REZEKI YANG MENULAR
Ekonomi Piala Dunia 2026 Bernilai Triliunan, Rezeki Mengalir hingga Warung Kopi Indonesia
Poto Ai hanya ilustrasi, REZEKI YANG MENULAR.(poto/ist/Ahmadie Thaha)
Satuju.com - Ekonomi Piala Dunia 2026 menjadi sorotan setelah turnamen terbesar sepak bola dunia itu resmi berakhir dengan kemenangan Spanyol atas Argentina 1-0 pada partai final di New York New Jersey Stadium, Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Di balik perebutan trofi, ajang empat tahunan ini menghasilkan perputaran uang bernilai miliaran dolar yang menjangkau berbagai sektor usaha hingga ke Indonesia.
Gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-106 memastikan Spanyol mengangkat trofi juara dunia. Namun, berakhirnya pertandingan tidak menghentikan roda ekonomi yang telah berputar sejak turnamen dimulai pada 11 Juni 2026.
Dalam catatannya berjudul Rezeki yang Menular, Ahmadie Thaha atau Cak AT menjelaskan bahwa Piala Dunia telah berkembang menjadi mesin ekonomi global yang melibatkan industri penyiaran, pariwisata, transportasi, teknologi, kuliner, hingga pelaku UMKM.
Turnamen edisi 2026 menjadi yang terbesar sepanjang sejarah dengan diikuti 48 negara, memainkan 104 pertandingan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Format baru itu membuat jumlah laga bertambah sehingga membuka peluang pendapatan lebih besar dari penjualan tiket, hak siar, sponsor, hotel, penerbangan, hingga konsumsi masyarakat.
FIFA menyiapkan total hadiah sebesar US$871 juta untuk seluruh peserta, sementara tim juara memperoleh US$50 juta. Dana tersebut disalurkan kepada federasi sepak bola masing-masing negara sesuai capaian mereka selama turnamen.
Di luar hadiah resmi, pemasukan terbesar justru berasal dari sektor komersial. Tiket pertandingan final dilaporkan mencapai puluhan ribu dolar Amerika Serikat, sementara paket premium dan layanan hospitality bernilai hingga jutaan dolar.
Hak siar televisi, iklan, sponsor global, platform digital, serta industri teknologi juga memperoleh keuntungan besar dari perhatian miliaran penonton di seluruh dunia. Final Piala Dunia diperkirakan menjadi salah satu acara olahraga dengan jangkauan penonton terbesar secara global.
Menurut Cak AT, perhatian publik kini menjadi komoditas paling berharga dalam industri olahraga modern.
"Yang bermain memang 22 orang, tetapi yang dapat memperoleh rezeki bisa berjuta-juta orang."
Efek ekonomi tersebut juga dirasakan Indonesia. Meski Timnas Indonesia belum tampil di Piala Dunia 2026, aktivitas masyarakat selama turnamen ikut menggerakkan sektor ekonomi domestik.
Acara nonton bareng (nobar), peningkatan penjualan makanan dan minuman, paket internet, jersey, hingga konten digital memberikan tambahan pendapatan bagi pelaku usaha kecil.
Berdasarkan data yang dikutip dalam tulisan tersebut, survei Lokadata menunjukkan sekitar 78,1 persen masyarakat Indonesia mengikuti kegiatan nobar setidaknya sekali selama Piala Dunia. Rata-rata pengeluaran mencapai Rp51 ribu per orang untuk setiap kegiatan nobar.
Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan aktivitas tersebut menggerakkan perputaran uang hingga sekitar Rp5,03 triliun, dengan sekitar Rp2,4 triliun dinikmati sektor hotel, restoran, dan kafe.
Fenomena itu memperlihatkan bahwa satu pertandingan sepak bola mampu menciptakan efek berganda terhadap perekonomian. Mulai dari pemilik warung kopi, pedagang gorengan, penyedia layar proyektor, jasa parkir, pengemudi transportasi daring, hingga pelaku UMKM memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas masyarakat selama turnamen berlangsung.
Cak AT menilai Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi pasar bagi industri sepak bola dunia, tetapi juga mulai membangun ekosistem ekonomi olahraga yang lebih kuat. Menurutnya, pengembangan liga profesional, industri merchandise, sports science, teknologi olahraga, hingga pemberdayaan UMKM dapat menjadi bagian penting dalam rantai ekonomi sepak bola nasional.
Ia menutup tulisannya dengan pesan bahwa manfaat terbesar Piala Dunia bukan hanya dirasakan para pemain maupun FIFA, melainkan juga masyarakat kecil yang memperoleh tambahan penghasilan selama pesta sepak bola dunia berlangsung.
"Sebagian tercatat dalam laporan keuangan miliaran dolar. Sebagian lagi hanya masuk ke sebuah kaleng kecil di samping gerobak gorengan sebagai beberapa lembar uang tambahan. Yang pertama disebut pendapatan. Yang kedua mungkin tidak pernah masuk statistik. Tetapi bagi seseorang yang malam itu membawanya pulang untuk membeli beras dan susu anaknya, namanya jauh lebih sederhana: rezeki yang menular."
