15 Tahun KH Zainuddin MZ Wafat, Dakwahnya Tetap Hidup

KH Zainuddin MZ.

JAKARTA, Satuju.comKH Zainuddin MZ wafat 15 tahun silam, tetapi suara dakwah Dai Sejuta Umat itu belum benar-benar meninggalkan ruang publik. Ceramahnya masih beredar, potongan nasihatnya kembali muncul di media sosial, dan gaya berdakwahnya tetap menjadi rujukan bagi banyak orang.

Zainuddin MZ meninggal pada Selasa, 5 Juli 2011 pukul 09.15 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan. Ia mengembuskan napas terakhir setelah mengalami serangan jantung.

Sebelum meninggal, Zainuddin sempat sarapan bersama keluarga di kediamannya di kawasan Gandaria I, Kebayoran Baru. Jenazahnya kemudian dimakamkan di kompleks Masjid Fajrul Islam, tempat yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu pusat aktivitas dakwahnya.

Semasa hidup, Zainuddin dikenal sebagai salah satu pendakwah paling populer di Indonesia. Ia memiliki ciri khas ceramah yang lugas, lantang, humoris, tetapi tetap sarat pesan moral.

Popularitasnya mencapai puncak pada era 1980-an hingga 1990-an. Rekaman ceramahnya dalam bentuk kaset beredar luas dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat, jauh sebelum internet dan media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Gaya komunikasinya membuat pesan keagamaan terasa dekat dengan persoalan masyarakat. Ia tidak sekadar menyampaikan dalil, tetapi juga mengemas ceramah dengan humor, kritik sosial, serta contoh kehidupan sehari-hari.

Di luar dunia dakwah, Zainuddin MZ juga sempat masuk ke arena politik. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Umum Partai Bintang Reformasi (PBR) pada era Reformasi. Namun, perjalanan tersebut tidak membuat kiprahnya di dunia dakwah kehilangan jejak.

Nasihat yang Menyeberangi Zaman

Lima belas tahun setelah kepergiannya, sejumlah potongan ceramah Zainuddin MZ kembali menemukan ruang di platform digital. YouTube, TikTok, hingga berbagai kanal media sosial membuat suara lama itu kembali didengar generasi yang mungkin tidak pernah menyaksikan langsung ceramahnya.

Salah satu pesan yang kerap dikutip kembali berbicara tentang singkatnya kehidupan manusia:

"Aku dan dunia bagaikan seseorang yang tengah mengadakan perjalanan di suatu hari yang panas, lalu berteduh sejenak di bawah rindangnya sebuah pohon, lantas pergi meninggalkannya."

Pesan tersebut menggambarkan dunia sebagai tempat persinggahan, bukan tujuan akhir. Nasihat itu terasa relevan ketika kehidupan modern semakin lekat dengan pencarian materi, popularitas, dan pengakuan sosial.

Putra kedua almarhum, Lutfi Manfaluti, pernah mengungkap bahwa sang ayah tidak menunjukkan keluhan sakit berat sebelum meninggal. Zainuddin disebut hanya mengalami sakit kepala ringan sebelum akhirnya berpulang.

Kepergian Zainuddin MZ meninggalkan ruang besar dalam dunia dakwah Indonesia. Namun, 15 tahun kemudian, warisan tersebut belum berhenti.

Suara dari kaset-kaset lama kini berpindah ke layar ponsel. Ceramah yang dulu didengar melalui radio dan televisi kembali ditemukan melalui algoritma media sosial.

Gelar Dai Sejuta Umat pun tetap melekat. Bukan semata karena popularitasnya, melainkan karena sebagian pesan yang ia sampaikan masih menemukan pendengarnya di tengah perubahan zaman.