John L Esposito Wafat, Barat Kehilangan Jembatan Memahami Islam

Poto Ai hanya ilustrasi, SANG PEMBUKA JENDELA ISLAM.(poto/ist/Ahmadie Tahaha)

Satuju.com - John L Esposito wafat pada 15 Juli 2026 dalam usia 86 tahun. Kepergian profesor Georgetown University itu menutup perjalanan lebih dari lima dekade seorang cendekiawan Katolik yang memilih menghabiskan hidupnya untuk memahami Islam dan menjelaskan masyarakat Muslim kepada dunia Barat.

Esposito meninggal setelah mengalami komplikasi akibat prosedur jantung. Kabar wafatnya dikonfirmasi keluarga dan Georgetown University. Ia dikenal sebagai salah satu sarjana non-Muslim paling berpengaruh dalam studi Islam pada generasinya.

Kepergian Esposito bukan sekadar kehilangan bagi dunia akademik Amerika Serikat. Ia meninggalkan jejak panjang dalam studi Islam, hubungan Islam-Barat, politik Islam, hingga kajian Islamofobia.

Selama kariernya, Esposito menulis, menyunting, atau ikut menulis lebih dari 55 buku. Karya-karyanya diterjemahkan ke puluhan bahasa dan menjangkau pembaca di berbagai negara. Sejumlah karya terkenalnya antara lain Islam: The Straight Path, Islam and Politics, The Islamic Threat: Myth or Reality?, The Future of Islam, serta What Everyone Needs to Know About Islam.

Dari Calon Pastor hingga Pakar Islam

Perjalanan Esposito menuju studi Islam berawal dari latar keluarga Katolik Italia-Amerika di Brooklyn, New York. Lahir pada 1940, ia sempat bercita-cita menjadi pastor dan pernah bergabung dengan Ordo Fransiskan Kapusin.

Namun, ia meninggalkan seminari sebelum ditahbiskan dan memilih jalur akademik. Esposito kemudian meraih doktor studi agama di Temple University di bawah bimbingan Ismail Raji al-Faruqi, cendekiawan Palestina-Amerika yang berpengaruh dalam pemikiran Islam kontemporer.

Pada 1974, ketika Esposito mulai memasuki pasar kerja akademik, studi Islam di Amerika Serikat belum menjadi bidang yang banyak diminati. Pilihan karier itu bahkan sempat membuat keluarga dan orang-orang di sekitarnya mempertanyakan masa depannya.

Situasi berubah drastis setelah Revolusi Iran 1979 dan serangan 11 September 2001. Dunia Barat semakin membutuhkan penjelasan mengenai Islam, politik Islam, dan hubungan agama dengan perubahan sosial.

Di tengah meningkatnya perhatian tersebut, Esposito mengambil posisi berbeda. Ia tidak melihat Islam semata-mata dari sudut pandang ancaman keamanan atau benturan peradaban.

Esposito mendorong pembacaan Islam melalui pengalaman masyarakat Muslim sendiri. Baginya, politik Islam tidak dapat dilepaskan dari persoalan sosial dan politik seperti ketidakadilan, kemiskinan, pemerintahan otoriter, kolonialisme, intervensi asing, serta perjuangan memperoleh martabat dan menentukan masa depan.

Pandangan itu membuat Esposito dikenal sebagai sarjana yang berusaha mengoreksi berbagai stereotip Barat terhadap Islam. Nader Hashemi menyebutnya sebagai sarjana yang menantang representasi Orientalis terhadap Islam dan Muslim pada masa polarisasi yang tajam.

Membangun Jembatan Islam-Barat

Di Georgetown University, Esposito tidak berhenti pada buku dan ruang kelas. Pada 1993, ia mendirikan Center for Muslim-Christian Understanding, yang kemudian berkembang menjadi Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding.

Ia juga menjadi salah satu tokoh penting di balik Bridge Initiative, proyek riset yang meneliti dan melawan Islamofobia. Dengan berbagai aktivitas tersebut, Esposito berusaha mempertemukan kajian akademik dengan persoalan nyata yang dihadapi Muslim di negara-negara Barat.

Warisan itu juga menjangkau Asia Tenggara. Georgetown mencatat keterlibatan Esposito dalam pengembangan Malaysia Chair for the Study of Islam in Southeast Asia. Langkah tersebut memperkuat perhatian terhadap kawasan Asia Tenggara yang memiliki populasi Muslim besar dan pengalaman sejarah Islam yang berbeda dari Timur Tengah.

Jejak Esposito di Indonesia

Di Indonesia, nama Esposito telah lama dikenal di kalangan mahasiswa dan peneliti studi Islam. Sejumlah karyanya diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan menjadi bahan bacaan dalam kajian politik Islam, demokrasi, fundamentalisme, pembaruan, negara, serta hubungan Islam dan Barat.

Karya-karya tersebut ikut memperkenalkan pendekatan yang melihat umat Islam bukan sekadar objek kajian, melainkan aktor yang memiliki pengalaman sosial, politik dan sejarah sendiri.

Pengaruh itu membuat Esposito tidak hanya dikenal di kalangan akademisi Barat. Pemikirannya juga masuk ke ruang-ruang diskusi perguruan tinggi Islam dan kajian sosial-politik di Indonesia.

Namun, warisan Esposito bukan tanpa perdebatan. Sejumlah kritik menilai pendekatannya terlalu simpatik terhadap gerakan Islam tertentu atau terlalu optimistis dalam melihat hubungan Islam politik dengan demokrasi.

Perdebatan tersebut justru menjadi bagian dari tradisi akademik yang ia jalani. Sebuah gagasan tidak harus diterima tanpa kritik. Sebaliknya, karya ilmiah memperoleh arti ketika terus diuji, dibandingkan dan diperdebatkan.

Pelajaran dari Seorang Non-Muslim

Salah satu warisan terbesar Esposito terletak pada cara ia menunjukkan bahwa memahami agama lain tidak selalu mensyaratkan seseorang menjadi bagian dari agama tersebut.

Sebagai seorang Katolik, ia menghabiskan sebagian besar hidupnya mempelajari Islam. Ia tidak mengklaim berbicara atas nama umat Islam, tetapi berusaha membantu masyarakat Barat memahami Muslim secara lebih utuh.

Pelajaran itu menjadi relevan ketika prasangka terhadap agama dan identitas masih mudah menyebar melalui politik, media, maupun ruang digital.

Esposito menunjukkan bahwa respons terhadap kesalahpahaman tidak selalu harus berupa kemarahan. Salah satu jawabannya bisa berupa penelitian yang lebih serius, buku yang lebih kuat, data yang lebih lengkap, dan kemampuan memahami pihak lain tanpa kehilangan sikap kritis.

John L Esposito kini telah pergi. Namun, buku-buku dan gagasan yang ia tinggalkan terus hidup di ruang kelas, perpustakaan, jurnal, serta diskusi tentang Islam dan dunia Barat.

Bagi umat Islam, kepergiannya juga menyisakan pertanyaan yang lebih besar: ketika banyak pihak di luar Islam bersusah payah mempelajari dan menjelaskan masyarakat Muslim, seberapa kuat dunia Islam sendiri menghasilkan karya ilmiah tentang agama, masyarakat dan peradaban lain?

Pada akhirnya, warisan Esposito bukan hanya tentang bagaimana Barat memahami Islam. Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas identitas.

Orang yang berdiri di luar sebuah rumah terkadang justru mampu melihat jendela yang luput diperhatikan oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya.

John L Esposito meninggalkan dunia pada usia 86 tahun. Tetapi pekerjaannya selama puluhan tahun untuk menjembatani Islam dan Barat membuat namanya tetap berada dalam percakapan panjang tentang agama, politik, demokrasi dan peradaban.

Penulis: Cak AT - Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 31 Juli 2026


BERITA TERKAIT