nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.
