Sambangi Suku Akit, Mahasiswa ISNJ Soroti Pernikahan Dini dan Stunting

Mahasiswa KKM ISNJ Bengkalis mengedukasi warga Suku Akit tentang pernikahan dini, stunting, kesehatan ibu-anak, dan PHBS.(poto/ist/Agus)

Mahasiswa KKM ISNJ Bengkalis mengedukasi warga Suku Akit tentang pernikahan dini, stunting, kesehatan ibu-anak, dan PHBS.

BENGKALIS, Satuju.comEdukasi pernikahan dini dan stunting menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Institut Syariah Negeri Junjungan (ISNJ) Bengkalis saat menyambangi warga Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Akit di Desa Bantan Tengah, Kecamatan Bantan, Senin (10/8/2026).

Kegiatan berlangsung di Posyandu Kempas bersama Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Bantan Tengah. Mahasiswa memanfaatkan layanan Posyandu untuk menyampaikan edukasi kepada masyarakat, terutama para ibu, mengenai kesiapan membangun rumah tangga, pencegahan stunting, kesehatan ibu dan anak, serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Koordinator Desa KKM ISNJ Bantan Tengah, Agustiawan, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda pengabdian mahasiswa. Pertemuan itu juga menjadi kesempatan untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat secara langsung.

“Pertama, kami mengapresiasi kerja keras teman-teman Posyandu dan Pustu yang terus mengajak para ibu datang membawa anak-anak mereka. Hari ini kami melihat antusiasme masyarakat cukup baik,” ujar Agustiawan.

Menurut dia, Posyandu menjadi ruang strategis untuk memberikan edukasi karena masyarakat berkumpul dalam suasana yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari.

Agustiawan menekankan, pembangunan keluarga sehat tidak dapat dimulai ketika anak sudah lahir. Persiapannya justru harus dilakukan sejak seseorang memutuskan membangun rumah tangga.

“Menikah bukan hanya soal sudah memiliki pasangan. Setelah menikah ada banyak tanggung jawab, terlebih ketika sudah mempunyai anak. Karena itu, sebelum menikah perlu dipikirkan kesiapan diri, pendidikan, kesehatan, serta bagaimana kehidupan keluarga ke depan,” katanya.

Ia menyebut pernikahan pada usia terlalu muda perlu menjadi perhatian bersama. Edukasi yang diberikan mahasiswa, kata dia, bukan untuk melarang masyarakat menikah, melainkan mendorong calon pasangan memahami kesiapan fisik, mental, sosial, dan ekonomi sebelum berkeluarga.

“Ketika pasangan lebih siap membangun keluarga, mereka juga akan lebih siap merawat dan memenuhi kebutuhan anak. Dari sinilah upaya pencegahan stunting sebenarnya bisa dimulai,” ujarnya.

Mahasiswa KKM ISNJ juga mendorong para ibu lebih aktif memanfaatkan Posyandu. Pemeriksaan rutin dinilai penting untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak sekaligus mendeteksi lebih awal apabila terdapat kondisi yang membutuhkan perhatian.

“Kalau ada kondisi pertumbuhan anak yang perlu mendapat perhatian, tentu lebih baik diketahui lebih awal. Karena itu kami mengajak para ibu untuk tetap aktif datang ke Posyandu,” kata Agustiawan.

Selain kesehatan ibu dan anak, mahasiswa menyampaikan pentingnya PHBS di lingkungan keluarga. Mereka mengingatkan masyarakat untuk membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan makanan, menggunakan air bersih, serta memastikan sanitasi rumah tetap terjaga.

Agustiawan menilai pencegahan pernikahan dini, pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta PHBS tidak berdiri sendiri. Seluruh aspek tersebut saling berkaitan dalam membangun keluarga yang sehat.

“Kalau kita berbicara tentang pencegahan pernikahan dini, kesehatan ibu dan anak, pemenuhan kebutuhan gizi hingga kebiasaan hidup bersih, semuanya bermuara pada satu hal, yaitu bagaimana membangun keluarga yang sehat dan berkualitas,” katanya.

KKM ISNJ Bengkalis berharap edukasi tersebut tidak berhenti di Posyandu. Mahasiswa mendorong masyarakat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan keluarga dan meneruskannya kepada anggota keluarga lainnya.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian mahasiswa KKM ISNJ Bengkalis kepada masyarakat. Kami berharap kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat KAT Suku Akit dapat memberikan manfaat melalui kegiatan yang sederhana, tetapi dekat dengan kebutuhan mereka,” pungkasnya.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKM ISNJ yang terdiri atas Muhammad Hafiz, Diki, Bahrul, Muhammad Nabil, Taufik, dan Imam Khumaini juga membagikan suvenir kepada anak-anak.

Suvenir berupa buku gambar, alat tulis, dan pernak-pernik bertema Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia itu diberikan untuk membangun kedekatan mahasiswa dengan anak-anak sekaligus menyemarakkan kegiatan Posyandu menjelang HUT Kemerdekaan RI.(Ags)