Quantum Computing Menguji Kesiapan Blockchain Indonesia

acara ETH Genesis: Quantum Leap yang digelar INDODAX pada Jumat (31/7).(poto/ist)

Quantum computing mulai menjadi perhatian industri blockchain. INDODAX mendorong literasi, riset, dan kolaborasi untuk menghadapi ancaman kriptografi.

JAKARTA, Satuju.com Quantum Computing Blockchain Indonesia mulai menjadi perhatian seiring perkembangan teknologi komputasi kuantum yang berpotensi mengubah lanskap keamanan aset digital. INDODAX mendorong pelaku industri, pengembang, akademisi, dan komunitas blockchain memahami risiko sekaligus peluang teknologi tersebut sejak dini.

Pembahasan itu mengemuka dalam acara ETH Genesis: Quantum Leap yang digelar INDODAX pada Jumat (31/7). Forum tersebut menjadi ruang diskusi mengenai masa depan blockchain, keamanan kriptografi, serta kesiapan ekosistem menghadapi perkembangan komputasi kuantum.

Momentum ini bertepatan dengan memasuki dekade kedua Ethereum sejak diluncurkan pada 30 Juli 2015. Dalam satu dekade, Ethereum berkembang menjadi salah satu fondasi ekosistem Web3, termasuk decentralized finance (DeFi), non-fungible token (NFT), smart contract, hingga tokenisasi aset.

Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, mengatakan perkembangan teknologi perlu diantisipasi melalui edukasi dan diskusi yang melibatkan berbagai unsur ekosistem.

“Perkembangan teknologi selalu menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Meskipun quantum computing masih berada pada tahap riset dan pengembangan, potensinya terhadap sistem kriptografi telah menjadi perhatian komunitas global. Karena itu, penting bagi seluruh pelaku industri untuk mulai memahami arah perkembangan ini agar ekosistem dapat beradaptasi secara bertahap melalui diskusi dan edukasi,” ungkapnya.

Aloysia menegaskan, pembahasan komputer kuantum bukan berarti teknologi tersebut saat ini telah menjadi ancaman langsung terhadap blockchain. Perhatian utama berada pada potensi jangka panjang ketika komputer kuantum mencapai kemampuan yang cukup untuk memecahkan sistem kriptografi tertentu yang selama ini digunakan dalam pengamanan aset digital.

“Hingga saat ini, quantum computing masih berada dalam tahap riset dan pengembangan. Ke depan, teknologi ini berpotensi dimanfaatkan untuk mempercepat berbagai proses komputasi yang kompleks dan mendorong lahirnya inovasi di berbagai sektor, termasuk kripto. Di saat yang sama, komunitas blockchain global juga terus melakukan riset dan mengembangkan pendekatan baru agar ekosistem tetap aman seiring perkembangan teknologi tersebut,” jelas Aloysia.

Menurut dia, perkembangan blockchain tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan memperkuat standar keamanan. Industri juga perlu membangun infrastruktur yang mampu beradaptasi ketika teknologi komputasi mengalami perubahan besar.

Kesiapan tersebut, kata Aloysia, tidak dapat dibangun secara instan. Industri membutuhkan riset, pengujian, pengembangan standar keamanan baru, serta koordinasi lintas sektor.

“Membangun ekosistem blockchain yang siap menghadapi era komputer kuantum bukanlah proses yang sederhana. Dibutuhkan waktu untuk riset dan pengujian, pengembangan standar keamanan baru, serta kolaborasi lintas ekosistem agar transisi dapat dilakukan secara bertahap dan tetap menjaga kepercayaan pengguna,” tambahnya.

Melalui forum tersebut, INDODAX ingin memperluas pembahasan aset kripto agar tidak berhenti pada pergerakan harga. Aspek teknologi, keamanan kriptografi, dan kesiapan infrastruktur menjadi bagian penting dalam membangun industri aset digital yang berkelanjutan.

INDODAX menilai edukasi, riset, dan kolaborasi menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi perubahan teknologi. Dengan pemahaman yang lebih dini, ekosistem blockchain dapat menyiapkan langkah adaptasi tanpa menunggu komputer kuantum mencapai tingkat kematangan yang berpotensi mengubah standar keamanan digital.


BERITA TERKAIT