Scott Redding Ungkap Perbedaan Karier dengan Marc Marquez: “Dia Selalu Mendapatkan Motor Terbaik”
Scott Redding
Jakarta, Satuju.com — Scott Redding dan Marc Marquez pernah berada dalam kompetisi yang sama ketika masih berkarier di kelas 125cc. Keduanya bahkan pernah berdiri di podium bersama pada Grand Prix Donington Park 2008. Namun, perjalanan karir kedua pembalap tersebut kemudian berkembang dengan arah yang sangat berbeda.
Marc Marquez menjelma menjadi salah satu pembalap paling sukses di era modern. Rider berjuluk The Baby Alien itu telah mengoleksi sembilan gelar juara dunia di berbagai kelas dan hingga kini masih berkompetisi di MotoGP bersama tim Ducati Lenovo.
Sementara itu, perjalanan Scott Redding di kelas utama tidak berlangsung semulus Marquez. Setelah menjadi runner-up Moto2 pada tahun 2013, pembalap asal Inggris tersebut naik ke MotoGP bersama Gresini Honda. Ia kemudian memperkuat Pramac Ducati pada 2015 sebelum bergabung dengan Gresini Aprilia pada 2018.
Setelah menjalani sekitar lima tahun di kelas utama tanpa mampu menunjukkan performa yang konsisten, Redding akhirnya meninggalkan MotoGP dan beralih ke ajang World Superbike hingga akhir 2025. Kini, pembalap berusia 33 tahun tersebut melanjutkan karirnya di British Superbike Championship.
Redding Soroti Dukungan Keuangan dan Peralatan
Perbedaan perjalanan karir dengan Marquez membuat Redding menilai bahwa keberhasilan seorang pembalap tidak hanya ditentukan oleh kemampuan di lintasan. Menurutnya, dukungan finansial, sponsor, tim, serta kualitas motor turut memainkan peran besar.
“Hal itu selalu menjadi topik pembicaraan utama, dan tentu saja itu ada pengaruhnya. Namun faktor terbesarnya adalah uang dan dukungan yang diterima Marc Marquez, dimana dukungan ini tidak saya dapatkan,” ujar Redding.
Redding kemudian membandingkan situasi yang dialaminya dengan perjalanan Marquez sejak kelas 125cc. Pada 2008, Redding memperkuat Blusens Aprilia, sedangkan Marquez membalap bersama Repsol KTM sebelum kemudian bergabung dengan Red Bull KTM Ajo.
“Dia selalu mendapatkan motor terbaik. Di Moto2, dia memiliki tim sendiri dengan orang-orang pilihannya sendiri. Kemudian ketika pindah ke MotoGP, seluruh tim ikut pindah bersamanya,” jelas Redding.
Menurutnya, dukungan tersebut memberikan keuntungan tersendiri bagi Marquez dalam membangun kariernya hingga mencapai level tertinggi.
Persoalkan Perbedaan Aturan Rookie
Redding juga menyinggung regulasi rookie yang pernah berlaku di MotoGP. Aturan tersebut sebelumnya mewajibkan pembalap pendatang baru untuk memulai karier di kelas utama melalui tim satelit sebelum mendapatkan kesempatan bergabung dengan tim pabrikan.
Menurut Redding, Marquez datang ke MotoGP pada momentum ketika aturan tersebut sudah tidak berlaku.
“Aturan itu hanya berlaku selama dua tahun. Saat Marquez tiba, aturan itu sudah tidak berlaku lagi. Dia langsung bergabung dengan tim pabrikan Honda. Saya tidak sedang mengeluh, tetapi itulah perbedaannya,” kata Redding.
Ia menilai kesempatan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat jalur karier Marquez berbeda dibandingkan dirinya.
Redding Kritik Minimnya Dukungan dari Inggris
Selain persoalan sponsor dan regulasi, Redding juga menyoroti dukungan terhadap pembalap Inggris. Menurutnya, kewarganegaraan tidak semestinya dijadikan alasan ketika membahas keberhasilan atau kegagalan seorang pembalap.
“Saya tidak percaya paspor Inggris menjelaskan semuanya. Menurut saya kata ‘paspor’ hanya menjadi alasan, hanyalah label yang kita gunakan untuk menutupi kenyataan bahwa kita tidak berbuat lebih banyak untuk membantu pembalap kita,” ungkapnya.
Redding bahkan mempertanyakan mengapa perusahaan-perusahaan besar Inggris tidak memberikan dukungan lebih besar kepada pembalap berbakat dari negaranya.
“Kenapa tidak ada perusahaan besar Inggris yang berkata, ‘kita memiliki salah satu pembalap Inggris terbaik di dunia, dia pernah memenangkan Grand Prix di kandang sendiri, dia punya masa depan cerah, mari kita berikan dia motor tim pabrikan’. Hal itu tidak pernah terjadi,” tuturnya.
Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan dukungan yang diterima Marquez dari sponsor besar seperti Repsol dan Red Bull.
“Marquez didukung dua sponsor raksasa yakni Repsol dan Red Bull. Mustahil kita tidak bisa menandingi dalam hal seperti itu,” lanjutnya.
Pengalaman dengan Honda pada 2015
Redding juga mengingat salah satu pengalaman yang menurutnya menggambarkan perbedaan perlakuan terhadap pembalap dalam tim pabrikan. Peristiwa tersebut terjadi pada 2015 ketika dirinya masih memperkuat Marc VDS.
Saat itu Honda mengawali musim dengan sasis yang dinilai Redding tidak memberikan hasil sesuai harapan. Dani Pedrosa dan Marc Marquez kemudian mendapat kesempatan menggunakan sasis berbeda, sedangkan Redding mengaku tidak menerima perlakuan yang sama.
"Pada akhirnya kita hanya mendapatkan sisa-sisanya, namun orang-orang tetap mengharapkan keajaiban dari kita. Itu tidak akan berhasil. Saya sempat bertahan untuk beberapa waktu, tetapi pada semuanya akhirnya harus berakhir," ujar Redding.
Ia juga mengungkapkan bahwa Marquez sendiri pernah menyampaikan rasa simpatinya terhadap kondisi yang dialaminya.
"Saya teringat sebuah kejadian pada tahun 2015. Saat itu saya masih bersama tim Marc VDS. Waktu itu motor Honda memulai musim dengan sasis yang tidak memberikan hasil sesuai harapan. Sementara Dani Pedrosa dan Marquez bisa beralih menggunakan sasis yang berbeda, tetapi saya tidak mendapatkan perlakuan yang sama. Marc pernah mengatakan kepada saya bahwa dia merasa kasihan pada saya, karena dia tahu bertahan berat yang harus saya alami," pungkas Redding.
Pernyataan Redding tersebut kembali membuka pembahasan mengenai besarnya pengaruh dukungan sponsor, kualitas perangkat balap, regulasi, serta struktur tim terhadap perjalanan seorang pembalap di level tertinggi. Meski memiliki titik awal karir yang hampir bersamaan, Redding dan Marquez akhirnya menempuh jalur yang sangat berbeda di dunia balap motor.
