Literasi Bengkalis: Apresiasi Sudah Ada, Kini Ruang dan Anggaran Diuji

Saat Kasmarni menghadiri sekaligus membuka kegiatan bedah buku dua karya sastra penulis Bengkalis pada 14 September 2021.(poto/ist/Marzuli)

BENGKALIS, Satuju.com - Geliat literasi Bengkalis mendapat perhatian di tengah upaya Pemerintah Kabupaten Bengkalis membangun sumber daya manusia. Dukungan Bupati Bengkalis Kasmarni terhadap kegiatan sastra dan penerbitan karya penulis daerah dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga tradisi membaca dan menulis tetap tumbuh.

Sorotan itu disampaikan Marzuli Ridwan Al-bantany melalui tulisannya di akun facebooknya dua hari lalu Rabu, 12 Agustus 2026 yang merekam sejumlah kebijakan dan perhatian Kasmarni bersama Wakil Bupati Bengkalis Bagus Santoso terhadap perkembangan literasi di daerah berjuluk Negeri Junjungan tersebut.

Marzuli mengaku tidak banyak berinteraksi secara langsung dengan Kasmarni maupun Bagus Santoso. Namun, satu momentum pada awal periode kepemimpinan mereka meninggalkan kesan kuat, yakni ketika Kasmarni menghadiri sekaligus membuka kegiatan bedah buku dua karya sastra penulis Bengkalis pada 14 September 2021.

Dua karya yang dibedah dalam kegiatan tersebut adalah cerpen Menabur Budi karya Buya H Amrizal, Ketua MUI Bengkalis, dan Pada Senja yang Basah karya Marzuli sendiri.

Kegiatan itu juga menghadirkan sejumlah tokoh yang menjadi pembedah, antara lain H Riza Pahlefi, Syaukani Alkarim, Musa Ismail serta Prof Dr Gamal Abdul Nasir, putra Bengkalis yang kini menetap di Brunei Darussalam.

Bagi Marzuli, kehadiran kepala daerah dalam kegiatan sastra tersebut menunjukkan perhatian pemerintah terhadap perkembangan literasi dan karya penulis lokal.

Dalam pandangan Kasmarni, bedah buku bukan sekadar forum membicarakan sebuah karya. Kegiatan tersebut dapat mengasah intelektual, memperluas wawasan sekaligus memberikan ruang untuk mengevaluasi kelebihan dan kekurangan sebuah buku.

Kasmarni juga berharap kegiatan semacam itu mampu mendorong minat baca masyarakat, terutama generasi muda, sekaligus memacu kemampuan menulis.

Perhatian terhadap literasi, menurut Marzuli, kemudian terlihat dari dukungan pemerintah daerah terhadap penerbitan sejumlah karya penulis Bengkalis.

Salah satunya buku Profil Ulama Karismatik di Kabupaten Bengkalis yang ditulis tim penulis dari MUI Kabupaten Bengkalis. Buku tersebut memuat kisah hidup dan perjuangan sejumlah ulama di Bengkalis dan disebut telah dicetak hingga tiga kali.

Penerbitan ulang buku itu disebut mendapat dukungan melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bengkalis dengan jumlah sekitar 1.000 eksemplar. Karya lain, seperti Bengkalis Negeri Jelapang Padi karya sejarawan H Riza Pahlefi, juga mendapat dukungan penerbitan dalam jumlah besar.

Dukungan terhadap literasi berlanjut pada 2026 melalui penerbitan buku kedua Profil Ulama Karismatik di Kabupaten Bengkalis: Meneladani Sosok dan Perjuangan Jilid 2.

Buku tersebut diluncurkan dan diresmikan langsung oleh Kasmarni pada Mei 2026 di Bengkalis.

Bagi Marzuli, langkah tersebut perlu dilanjutkan secara konsisten. Pemerintah daerah dinilai tidak cukup hanya memberikan apresiasi kepada penulis, tetapi juga perlu menghadirkan kebijakan dan dukungan anggaran yang mampu menciptakan ekosistem literasi berkelanjutan.

Menurut dia, Bengkalis memiliki modal sejarah yang kuat dalam dunia kepenulisan. Nama almarhum Soeman Hs menjadi salah satu contoh penting tradisi sastra yang pernah tumbuh dari daerah tersebut.

Di sisi lain, penulis-penulis muda terus bermunculan dan menghasilkan karya meski menghadapi keterbatasan. Persoalannya, ruang untuk berkarya dan dukungan terhadap mereka dinilai masih perlu diperkuat.

Marzuli menilai pengembangan literasi memiliki kaitan erat dengan agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia. Generasi muda Bengkalis perlu dibekali wawasan, keterampilan dan kemampuan berpikir kritis agar mampu berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

Karena itu, dukungan terhadap penulis, penerbitan buku, kegiatan bedah karya, perpustakaan serta ruang-ruang diskusi dinilai perlu menjadi bagian dari strategi membangun budaya literasi di Bengkalis.

Upaya tersebut sekaligus dapat memperkuat cita-cita menjadikan Bengkalis sebagai pusat pendidikan dan tamadun Islam-Melayu.

Bagi Marzuli, literasi bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis. Jika dirawat secara serius, tradisi tersebut dapat menjadi investasi pengetahuan bagi generasi mendatang sekaligus bagian dari pembangunan manusia di Kabupaten Bengkalis.

Tulisan ini disusun berdasarkan pandangan dan catatan Marzuli Ridwan Al-bantany mengenai perhatian Pemerintah Kabupaten Bengkalis terhadap geliat literasi dan karya penulis lokal.

Ket poto: Marzuli yang merupakan sastrawan Riau dan penulis beberapa buah buku seperti buku puisi, cerpen, esai, novel dan buku non fiksi lainnya.