Sayembara Ijazah SMA Gibran Tembus Rp1,05 Miliar

Poto Ai hanya ilustrasi, SAYEMBARA IJAZAH SMA/SEDERAJAT GIBRAN TEMBUS Rp. 1 MILIAR!!!.(poto/ist/Denny Indrayana)

Satuju.com - Sayembara ijazah SMA Gibran yang digagas Denny Indrayana terus mendapat perhatian. Hingga Rabu, 19 Agustus 2026, nilai hadiah yang ditawarkan untuk pihak yang dapat menunjukkan ijazah SMA atau sederajat Gibran Rakabuming Raka disebut telah mencapai Rp1.051.050.000.

Denny menyebut nilai tersebut melonjak setelah seseorang mewakafkan tanah yang ditaksir bernilai Rp700 juta. Ia mengklaim telah melakukan verifikasi terhadap tambahan hadiah tersebut.

Informasi itu disampaikan Denny melalui unggahan di media sosialnya pada Rabu, 19 Agustus 2026.

“Per pagi ini, Rabu 19 Agustus 2026, hadiah Sayembara untuk menunjukkan Ijazah SMA/sederajat Gibran sudah menjadi Rp 1.051.050.000,- naik signifikan karena ada yang mewakafkan tanahnya dengan nilai Rp 700 juta, dan sudah saya verifikasi,” tulis Denny.

Menurut Denny, sayembara tersebut dibuat agar semakin banyak pihak ikut memperhatikan persoalan yang dia anggap berkaitan dengan aturan dalam kontestasi pemilihan presiden.

“Ada yang bilang, kenapa pakai sayembara sih?

Agar banyak pihak terlibat memikirkan hal penting ini. Menjaga aturan main kontestasi pilpres agar dihormati, tidak diakali. Syarat umur sudah diakali, mosok syarat pendidikan diakali lagi?,” tulisnya.

Denny juga mengatakan langkah hukum terkait persoalan tersebut tetap berjalan. Ia mengklaim telah berulang kali menyampaikan argumentasi dari perspektif hukum tata negara.

Dalam unggahannya, Denny kembali meminta Gibran menunjukkan ijazah SMA atau sederajat yang dipersoalkan. Ia membandingkannya dengan momen ketika Gibran pernah terbuka kepada wartawan dan memperlihatkan ijazah sarjananya.

“Minta mereka dan Mas Gibran tunjukkan saja ijazah SMA/sederajat tersebut, sebagaimana Gibran pernah terbuka mengundang wartawan dan menunjukkan ijazah S1nya.”

Denny kemudian mempertanyakan alasan dokumen pendidikan tersebut, menurut dia, tidak ditunjukkan kepada publik.

“Kalau memang ada, kenapa dipersulit?”

Ia bahkan menyebut opsi politik yang lebih jauh apabila dokumen tersebut tidak dapat ditunjukkan.

“Kecuali memang tidak ada, silakan berhenti (mundur), atau terpaksa kita dorong untuk diberhentikan (impeachment).”

Denny menegaskan, menurut dia, persoalan itu bukan menyangkut kepentingan pribadi Gibran. Ia menempatkannya sebagai isu mengenai etika dan konstitusi dalam penyelenggaraan negara.

“Bukan karena soal pribadi Gibran, tetapi soal menjaga kehormatan etika dan konstitusi bernegara.”

Berdasarkan pantauan redaksi pada unggahan Denny Indrayana pada Rabu pagi, 19 Agustus 2026, postingan tersebut terlihat telah memperoleh 651 stiker. Sementara itu, kolom komentar memuat 151 komentar dan unggahan tersebut telah dibagikan sebanyak 70 kali.

Salah satu komentar mendukung langkah tersebut dengan meminta Denny tetap melanjutkan sayembara sekaligus siap menerima konsekuensi jika dokumen yang dipersoalkan akhirnya ditunjukkan.

“lanjutkan pak, Jika tidak Bisa Menunjukan Berarti Tidak ada Atau Jika Bisa Menunjukan Abang Siap Menerima Konsekuensinya Adilll Kan?”

Komentar lain menilai metode sayembara lebih menarik dibandingkan perdebatan yang berlangsung melalui proses persidangan.

“Luar biasa pak prof...cara cerdas bikin sayembara..dari pada sidang-sidang yang gak jelas, bikin capek.”

Polemik mengenai dokumen pendidikan Gibran tersebut kini kembali menjadi perbincangan di media sosial. Namun, pernyataan mengenai keberadaan atau tidak adanya ijazah SMA Gibran dalam unggahan Denny merupakan bagian dari polemik dan tuntutan pembuktian yang disampaikannya, bukan fakta yang telah terbukti secara independen.