Kasus DBD di Bengkalis Capai 592, Dinkes Minta Warga Perkuat PSN dan Tutup Penampungan Air

Ilustrasi nyamuk.(poto/ist)

Bengkalis, Satuju.com - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bengkalis masih menunjukkan angka yang cukup tinggi sepanjang tahun 2026. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis, sebanyak 592 kasus DBD tercatat terjadi sejak Januari hingga akhir Juli 2026, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dengan memperkuat pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis Ermanto, SKM, MKM melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Irawadi, SKM, MPH, mengatakan lonjakan kasus paling tinggi terjadi pada Juni 2026 dengan jumlah mencapai 173 kasus.

"Hingga akhir Juli, total kasus DBD yang tercatat sebanyak 592 kasus. Puncaknya terjadi pada Juni dengan 173 kasus," ujar Irawadi.

Ia menjelaskan, peningkatan kasus mulai terlihat sejak April yang mencatat 91 kasus. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 113 kasus pada Mei sebelum mencapai puncaknya pada Juni. Sementara pada Juli, angka kasus mulai menunjukkan penurunan menjadi 67 kasus.

Menurut Irawadi, kondisi cuaca yang tidak menentu selama musim pancaroba menjadi salah satu penyebab meningkatnya penyebaran DBD. Pergantian antara hujan dan panas menciptakan banyak genangan air yang menjadi habitat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.

"Kondisi cuaca yang bergantian antara hujan dan panas menyebabkan banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama," jelasnya.

Karena itu, Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk lebih aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui langkah-langkah sederhana, seperti menutup rapat tempat penampungan air, menguras bak mandi secara berkala, serta mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.

Irawadi menilai kebiasaan tersebut sangat efektif dalam memutus siklus perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD sehingga dapat menekan risiko penularan penyakit di lingkungan masyarakat.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk rutin membersihkan lingkungan, menutup rapat tempat penampungan air, serta menghilangkan genangan yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Pencegahan harus dimulai dari rumah masing-masing," katanya.

Selain mengedukasi masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis juga terus mengintensifkan berbagai upaya pengendalian DBD. Langkah tersebut meliputi pelaksanaan fogging di lokasi yang ditemukan kasus positif serta pembagian bubuk abate kepada masyarakat untuk membasmi jentik nyamuk di tempat penampungan air.

Dinas Kesehatan berharap sinergi antara pemerintah dan masyarakat terus diperkuat agar penyebaran DBD dapat dikendalikan. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, diharapkan angka kasus DBD di Kabupaten Bengkalis dapat terus menurun dan tidak kembali mengalami lonjakan pada bulan-bulan berikutnya.