Kabar John L. Esposito Mualaf Belum Terverifikasi, Penulis Pilih Koreksi Berdasarkan Fakta

Poto Ai hanya ilustrasi, MUALAF ATAU BUKAN.(poto/ist/Ahmadie Tahaha)

Satuju.com - John L. Esposito mualaf menjadi topik yang ramai diperbincangkan setelah muncul kabar bahwa akademisi Georgetown University itu disebut mengucapkan syahadat sebelum meninggal dunia. Informasi tersebut beredar luas di berbagai jejaring tokoh Muslim, namun hingga Sabtu (1/8/2026) belum terdapat bukti primer maupun pernyataan resmi yang dapat memastikan klaim tersebut.

Perdebatan itu mencuat setelah penulis Ahmadie Thaha mengaku menerima pesan WhatsApp yang berisi tangkapan layar mengenai kabar Esposito mengucapkan syahadat di hadapan ulama Hamza Yusuf dan istrinya, Jean Esposito.

Informasi tersebut disebut berasal dari jaringan akademisi Muslim. Namun Ahmadie memilih tidak langsung mempercayainya dan melakukan penelusuran ulang terhadap berbagai sumber.

"Saya berkewajiban memperbaiki tulisan saya dan meminta maaf kepada para pembaca. Tetapi kalau kabar itu belum dapat dipastikan, saya juga tidak boleh mengubah dugaan menjadi fakta," tulis Ahmadie.

Hingga kini belum ditemukan pernyataan resmi dari keluarga John L. Esposito, Georgetown University maupun Hamza Yusuf yang mengonfirmasi kabar tersebut. Di sisi lain, juga belum ada bantahan resmi yang menyatakan informasi itu keliru. Kondisi inilah yang membuat polemik terus berkembang di ruang publik.

Di tengah simpang siur tersebut, Ahmadie menilai prinsip verifikasi harus tetap menjadi pegangan. Menurutnya, harapan banyak umat Islam agar Esposito wafat sebagai Muslim tidak boleh menggantikan fakta yang belum terbukti.

Terlepas dari polemik itu, warisan intelektual John L. Esposito dinilai jauh lebih besar. Selama lebih dari lima dekade, ia dikenal sebagai salah satu akademisi Barat yang konsisten melawan stereotip terhadap Islam melalui riset, pengajaran, dan dialog lintas agama.

Esposito mendirikan Center for Muslim-Christian Understanding di Georgetown University serta menggagas Bridge Initiative yang mendokumentasikan berbagai bentuk Islamofobia di Amerika Utara dan Eropa. Ia juga menulis puluhan buku yang menjadi rujukan utama dalam studi Islam modern, termasuk Who Speaks for Islam? What a Billion Muslims Really Think bersama Dalia Mogahed.

Kepergian Esposito memicu penghormatan dari banyak tokoh dunia Islam. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengenangnya sebagai sosok yang membangun jembatan dialog ketika banyak pihak justru membangun tembok pemisah. Berbagai organisasi Islam internasional juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya akademisi yang dikenal memperjuangkan pemahaman objektif terhadap Islam.

Ahmadie menegaskan, apabila suatu hari nanti muncul bukti primer yang dapat diverifikasi mengenai status agama Esposito sebelum wafat, maka koreksi terhadap tulisan sebelumnya harus dilakukan secara terbuka.

"Kalau suatu hari nanti muncul bukti primer yang dapat diverifikasi bahwa John Esposito benar mengucapkan syahadat sebelum wafatnya, tulisan perlu diperbaiki secara terbuka. Itu bukan aib. Justru itulah kewajiban seorang penulis," tulisnya.

Menurutnya, satu hal yang sudah pasti adalah kontribusi John L. Esposito dalam mengubah cara dunia Barat memahami Islam. Terlepas dari polemik mengenai status agamanya, warisan intelektualnya telah menjadi bagian penting dalam sejarah hubungan antara Barat dan dunia Islam.