Menjual Romantasi

MENJUAL RAMANTASI.(poto/ist/Ahmadie Thaha)

Satuju.com - Fenomena toko buku romantasy di Oxford, Inggris, menjadi sorotan setelah ratusan pembaca rela mengantre sejak dini hari demi menghadiri pembukaan toko buku yang hanya menjual novel bergenre romantasy. Peristiwa ini dinilai menjadi bukti bahwa minat membaca masih bertahan di tengah dominasi media digital.

Toko bernama Bad Girl Books tersebut mengusung konsep yang berbeda dengan toko buku pada umumnya. Seluruh koleksinya berfokus pada genre romantasy, yakni perpaduan antara kisah roman (romance) dan fantasi (fantasy).

Penulis Ahmadie Thaha atau Cak AT menilai fenomena tersebut memperlihatkan bahwa pembaca saat ini tidak sekadar membeli buku. Mereka juga mencari pengalaman, ruang berinteraksi, dan rasa memiliki terhadap komunitas dengan minat yang sama.

Menurutnya, keberhasilan toko tersebut bukan hanya karena menjual buku, melainkan karena mampu membangun komunitas pembaca yang sebelumnya lebih banyak bertemu melalui platform digital seperti BookTok, Instagram, hingga Reddit.

"Orang ternyata tidak hanya membeli buku. Mereka membeli pengalaman, imajinasi, dan rasa memiliki terhadap sebuah komunitas," tulis Ahmadie Thaha dalam catatannya bertajuk Menjual Romantasi, Minggu (12/7/2026).

Ia menjelaskan, nama Bad Girl Books juga dipilih sebagai strategi pemasaran. Dalam budaya populer Barat, istilah bad girl lebih menggambarkan sosok perempuan yang berani, mandiri, dan tidak terikat pada stereotip, sehingga mudah menarik perhatian publik.

Di tengah prediksi bahwa toko buku fisik akan tergerus perkembangan teknologi, kehadiran toko dengan konsep yang sangat spesifik justru menunjukkan sebaliknya. Strategi menyasar pembaca dengan minat tertentu dinilai mampu menciptakan loyalitas yang kuat.

Ahmadie juga mengaitkan fenomena tersebut dengan tradisi sastra Indonesia yang telah lama mengenal berbagai genre roman. Nama-nama seperti Marga T., Mira W., dan Kho Ping Hoo pernah memiliki basis pembaca yang sangat loyal.

Ia menilai karya sastra Indonesia, terutama Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Buya HAMKA, menjadi contoh bahwa roman bukan sekadar kisah cinta. Novel tersebut juga menyajikan kritik sosial, nilai kemanusiaan, serta pergulatan antara adat, agama, dan keadilan.

Menurutnya, perkembangan genre roman di Indonesia juga sangat beragam, mulai dari roman religius, sejarah, remaja, psikologis hingga karya yang mengangkat tema seksualitas melalui pendekatan sastra.

Sementara itu, genre romantasy di Barat juga dinilai memiliki spektrum yang luas. Sebagian karya memang menghadirkan adegan dewasa secara eksplisit, namun banyak pula yang lebih menonjolkan pembangunan dunia imajinatif (world-building), konflik antartokoh, dan petualangan.

Karena itu, Ahmadie menilai tidak tepat jika seluruh karya romantasy disamakan dengan bacaan vulgar. Kualitas setiap novel tetap bergantung pada cara penulis membangun cerita dan menyampaikan gagasannya.

Fenomena di Oxford juga dinilai memberikan pelajaran bagi industri buku di Indonesia. Dengan ribuan penulis, ratusan penerbit, serta tradisi sastra yang panjang, Indonesia dinilai memiliki potensi membangun toko buku berbasis komunitas sesuai minat pembaca.

Ia menyebut toko buku maupun perpustakaan dapat berkembang menjadi ruang perjumpaan, diskusi, dan pertukaran gagasan, bukan hanya tempat transaksi jual beli buku.

"Mungkin suatu hari nanti akan lahir toko yang khusus menjual sastra klasik Indonesia, atau toko yang seluruh raknya berisi sejarah Nusantara, kitab-kitab keislaman, buku anak, atau novel detektif lokal," tulisnya.

Menutup catatannya, Ahmadie mengingatkan bahwa buku memiliki nilai yang melampaui fungsi sebagai barang dagangan.

"Barangkali itulah yang membedakan buku dengan barang lain. Setelah dibeli, sepatu akan aus, pakaian akan usang, dan gawai akan tergantikan model baru. Tetapi sebuah buku yang baik, seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, tetap sanggup mengetuk hati pembacanya, bahkan setelah puluhan tahun berlalu."

Ia menegaskan, toko buku sejatinya tidak hanya menjual kertas dan tinta, melainkan membuka kemungkinan agar seseorang pulang dengan wawasan yang lebih luas dan hati yang lebih peka.


BERITA TERKAIT