Shivaji di Hati Khalid: Film Menggugat Sejarah yang Diperebutkan
RAJA SHIVAJI: Shivaji di Hati Khalid. (poto/ist/Ahmadie Tahaha)
Film Khalid Ke Shivaji menggugat cara India memandang sejarah, identitas, dan warisan Shivaji melalui mata seorang anak Muslim.
Satuju.com - Shivaji di hati Khalid bukan sekadar kisah seorang bocah Muslim yang mengagumi raja Hindu. Film Khalid Ke Shivaji karya Raj Pritam More mengusik pertanyaan yang lebih besar: siapa yang berhak memiliki seorang pahlawan?
Pertanyaan itu menjadi penting ketika sejarah mulai diperlakukan seperti tanah warisan. Semua orang ingin mengklaim sertifikat kepemilikannya. Shivaji pun tak luput. Ia dipuja sebagai ikon Maratha, tetapi dalam film ini justru hadir di hati seorang anak bernama Khalid—bukan sebagai simbol agama, melainkan sebagai manusia yang layak dikagumi.
Di situlah film ini menjadi menarik.
Dalam dua tahun terakhir, setidaknya dua film mengambil jalan berbeda ketika bercerita tentang Chhatrapati Shivaji Maharaj. Raja Shivaji (2026) memilih jalur film epik: perang, benteng, kepahlawanan, dan kejayaan Maratha. Khalid Ke Shivaji (2025) mengambil kamera dari medan perang dan mengarahkannya kepada seorang bocah kelas lima.
Khalid seorang Muslim. Shivaji seorang raja Hindu.
Justru jarak itulah yang hendak ditembus film ini.
Ketika Shivaji Tak Lagi Milik Satu Agama
Trailer Khalid Ke Shivaji sempat memantik protes dari kelompok Hindu sayap kanan. Persoalannya antara lain dialog mengenai pengawal Muslim dalam pasukan Shivaji dan keberadaan masjid di Raigad.
Sejumlah klaim dalam film memang diperdebatkan secara historis. Beberapa sejarawan mengingatkan bahwa tidak semua detail tersebut memiliki bukti primer yang kuat.
Perdebatan itu sah.
Sejarah memang harus diperiksa, bukan disembah. Sumber harus diuji, bukan ditelan mentah-mentah. Tetapi ketika perdebatan sejarah berbelok menjadi tuntutan pelarangan film, persoalannya berubah.
Ada garis tipis antara mengoreksi sejarah dan menguasai sejarah.
Film ini berdiri tepat di garis tersebut.
Raj Pritam More tidak sedang membuat Shivaji menjadi tokoh Muslim. Ia melakukan sesuatu yang lebih mengganggu: membuka kemungkinan bahwa seorang anak Muslim juga dapat menemukan kebesaran dalam diri seorang raja Hindu.
Bukankah pahlawan memang seharusnya melampaui pagar agama?
Khalid dan Politik Identitas
Cerita kemudian bergerak dari sejarah ke kehidupan sehari-hari.
Di sebuah desa Maharashtra, warga mengeluhkan jalan rusak dan sulitnya memperoleh air bersih. Namun kepala desa justru menggagas pembangunan kuil.
Warga Hindu dan Muslim sama-sama mempertanyakan keputusan itu.
Adegan tersebut terasa sederhana. Tapi justru kesederhanaan itulah yang menggigit. Masyarakat membutuhkan air dan jalan, sementara politik sibuk mengurus simbol.
Film seperti sedang berbisik: rakyat kadang lebih tahu apa yang mereka perlukan daripada mereka yang mengatasnamakan rakyat.
Khalid pun terseret ke dalam persoalan yang sama.
Ia tidak tumbuh sebagai anak yang sibuk mempertentangkan agama. Namun ejekan teman-temannya mengubah keadaan. Ia dipanggil "Afzal Khan".
Sebuah nama berubah menjadi ejekan.
Identitas berubah menjadi beban.
Dan seorang anak berusia sebelas tahun dipaksa memahami pertarungan yang sebenarnya bukan miliknya.
Guru sejarah Khalid, Salve, mencoba membuka jendela lain. Ketika Khalid bertanya tentang agama Afzal Khan, jawabannya pendek:
"Memangnya kenapa?"
Kalimat itu sederhana. Tetapi mungkin justru orang dewasa yang membuat pertanyaan sesederhana itu menjadi rumit.
Raja yang Sejati
Film semakin tajam ketika ayah Khalid mengatakan:
"Raja yang sejati menempatkan kemanusiaan di atas agama,"
Khalid menjawab lirih:
"Seandainya kami hidup pada zaman itu."
Dua kalimat tersebut menjadi jantung film.
Sebab masalahnya bukan lagi Shivaji. Masalahnya adalah kita.
Apakah nilai seorang pemimpin masih bisa diwarisi ketika identitas pembacanya berbeda?
Khalid kemudian dipersiapkan memerankan Shivaji dalam pertunjukan sekolah. Ia berlatih, menghafal dialog, dan mencoba memahami sosok yang akan dimainkannya.
Tetapi kesempatan itu akhirnya direnggut.
Bukan karena ia buruk memainkan Shivaji.
Bukan karena ia tidak memahami tokohnya.
Melainkan karena ia bernama Khalid.
Di sini film berhenti menjadi cerita tentang sejarah. Ia berubah menjadi cerita tentang diskriminasi.
Sejarah yang Dipagari
Yang lebih ironis, film menggambarkan kelompok ekstrem dari dua komunitas berbeda akhirnya memiliki posisi yang sama: mereka tidak menginginkan Khalid menjadi Shivaji.
Ini paradoks yang pahit.
Intoleransi boleh berbeda bendera. Tetapi logikanya sama: selalu membutuhkan seseorang untuk disebut "yang lain".
Padahal Shivaji sendiri bukan tokoh yang sederhana.
Ia memang dikenal sebagai simbol kekuatan Maratha dan perlawanan terhadap kekuasaan Mughal. Namun sejumlah kajian sejarah juga menggambarkan kebijakan yang lebih kompleks, termasuk sikap terhadap tempat ibadah, perempuan, serta hubungan dengan kelompok berbeda.
Detail sejarah tentu dapat diperdebatkan.
Tetapi justru karena kompleks, Shivaji tidak layak diperas menjadi satu warna politik.
Pahlawan yang terlalu mudah dimiliki biasanya telah kehilangan sebagian dari maknanya.
Ketika Pahlawan Menjadi Properti Politik
India bukan satu-satunya negeri yang mengalami persoalan semacam ini.
Di banyak negara, pahlawan masa lalu kerap ditarik ke masa kini. Namanya dipakai untuk menguatkan identitas. Patungnya dijaga. Slogannya dikumandangkan.
Namun gagasannya justru dilupakan.
Sejarah akhirnya tidak lagi menjadi cermin. Ia berubah menjadi gudang amunisi.
Orang datang kepadanya bukan untuk belajar, melainkan untuk mencari pembenaran.
Khalid Ke Shivaji menawarkan pembacaan yang lebih mengganggu: mungkin seorang anak justru dapat memahami sejarah dengan lebih jernih daripada orang dewasa.
Khalid tidak bertanya apakah Shivaji Hindu.
Ia bertanya apakah Shivaji layak dikagumi.
Jawabannya ia temukan dalam keberanian, kepemimpinan, dan gagasan tentang kemanusiaan.
Itulah sebabnya Shivaji di Hati Khalid menjadi lebih dari sekadar judul film.
Ia adalah pertanyaan kepada sebuah bangsa: apakah sejarah cukup luas untuk menampung semua anak yang ingin belajar darinya?
Jika seorang Khalid tidak boleh mengagumi Shivaji karena agamanya, yang kehilangan bukan hanya Khalid.
Yang kehilangan adalah sejarah itu sendiri.
Sebab pahlawan yang hanya boleh dicintai oleh satu kelompok pada akhirnya bukan lagi milik bangsa.
Ia hanya menjadi milik politik.
Penulis: Cak AT — Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 16 Agustus 2026
