Mata Tak Berkedip di Pintu Negeri, 26 Kg Ekstasi Dibongkar Bea Cukai
Poto Ai hanya ilustrasi, MATA TAK BERKEDIP.(poto/ist/Ahmadie Tahaha)
JAKARTA, Satuju.com - Bea Cukai Soekarno-Hatta menggagalkan dugaan penyelundupan sekitar 26 kilogram ekstasi yang dibawa seorang kopilot Malaysia Airlines. Di balik penangkapan itu, ada mata petugas yang tak berkedip membaca risiko di pintu masuk negeri.
Kopilot asal Malaysia yang disebut bernama Mohd Saufi bin Othman diamankan setelah petugas melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Barang bukti yang ditemukan disebut mencapai lebih dari 70 ribu butir ekstasi dengan nilai diperkirakan miliaran rupiah.
Yang membuat kasus ini semakin serius, hasil pemeriksaan terhadap kopilot tersebut menunjukkan indikasi penggunaan beberapa jenis narkoba.
Mohd Saufi disebut mengaku dijanjikan imbalan sekitar 50.000 ringgit Malaysia untuk membawa narkotika tersebut. Aparat juga masih mendalami dugaan bahwa yang bersangkutan pernah terlibat dalam penyelundupan narkoba sebelumnya.
Kasus ini menarik perhatian karena narkotika dibawa oleh awak pesawat. Status sebagai kru penerbangan sempat menempatkannya pada jalur fast track khusus awak pesawat.
Namun, jalur cepat bukan berarti jalur bebas pemeriksaan.
Analisis risiko tetap berjalan. Profil diperiksa. Gerak-gerik diamati. Ketika sejumlah indikator mengarah pada kecurigaan, petugas mengambil keputusan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Hasilnya, puluhan kilogram ekstasi yang diduga hendak masuk ke Indonesia berhasil diamankan.
Di titik ini, teknologi bukan satu-satunya benteng. Mesin pemindai dapat membaca isi koper, tetapi petugaslah yang membaca situasi.
Pengalaman membuat petugas terlatih mengenali perbedaan antara penumpang yang sekadar kelelahan setelah penerbangan panjang dan seseorang yang menunjukkan kegelisahan yang tidak biasa.
Gerakan tubuh, ekspresi wajah, tatapan, hingga perilaku tertentu dapat menjadi bagian dari analisis risiko. Semua indikator tersebut tidak otomatis membuktikan seseorang bersalah, tetapi dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih teliti.
Temuan berupa botol kecil berisi urine yang diduga disiapkan sebagai cadangan untuk menghadapi tes narkoba juga menjadi bagian penting dalam penyelidikan.
Jika dikaitkan dengan dugaan aksi penyelundupan, temuan tersebut menunjukkan adanya persiapan untuk menghadapi kemungkinan pemeriksaan.
Modus semacam ini menunjukkan bahwa jaringan narkoba terus mencari cara untuk mengeksploitasi celah pengawasan. Mereka tidak selalu mengandalkan kurir dengan penampilan yang mudah dicurigai.
Profesi bergengsi pun dapat dijadikan tameng.
Seragam bisa memberikan kesan kepercayaan. Namun, di pintu masuk negara, status profesi tidak boleh menggantikan prosedur pengawasan.
Kasus 26 kilogram ekstasi ini juga memperlihatkan bahwa perang melawan narkoba bukan hanya soal menangkap pelaku setelah barang beredar.
Keberhasilan terbesar justru terjadi ketika narkotika berhasil dihentikan sebelum mencapai pasar dan korban baru.
Karena itu, pemberantasan narkoba membutuhkan lebih dari sekadar teknologi canggih. Negara membutuhkan petugas yang memiliki pengalaman, ketajaman membaca risiko, integritas, dan keberanian mengambil keputusan.
Di perbatasan negara, setiap celah bisa dimanfaatkan jaringan narkoba.
Tetapi setiap celah pula harus dijaga.
Mesin mungkin mampu memindai koper. Namun, manusia tetap harus membaca manusia.
Seragam bisa dipinjam. Jalur cepat bisa dilewati. Tetapi integritas tidak boleh ditukar dengan apa pun.
Di pintu negeri itu, mata petugas tak berkedip.
Penulis: Cak AT – Ahmadie Thaha
