Media Belanda Soroti Ekonomi Indonesia, Esai Cak AT Ajak Publik Bedah Narasi di Balik Judul Provokatif
Poto Ai hanya ilustrasi, PROVOKASI BANGKRUT DARI "DE VOLKSKRANT"(poto/ist/Ahmadie Tahaha)
Esai Ahmadie Thaha membedah analisis media Belanda tentang ekonomi Indonesia dan mengajak publik memahami isi argumen di balik judul yang provokatif.
JAKARTA , Satuju.com - Analisis ekonomi Indonesia kembali menjadi sorotan setelah media Belanda De Volkskrant menerbitkan artikel berjudul Is Indonesië op weg naar bankroet? atau "Apakah Indonesia sedang menuju kebangkrutan?" pada 29 Juli 2026. Judul tersebut memicu beragam respons di ruang publik karena dinilai provokatif, meski isi artikel membangun argumentasi yang lebih bernuansa.
Dalam esai yang ditulis Ahmadie Thaha (Cak AT) pada 3 Agustus 2026, penulis mengajak pembaca untuk tidak berhenti pada judul, melainkan memahami keseluruhan isi analisis yang disampaikan jurnalis Noël van Bemmel.
Menurut Cak AT, De Volkskrant merupakan salah satu surat kabar nasional berpengaruh di Belanda yang banyak dibaca kalangan pembuat kebijakan, akademisi, investor, dan pelaku bisnis. Karena itu, artikel yang diterbitkan media tersebut dinilai dapat memengaruhi persepsi internasional terhadap kondisi ekonomi suatu negara.
Dalam esainya, Cak AT menjelaskan bahwa Van Bemmel tidak menyatakan Indonesia telah bangkrut. Sebaliknya, artikel tersebut mempertanyakan apakah arah kebijakan ekonomi saat ini berpotensi membawa Indonesia menghadapi tekanan fiskal apabila tidak diimbangi tata kelola yang memadai.
Analisis itu menyoroti sejumlah isu, mulai dari pelemahan rupiah, perlambatan penciptaan lapangan kerja, tekanan terhadap anggaran negara, hingga tingkat kepercayaan investor. Artikel juga membahas berbagai program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, seperti makan bergizi gratis, pembangunan tiga juta rumah, pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN), hilirisasi industri, koperasi desa, dan Danantara.
Menurut Cak AT, perdebatan yang muncul sejatinya bukan sekadar mengenai utang negara atau defisit anggaran, melainkan perbedaan paradigma pembangunan antara peran negara dan mekanisme pasar.
Dalam esainya, ia menilai sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, hingga Tiongkok menunjukkan bahwa negara dapat menjadi motor pembangunan apabila didukung tata kelola yang disiplin, birokrasi yang bersih, serta akuntabilitas yang kuat.
Di sisi lain, ia mengingatkan agar kritik dari media asing tidak langsung dianggap sebagai bentuk permusuhan. Sebaliknya, substansi kritik perlu dijawab melalui perbaikan tata kelola, kepastian hukum, transparansi, dan disiplin fiskal.
Menurutnya, keberhasilan kebijakan pemerintah pada akhirnya tidak ditentukan oleh tajuk utama media asing, melainkan oleh hasil nyata yang dirasakan masyarakat.
"Semoga jawaban atas pertanyaan itu tidak diberikan oleh para politisi, bukan pula oleh para analis pasar, melainkan oleh kerja nyata yang membuat kesejahteraan rakyat terus bertumbuh. Sebab pada akhirnya, ekonomi bukanlah soal memenangkan perdebatan, melainkan soal memperbaiki kehidupan manusia," tulis Cak AT dalam penutup esainya.
Esai tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi global, judul yang menarik perhatian perlu dibaca secara utuh agar publik dapat membedakan antara opini, analisis, dan fakta yang telah terverifikasi.
