Film The Odyssey Christopher Nolan Hidupkan Kembali Warisan Homer Setelah 3.000 Tahun
Poto Ai hanya ilustrasi, HOMER SETELAH TIGA RIBU TAHUN.(poto/ist/Ahmadie Thaha)
Film The Odyssey karya Christopher Nolan kembali mengangkat epos Homer ke layar lebar, membuktikan kisah berusia 3.000 tahun tetap relevan hingga kini.
Satuju.com - Film The Odyssey Christopher Nolan menjadi sorotan dunia perfilman setelah resmi tayang di bioskop Indonesia. Adaptasi epos klasik karya Homer itu tidak hanya menuai pujian kritikus internasional, tetapi juga kembali mengangkat pengaruh salah satu karya sastra paling berpengaruh sepanjang sejarah.
Disutradarai Christopher Nolan dengan nilai produksi sekitar US$250 juta atau setara Rp4,5 triliun, The Odyssey menghadirkan kisah perjalanan Odysseus yang telah bertahan hampir tiga milenium. Besarnya anggaran produksi menunjukkan bagaimana sebuah karya sastra kuno masih memiliki daya tarik kuat bagi industri film modern.
Sejumlah media internasional seperti The Guardian, The Independent, The Telegraph, dan The Times memberikan penilaian tertinggi terhadap film tersebut. Bahkan Kevin Maher dari The Times menyebutnya, "A masterpiece in every way." Sementara kritikus The New York Times, Manohla Dargis, menilai Nolan berhasil mengajak penonton untuk "berani bermimpi lebih besar".
Meski sejumlah kritik muncul terkait penyederhanaan karakter perempuan dan beberapa dialog yang dianggap modern, mayoritas ulasan menempatkan The Odyssey sebagai salah satu pencapaian terbaik Christopher Nolan dan diprediksi menjadi kandidat kuat pada ajang Academy Awards mendatang.
Di balik kesuksesan film tersebut, perhatian kembali tertuju kepada Homer, sosok yang diyakini sebagai pencipta dua epos besar Yunani, yakni Iliad dan Odyssey. Hingga kini, identitas Homer masih menjadi perdebatan akademik. Sebagian sejarawan meyakini ia merupakan penyair Yunani abad ke-8 sebelum Masehi, sementara pendapat lain menyebut "Homer" hanyalah nama kolektif tradisi penyair lisan pada masa itu.
Iliad mengisahkan kemarahan Achilles pada akhir Perang Troya, sedangkan Odyssey mengikuti perjalanan panjang Odysseus selama sepuluh tahun untuk kembali ke kerajaannya di Ithaca setelah perang usai. Dalam pengembaraannya, Odysseus menghadapi berbagai rintangan, mulai dari Cyclops Polyphemus, penyihir Circe, Sirens, Scylla, Charybdis hingga nimfa Calypso.
Selama berabad-abad, kedua epos tersebut menjadi sumber inspirasi berbagai karya sastra, film, komik, permainan video hingga kajian filsafat. Tokoh-tokohnya seperti Achilles, Hector, Penelope, Helen, maupun Odysseus terus hadir dalam berbagai interpretasi modern.
Sebelum adaptasi Nolan, kisah Homer telah beberapa kali diangkat ke layar lebar, di antaranya Ulysses (1954), miniseri The Odyssey (1997), serta Troy (2004) yang dibintangi Brad Pitt sebagai Achilles. Di dunia sastra, karya-karya seperti Ulysses karya James Joyce, The Penelopiad karya Margaret Atwood, hingga Circe karya Madeline Miller juga lahir dari inspirasi epos tersebut.
Pengaruh Homer juga meluas ke dunia filsafat. Plato, Aristoteles, Friedrich Nietzsche, Simone Weil, Martha Nussbaum hingga Alasdair MacIntyre menggunakan kisah-kisah Homer sebagai rujukan dalam membahas etika, kepemimpinan, tragedi, dan hakikat manusia.
Di Indonesia, karya Homer memang belum memiliki pembaca seluas novel klasik lain seperti Shakespeare atau Tolstoy. Namun masyarakat sebenarnya telah mengenal banyak unsur dari kisah tersebut melalui film Troy, gim Assassin's Creed Odyssey, serial mitologi Yunani, hingga berbagai budaya populer yang mengangkat tokoh Achilles maupun Kuda Troya.
Penulis Ahmadie Thaha atau Cak AT menilai kekuatan sebuah karya klasik terletak pada kemampuannya terus melahirkan bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan inti cerita.
"Masterpiece tidak menuntut kesetiaan pada bentuk. Ia hanya meminta agar jantung ceritanya tetap berdetak," tulisnya.
Menurutnya, karya besar tidak bertahan karena sekadar diajarkan di ruang kelas, melainkan karena terus ditafsirkan ulang oleh setiap generasi sesuai zamannya.
Melalui The Odyssey, Christopher Nolan dinilai kembali membuka ruang bagi generasi baru untuk mengenal Homer. Adaptasi tersebut menjadi bukti bahwa kisah yang lahir hampir 3.000 tahun lalu masih mampu berbicara kepada penonton modern dan tetap relevan di tengah perkembangan teknologi perfilman.
