Album Debut Yaqin “Kebiasaan” Ajak Pendengar Berdamai dengan Kenangan
Yaqin.(poto/ist/Ysf)
MALANG, Satuju.com - Album debut Yaqin, “Kebiasaan”, resmi hadir di seluruh platform streaming musik digital sejak 12 Juni 2026. Musisi asal Malang itu merangkum kisah personal, kehilangan, cinta, hingga perjalanan menuju kedewasaan dalam delapan lagu.
“Kebiasaan” menjadi penanda babak baru perjalanan Yaqin setelah sebelumnya aktif merilis sejumlah single dan terlibat dalam proyek musik Sorai Seroja.
Alih-alih mengejar tren musik yang bergerak cepat mengikuti algoritma media sosial, Yaqin memilih pendekatan yang lebih reflektif. Ia mengolah pengalaman hidup dan kebiasaan sederhana menjadi rangkaian cerita yang dekat dengan keseharian pendengar.
Album tersebut membawa nuansa retro pop, jazz, dan sentuhan city pop. Perpaduan itu memberikan warna hangat pada cerita tentang kegagalan, kisah cinta, kehilangan, serta pencarian arah hidup.
“Kebiasaan” Jadi Memoar Musikal
Delapan lagu dalam album “Kebiasaan” sekaligus merekam pengalaman Yaqin saat merantau demi mengejar mimpi di industri musik.
Ia menggambarkan kehidupan kota metropolitan melalui suasana lampu jalan, percakapan yang tidak selesai, hingga kesepian yang kerap hadir di tengah keramaian.
Lirik yang sederhana dan personal menjadi kekuatan album ini. Yaqin tidak membangun cerita dengan bahasa yang rumit, tetapi menyuguhkan pengalaman yang mudah dikenali pendengar, terutama mereka yang pernah menghadapi kehilangan, kegagalan, atau fase mencari kembali arah kehidupan.
Pendekatan tersebut membuat “Kebiasaan” tidak hanya menjadi kumpulan lagu, tetapi juga semacam catatan perjalanan seorang musisi dalam memahami dirinya sendiri.
“Purnama” Jadi Lagu Utama
Dari delapan lagu yang ditawarkan, Yaqin memilih “Purnama” sebagai lagu utama. Lagu tersebut bercerita tentang cinta yang tidak sampai dan mengambil inspirasi dari kisah nyata seorang teman.
Secara musikal dan emosional, “Purnama” juga mendapat pengaruh dari lagu “Bunga Terakhir” karya Bebi Romeo.
Melalui lagu tersebut, Yaqin menyampaikan rasa sakit akibat kehilangan dengan cara yang lembut. Kesedihan tidak ditampilkan secara berlebihan, melainkan melalui lirik dan aransemen yang memberi ruang bagi pendengar untuk merasakan emosinya sendiri.
Dibangun Bersama Tim Produksi
Proses produksi “Kebiasaan” melibatkan sejumlah nama yang membantu menerjemahkan pengalaman personal Yaqin ke dalam bentuk musik.
Bayu Aji berperan sebagai road manager, Decky Anugrah sebagai produser, sementara Daniel Silalahi mengisi permainan gitar.
Kolaborasi tersebut turut membentuk karakter musik “Kebiasaan” yang membawa sentuhan retro khas era 1980-an, tetapi tetap dikemas agar relevan dengan pendengar masa kini.
Bagi Yaqin, kekuatan album ini terletak pada kemampuannya menjadi teman bagi mereka yang sedang melewati masa sulit.
“Kebiasaan” hadir untuk menemani pendengar yang merasa gundah, lelah, maupun kesepian di tengah kehidupan kota yang terus bergerak.
Pada akhirnya, album debut tersebut menjadi ruang bagi Yaqin untuk mengenang sekaligus berdamai dengan berbagai pengalaman. Ia mengubah luka, kehilangan, dan perjalanan hidup menjadi delapan lagu yang hangat dan reflektif.
Melalui “Kebiasaan”, Yaqin menunjukkan bahwa sebuah album dapat menjadi lebih dari sekadar kumpulan lagu. Ia bisa menjadi tempat untuk menyimpan kenangan, membaca kembali perjalanan hidup, dan menemukan cara baru untuk berdamai dengan masa lalu.(Ysf)
