Istighfar 70 Kali: Bukan Sekadar Hitungan, tapi Jalan untuk Kembali
Ahmadie Thaha.(poto/ist)
Istighfar 70 kali bukan sekadar hitungan. Cak AT mengulas makna istighfar, taubat, dan rahmat Nabi dalam refleksi Surah At-Taubah.
Satuju.com - Istighfar 70 kali menjadi pintu refleksi Cak AT ketika membaca Surah At-Taubah ayat 80. Angka itu mengingatkannya pada kebiasaan berzikir seusai tahajud sekaligus pada teladan Nabi Muhammad ﷺ yang memperbanyak istighfar setiap hari.
Dalam catatan berjudul Tujuh Puluh Kali, Ahmadie Thaha atau Cak AT menceritakan kebiasaannya membaca Al-Qur’an satu juz seusai shalat malam. Juz tersebut disesuaikan dengan tanggal. Saat membaca Juz 14 pada tanggal 14, perhatiannya tertahan pada angka 70 dalam Surah At-Taubah ayat 80.
Ayat tersebut berbunyi:
«اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ»
"Mohonkanlah ampunan bagi mereka atau jangan engkau mohonkan ampunan bagi mereka. Jika engkau memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka."
Cak AT mengatakan angka tersebut terasa dekat karena ia juga membiasakan membaca Astaghfirullah wa atubu ilaih sedikitnya 70 kali setelah tahajud.
Namun, ia menegaskan bahwa ayat tersebut tidak bisa dimaknai sebagai perintah untuk membaca istighfar sebanyak 70 kali. Konteksnya berkaitan dengan kaum munafik yang menyembunyikan kekafiran dan permusuhan di tengah masyarakat Muslim.
Pertanyaan tentang makna angka 70 kemudian membawanya pada hadis Nabi. Dalam Shahih al-Bukhari hadis nomor 6307, Abu Hurairah meriwayatkan sabda Nabi:
«وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً»
"Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari 70 kali dalam sehari."
Dalam Shahih Muslim hadis nomor 2702, jumlah istighfar Nabi bahkan disebut mencapai 100 kali sehari.
Bagi Cak AT, dua riwayat tersebut memperlihatkan bahwa istighfar bukan aktivitas tambahan dalam kehidupan spiritual Nabi. Memohon ampun dan bertobat menjadi bagian penting dari keseharian beliau.
Namun, ia mengingatkan agar kesamaan angka dalam hadis dan Surah At-Taubah tidak buru-buru dianggap sebagai hubungan tafsir yang pasti. Ia tidak menemukan riwayat sahih yang secara tegas menerangkan bahwa kebiasaan Nabi beristighfar lebih dari 70 kali sudah berlangsung sebelum ayat tersebut turun.
Karena itu, kemungkinan hubungan tersebut cukup dijadikan bahan renungan, bukan kepastian tafsir.
Angka 70 Bukan Batas Matematis
Cak AT juga menyoroti perbedaan penjelasan para mufasir mengenai angka 70. Ibnu Katsir antara lain menyebut pandangan bahwa angka tersebut dapat dipahami sebagai bentuk penegasan atau mubalaghah, yakni menunjukkan jumlah yang sangat banyak.
Dengan pemahaman itu, angka 70 tidak semestinya diperlakukan seperti batas matematis. Istighfar 70 kali bukan berarti tidak diterima, sedangkan istighfar ke-71 otomatis mengubah keputusan Allah.
Hal tersebut menjadi semakin jelas ketika dikaitkan dengan Surah Al-Munafiqun ayat 6:
«سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ»
"Sama saja bagi mereka, engkau memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Allah tidak akan mengampuni mereka."
Ayat tersebut tidak lagi berbicara tentang jumlah tertentu. Persoalannya bukan 70, 71, 700, atau 7.000 kali. Yang menjadi pokok persoalan adalah sikap kaum munafik dan kekufuran yang mereka pertahankan.
Dalam catatannya, Cak AT juga mengangkat kisah Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketika tokoh utama kaum munafik Madinah itu meninggal, Nabi tetap menunjukkan perhatian kepada keluarganya. Dalam riwayat yang dikutip Ibnu Katsir, Nabi bahkan memberikan bajunya untuk digunakan sebagai kafan.
Sikap itu menggambarkan luasnya rahmat Nabi. Namun, ketika ketetapan Allah telah jelas, Nabi tetap tunduk. Rahmat tidak berarti menentang ketetapan Tuhan.
Istighfar Tak Berhenti di Bibir
Dari persoalan angka 70, Cak AT kemudian mengarahkan refleksinya kepada makna istighfar dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut dia, mengulang istighfar hanya demi menyelesaikan hitungan berisiko membuat ibadah kehilangan makna. Seseorang bisa menyelesaikan 70 kali bacaan, tetapi belum tentu mengalami perubahan dalam dirinya.
Lafaz yang biasa dibaca Nabi juga sederhana:
«أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ»
"Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya."
Menurut Cak AT, lafaz tersebut mengandung dua gerakan: memohon ampun dan kembali kepada Allah. Dengan demikian, istighfar seharusnya tidak hanya menyentuh lisan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku.
Seseorang dapat mengucapkan istighfar berulang kali, tetapi tetap mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, satu istighfar yang membuat seseorang menyadari kesalahan, meninggalkan keburukan, dan memperbaiki diri dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Hitungan, menurut Cak AT, tetap memiliki fungsi. Angka dapat menjadi disiplin yang mengubah niat abstrak menjadi kebiasaan konkret. Namun, hitungan bukan harga yang harus dibayar untuk memperoleh ampunan Allah.
Refleksi itu semakin kuat ketika dikaitkan dengan Nabi Muhammad ﷺ. Sosok yang mendapat jaminan ampunan sebagaimana disebut dalam Surah Al-Fath ayat 2 justru dikenal memperbanyak istighfar.
Di titik itu, Cak AT melihat sebuah ironi: manusia yang tidak mengetahui bagaimana akhir perjalanannya justru kerap merasa tidak membutuhkan istighfar.
Karena itu, semakin sering seseorang mengucapkan Astaghfirullah, semestinya semakin kecil pula kecenderungannya merasa paling benar. Dan semakin sering mengucapkan wa atubu ilaih, semakin kuat pula dorongan untuk benar-benar kembali kepada Allah.
Surah At-Taubah ayat 80 sekaligus menunjukkan bahwa istighfar bukan alat untuk membatalkan keputusan Allah. Surah At-Taubah ayat 113 juga memberikan batas mengenai permohonan ampun bagi orang yang telah jelas meninggal dalam kemusyrikan.
Bagi Cak AT, agama bukan mekanisme transaksi: membaca doa dalam jumlah tertentu lalu mengharapkan hasil tertentu. Istighfar merupakan ibadah, bukan cara manusia mengendalikan keputusan Allah.
Karena itu, angka 70 pada akhirnya bukan sekadar angka. Dalam Surah At-Taubah, ia menjadi penegasan bahwa sebanyak apa pun permohonan ampun tidak dapat menyelamatkan orang yang memilih kekufuran. Dalam hadis, angka yang sama menjadi gambaran betapa sering Nabi memohon ampun dan bertobat.
Dua konteks itu bertemu pada satu pesan: istighfar bukan tentang mengejar angka, melainkan menjaga kesadaran untuk terus kembali kepada Allah.
Cak AT menutup refleksinya dengan kesadaran bahwa ketika hitungan zikir mencapai angka 70, yang seharusnya bertambah bukan sekadar jumlah bacaan, melainkan kesadaran di dalamnya.
Tujuh puluh kali bukan titik akhir sebuah hitungan. Ia menjadi pengingat bahwa manusia, dengan segala kekurangannya, selalu membutuhkan jalan untuk kembali.
Cak AT - Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 14/8/2026.
