Harga Bitcoin Tembus US$65.500, INDODAX Ungkap Tiga Faktor yang Menggerakkan Pasar Kripto
Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian dan ilustrasi Bitcoin.(poto/ist)
JAKARTA, Satuju.com - Harga Bitcoin hari ini kembali mencuri perhatian setelah menembus level US$65.500, tertinggi dalam sekitar lima pekan terakhir. Kenaikan tersebut turut mengangkat sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar dan memperkuat optimisme pelaku pasar terhadap prospek industri aset digital.
Selain Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH) diperdagangkan di kisaran US$1.880, XRP sekitar US$1,11, sementara Solana (SOL) berada di level US$75,80. Penguatan ini mencerminkan membaiknya sentimen pasar yang didorong perkembangan regulasi, meningkatnya minat investor institusi, serta perhatian terhadap agenda ekonomi global.
Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, mengatakan pembentukan harga aset kripto kini semakin dipengaruhi berbagai faktor fundamental, mulai dari kebijakan ekonomi hingga perkembangan regulasi dan partisipasi investor institusi.
“Penguatan yang terjadi tidak hanya terlihat pada Bitcoin, tetapi juga mulai diikuti oleh sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar. Hal tersebut menunjukkan bahwa sentimen positif mulai dirasakan oleh pasar secara lebih luas. Namun demikian, investor tetap perlu mencermati berbagai faktor fundamental yang dapat mempengaruhi volatilitas pasar ke depan,” ujarnya.
Menurut Aloysia, salah satu sentimen utama datang dari perkembangan regulasi aset kripto di Amerika Serikat. Pembahasan CLARITY Act yang kembali menunjukkan kemajuan dinilai memberi kepastian hukum bagi industri aset digital sekaligus meningkatkan kepercayaan pelaku pasar.
Regulasi yang lebih jelas di negara dengan pasar keuangan terbesar dunia tersebut diperkirakan mampu mendorong partisipasi investor institusi dalam jangka panjang dan menciptakan ekosistem kripto yang lebih sehat.
Di sisi lain, arus dana investor institusi juga masih menunjukkan tren positif. Berdasarkan data SoSoValue, Spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat mencatat net inflow sekitar US$430 juta selama perdagangan 20–21 Juli 2026. Aliran dana tersebut menjadi salah satu indikator bahwa permintaan terhadap eksposur Bitcoin masih tetap kuat.
Pelaku pasar juga tengah menanti sejumlah agenda ekonomi penting, seperti keputusan suku bunga Federal Reserve serta laporan keuangan perusahaan teknologi besar Amerika Serikat, termasuk Alphabet, Tesla, dan Intel. Hasil dari agenda tersebut diperkirakan akan memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk pasar kripto.
Aloysia mengingatkan bahwa pasar aset digital kini semakin terintegrasi dengan kondisi ekonomi global. Karena itu, investor tidak sebaiknya hanya berfokus pada kenaikan harga jangka pendek.
“Dalam kondisi pasar seperti saat ini, investor perlu memahami bahwa pergerakan aset kripto dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Karena itu, penting untuk tetap mengedepankan prinsip Do Your Own Research (DYOR), memahami profil risiko masing-masing aset, serta berinvestasi sesuai tujuan keuangan jangka panjang,” tutupnya.
Sebagai bursa kripto yang telah teregulasi di Indonesia, INDODAX menyatakan terus memperkuat ekosistem investasi aset digital yang aman, transparan, dan bertanggung jawab, sekaligus meningkatkan literasi agar masyarakat dapat mengambil keputusan investasi secara bijak.
