Miguel Oliveira Sebut Belum Ada Pembalap Muda yang Mampu Menandingi Marc Marquez
Miguel Oliveira
Jakarta, Satuju.com - Mantan pembalap MotoGP asal Portugal, Miguel Oliveira, memberikan penilaian menarik mengenai kompetisi generasi muda di kejuaraan Dunia Balap Motor. Menurutnya, meski banyak talenta baru bermunculan, belum ada pembalap muda yang benar-benar mampu menandingi Marc Marquez dalam waktu dekat.
Oliveira sendiri memiliki perjalanan panjang di ajang balap dunia. Ia mengawali kiprahnya di Kejuaraan Dunia pada 2011 di kelas 125cc. Setahun kemudian, ia naik ke Moto3 dan berhasil menjadi runner-up pada tahun 2015.
Kariernya berlanjut ke Moto2 pada 2016. Dua tahun kemudian, Oliveira kembali mengakhiri musim sebagai runner-up sebelum mendapatkan promosi ke kelas MotoGP pada 2019.
Namun, Oliveira tidak lagi mendapatkan tempat di kelas utama untuk musim 2026. Ia kemudian melanjutkan karirnya di ajang Superbike dengan bergabung bersama tim pabrikan BMW.
Sepanjang karirnya di berbagai kelas, Oliveira telah mengoleksi 17 kemenangan, termasuk lima kemenangan di MotoGP. Pengalaman panjang tersebut membuatnya sempat dihadapkan dengan sejumlah pembalap terbaik dunia, salah satunya Marc Marquez.
Oliveira bahkan memberikan pujian tinggi kepada pembalap asal Spanyol tersebut. Menurutnya, Marquez merupakan salah satu pembalap dengan kemampuan terbaik yang pernah ada.
“Dalam hal kemampuan membalap, dia adalah yang terbaik sepanjang masa,” ujar Oliveira saat memberikan penilaiannya terhadap Marquez.
Oliveira Tak Melihat Ancaman Serius dari Generasi Muda
Penilaian Oliveira muncul ketika persaingan MotoGP mulai memasuki era baru dengan bermunculannya sejumlah pembalap muda berbakat.
Marquez sendiri kembali menunjukkan performa kompetitif setelah sebelumnya sempat mengalami kendala fisik. Ia masih berada dalam persaingan papan atas dan harus menghadapi sejumlah pembalap kuat, termasuk para rider Aprilia seperti Jorge Martin, Marco Bezzecchi, Ai Ogura, dan Raul Fernandez.
Persaingan juga datang dari sesama pembalap Ducati, Fabio Di Giannantonio, yang turut menjadi salah satu rival terberat dalam perebutan gelar juara dunia.
Di tengah munculnya generasi baru, Oliveira menilai belum ada pembalap muda yang benar-benar mampu memberikan ancaman serius kepada Marquez.
“Generasi baru memang sedang bermunculan, tetapi saat ini saya tidak melihat ada siapa pun yang benar-benar bisa menantang Marc,” tegas Oliveira.
Ia juga menyebut sejumlah nama seperti David Alonso, Daniel Holgado, Izan Guevara, Senna Agius, hingga Diogo Moreira sebagai bagian dari generasi muda yang patut diperhatikan.
Namun, dari deretan pembalap tersebut, Oliveira hanya melihat satu nama yang menurutnya memiliki kemampuan berbeda dan berpotensi memberikan perlawanan kepada Marquez.
Pedro Acosta Dinilai Paling Berpotensi
Pembalap yang dimaksud Oliveira adalah Pedro Acosta. Menurutnya, Acosta memiliki kemampuan yang membuatnya terlihat berbeda dibandingkan pembalap muda lainnya.
“Bagi saya, Acosta adalah yang terkuat. Dia satu-satunya pembalap yang terlihat berbeda dari yang lain,” ungkap Oliveira.
Oliveira bahkan menilai Acosta memiliki peluang untuk menjadi pembalap yang mampu mengimbangi Marquez ketika keduanya bersaing di level teratas.
“Sementara yang lainnya, semuanya sama saja. Diogo juga pembalap hebat, tapi dia bukan Acosta. Namun perlu ditegaskan, mereka semua adalah pembalap yang sangat berbakat,” lanjut rider berusia 31 tahun tersebut.
Meski demikian, Oliveira menyadari bahwa perkembangan karier seorang pembalap tidak bisa dinilai hanya berdasarkan performanya ketika masih berada di kelas junior.
Menurutnya, perpindahan dari Moto3 ke Moto2, kemudian menuju MotoGP, menghadirkan tantangan yang berbeda. Seorang pembalap yang dominan di kelas junior belum tentu langsung mampu menunjukkan performa serupa ketika naik kelas.
Oliveira Ingatkan Agar Tak Membebani Pembalap Muda
Selain Acosta, Oliveira juga memberikan perhatian kepada Maximo Quiles, pembalap muda yang disebut sebagai salah satu talenta menarik dari Moto3.
Namun, Oliveira memilih berhati-hati dalam memberikan prediksi terhadap masa depan Quiles. Ia menilai terlalu dini memberikan beban ekspektasi besar kepada pembalap yang masih berada di usia muda.
“Dia adalah satu-satunya pembalap muda dari Moto3 yang ingin saya soroti. Namun, hal ini sangat sulit dinilai. Lagipula, tidak fair jika kita membebankan begitu banyak harapan dan tekanan pada seorang pembalap muda,” ujarnya.
Oliveira kemudian memberikan sejumlah contoh untuk menunjukkan bahwa keberhasilan di Moto3 tidak otomatis berlanjut ketika seorang pembalap naik ke Moto2.
Ia menyukai Jose Antonio Rueda yang sebelumnya tampil dominan di Moto3, tetapi menghadapi tantangan saat memasuki Moto2. Hal serupa juga terjadi pada Collin Veijer yang dikenal memiliki kecepatan tinggi di Moto3, namun belum mampu langsung menemukan performa terbaik di kelas berikutnya.
Nama Izan Guevara juga menjadi contoh lainnya. Guevara sempat tampil luar biasa ketika masih berada di Moto3, namun membutuhkan waktu untuk beradaptasi di Moto2 sebelum akhirnya mulai menunjukkan performa yang lebih kuat.
"Kita bisa melihat contohnya di Rueda. Dia mendominasi kelas Moto3, lalu naik ke Moto2. Namun kini justru kesulitan di sana. Atau Collin Veijer. Dia adalah pembalap Moto3 yang sangat cepat, meski tidak sampai mendominasi. Kemudian dia pindah ke motor Moto2 dan juga kesulitan di sana," jelas Oliveira.
"Contoh lainnya adalah Izan Guevara. Dia tampil luar biasa di Moto3. Di Moto2, dia butuh waktu dua atau tiga tahun untuk menunjukkan performa terbaiknya. Baru sekarang dia tampil kuat. Namun, tidak ada jawaban yang mutlak mengenai hal ini," lanjutnya.
Pernyataan Oliveira sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan puncak balap motor dunia membutuhkan lebih dari sekedar bakat. Adaptasi, pengalaman, kemampuan teknis, serta konsistensi menjadi faktor penting yang menentukan apakah seorang pembalap muda benar-benar mampu bersaing dengan nama-nama besar seperti Marc Marquez.
