Yang Rada Gila: Saat Ucapan Pemimpin Membuat Dunia Geleng Kepala

Poto Ai hanya ilustrasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump.(kanan) dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto.(kiri). (poto/ist/Ahmadie Thaha)

JAKARTA, Satuju.com - Pernyataan kontroversial pemimpin dunia kembali menjadi sorotan. Dalam naskah berjudul Yang Rada Gila, Ahmadie Thaha atau Cak AT mengkritik kecenderungan sejumlah pemimpin melontarkan pernyataan ekstrem, bombastis, hingga angka yang memicu tanda tanya publik.

Cak AT menyoroti dua nama: Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Keduanya menjadi pintu masuk penulis untuk membahas batas antara keberanian berpikir besar dan ucapan yang kehilangan kendali.

Dalam naskah yang ditulis di Ma'had Tadabbur al-Qur'an pada 16 Agustus 2026 itu, Cak AT mengawali sorotan terhadap Trump. Ia menyinggung pernyataan Trump pada Jumat, 14 Agustus 2026, mengenai Selat Hormuz.

Trump disebut menyatakan bahwa setelah militer Amerika Serikat “mengalahkan” Iran, ia akan segera mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah resmi Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut muncul ketika konflik masih berlangsung dan Iran tetap menegaskan kendalinya atas jalur strategis tersebut. Cak AT menilai pernyataan Trump menunjukkan bagaimana seorang pemimpin dapat membuat isu kedaulatan dan geopolitik terdengar seperti permainan.

“Jika sebuah negara mendadak menyatakan penguasaan atas selat yang membelah wilayah negara lain, peta dunia otomatis berubah seperti papan permainan monopoli,” tulis Cak AT.

Menurut dia, Trump memiliki rekam jejak panjang dalam melontarkan gagasan kontroversial mengenai wilayah. Ia menyebut wacana Kanada menjadi negara bagian Amerika Serikat, keinginan membeli Greenland, pengambilalihan kembali Terusan Panama, hingga perubahan nama Teluk Meksiko menjadi Gulf of America.

Cak AT juga mengingat gagasan Trump pada 2025 mengenai Gaza. Saat itu, Trump mencetuskan konsep menjadikan kawasan tersebut sebagai semacam Riviera setelah pemindahan warga Palestina.

Bagi Cak AT, rangkaian pernyataan tersebut memperlihatkan gaya politik yang memperlakukan peta geopolitik secara tidak biasa.

Namun, sorotan Cak AT tidak berhenti di Amerika Serikat. Ia kemudian membawa pembaca ke Indonesia melalui pidato Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR, DPR, dan DPD RI.

Prabowo dalam pidatonya menceritakan seorang perempuan bernama Susanah yang disebut bekerja mengupas bawang dalam ekosistem program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Angka upah yang disebut mencapai Rp700 ribu per kilogram.

Cak AT kemudian menghitung kemungkinan pendapatan dari angka tersebut. Jika seorang pekerja mengupas dua kilogram bawang per hari dan bekerja selama 20 hari dalam sebulan, penghasilannya mencapai Rp28 juta.

“Maaf, Pak. Saya resign hari ini. Saya menemukan masa depan yang lebih cerah di balik kulit bawang,” tulis Cak AT, menyindir angka tersebut.

Ia menegaskan persoalan bukan terletak pada pekerjaan mengupas bawang. Menurut dia, pekerjaan tersebut tetap layak dihargai. Yang menjadi masalah ialah munculnya angka fantastis dalam pidato resmi kepala negara.

Cak AT menilai persoalan tersebut semestinya tidak berhenti sebagai bahan lelucon. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana angka tersebut dapat lolos dari proses verifikasi sebelum masuk ke pidato presiden?

“Presiden bukanlah seorang podcaster yang bebas menebak-nebak angka di depan mikrofon,” tulis Cak AT.

Menurut dia, setiap angka yang disampaikan kepala negara memiliki konsekuensi lebih besar. Pernyataan itu dapat memengaruhi kebijakan, pemberitaan media, persepsi publik, bahkan menjadi bahan kritik dan penelitian.

Cak AT kemudian mengingat sejumlah pernyataan Presiden Joko Widodo mengenai pertumbuhan ekonomi Maluku Utara, nilai ekspor nikel, serta peluang Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Ia mengingatkan agar pernyataan optimistis tidak serta-merta dicap sebagai kegilaan. Sebagian bisa berupa proyeksi, retorika politik, atau hasil penghitungan dengan metode tertentu.

Persoalannya, menurut Cak AT, adalah kemampuan membedakan antara keberanian memiliki gagasan besar dan kebiasaan berbicara tanpa rem.

Fenomena serupa juga muncul di berbagai negara. Cak AT menyebut George W. Bush dengan istilah Bushisms, Silvio Berlusconi, Boris Johnson, hingga Rodrigo Duterte sebagai contoh pemimpin yang pernah memicu kontroversi melalui pernyataan mereka.

Dalam kajian politik, Cak AT mengaitkan fenomena tersebut dengan Madman Theory atau Teori Orang Gila. Konsep ini dikenal sejak era Richard Nixon dan kemudian sering dikaitkan dengan gaya politik Trump.

Teori tersebut berpijak pada anggapan bahwa pemimpin dapat memperoleh daya tawar jika lawannya percaya ia tidak sepenuhnya rasional dan bersedia mengambil tindakan ekstrem.

Namun, strategi semacam itu memiliki risiko. Jika lawan mengetahui bahwa gertakan hanya permainan, daya tawarnya hilang. Sebaliknya, jika gertakan dipercaya, potensi konflik dan eskalasi justru meningkat.

“Pemimpin memang boleh "rada gila", tetapi kegilaan itu harus berada di kepala lawan untuk gertakan diplomasi, bukan mengacaukan sistem pengambilan keputusan di dalam negeri,” tulis Cak AT.

Cak AT juga melihat fenomena tersebut melalui konsep attention economy. Pernyataan biasa bisa menjadi berita, ucapan ekstrem menjadi breaking news, sedangkan pernyataan yang dianggap aneh dapat berubah menjadi meme.

Dalam situasi itu, perhatian publik bisa bergeser dari substansi kebijakan menuju perdebatan mengenai maksud ucapan seorang presiden.

Karena itu, Cak AT membedakan dua tipe pemimpin nyeleneh. Pertama, pemimpin yang berani berpikir berbeda, menciptakan gagasan baru, dan mendobrak kebiasaan lama. Kedua, pemimpin yang tidak peduli terhadap akurasi selama pernyataannya terdengar hebat dan bombastis.

“Pemimpin ideal harus berani gila dalam gagasan, tetapi tetap waras dalam verifikasi,” tulis Cak AT.

Ia menilai pemimpin boleh memiliki ambisi besar untuk mengubah negaranya. Namun, setiap ambisi harus ditopang data, kemampuan anggaran, dan perhitungan yang realistis.

Pada akhirnya, Cak AT menempatkan akurasi sebagai ukuran penting kepemimpinan. Presiden memiliki mikrofon yang terhubung dengan pasar, birokrasi, aparat, anggaran, dan masyarakat luas.

Karena itu, pemimpin yang kuat bukan sekadar mereka yang berani mengeluarkan pernyataan besar. Pemimpin harus mampu memastikan gagasannya memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Dan jika ternyata ia keliru, ia cukup waras untuk bersikap jujur dan tunduk pada kenyataan,” tulis Cak AT.

Penulis: Ahmadie Thaha (Cak AT)
Sumber naskah: Yang Rada Gila, Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 16 Agustus 2026.


BERITA TERKAIT