Reevva dan Cinta yang Tumbuh lalu Runtuh dalam “A BAD GOOD PLAN”
Reevva.(poto/ist)
JAKARTA, Satuju.com - Reevva A BAD GOOD PLAN bukan sekadar debut mini album bagi Muhammad Reeva Zulfaqar. Di usia 18 tahun, musisi muda ini memilih menjadikan cinta yang tak selesai sebagai bahan bakar tujuh lagu dalam karya perdananya.
Dirilis pada 21 Agustus 2026, “A BAD GOOD PLAN” menyusuri perjalanan perasaan yang bergerak tanpa garis lurus. Ada keraguan, penyangkalan, keyakinan, lalu keruntuhan ketika harapan berhadapan dengan kenyataan.
Reevva tidak mencoba membungkus cerita itu sebagai kisah cinta yang telah menemukan titik damai. Sebaliknya, ia mempertahankan keganjilan dan kerentanan yang muncul ketika seseorang belum benar-benar selesai dengan perasaannya.
Pilihan tersebut sejalan dengan cara Reevva mengenal musik. Ia memulai proses kreatif dari hal yang sangat sederhana: merekam keluh kesah melalui aplikasi perekam suara di telepon seluler.
Awalnya, membuat lagu bahkan bukan perkara mengejar karier. Reevva menciptakan musik untuk menarik perhatian perempuan yang disukainya. Dari motif yang personal itu, kebiasaan menulis dan merekam berkembang menjadi proses produksi yang lebih serius.
Dalam penggarapan “A BAD GOOD PLAN”, Reevva mengerjakan hampir seluruh proses kreatif. Ia menulis lirik, menyusun melodi, memainkan instrumen, hingga memproduksi musiknya sendiri.
Musiknya bergerak di wilayah pop dan synthpop. Pengaruh The 1975, LANY, Ed Sheeran, dan Arash Buana terdengar dalam lanskap musik yang ia bangun. Namun Reevva memilih istilahnya sendiri untuk menjelaskan karakter karya tersebut: “music for cars”.
Istilah itu merujuk pada musik yang menurutnya cocok menemani perjalanan malam atau ketika kepala sedang penuh. Ada suasana intim yang ingin dipertahankan Reevva—musik yang tidak sekadar terdengar, tetapi menemani pendengar dalam ruang dan pikirannya masing-masing.
Di titik ini, “A BAD GOOD PLAN” menjadi semacam catatan perjalanan emosional. Tujuh lagu di dalamnya tidak disusun untuk memberikan jawaban sederhana mengenai cinta. Album tersebut justru memperlihatkan bagaimana perasaan dapat tumbuh, diyakini, kemudian patah ketika kenyataan tidak mengikuti rencana.
Babak berikutnya datang melalui “Running Out”. Lagu tersebut mendapat penguatan visual lewat video musik perdana Reevva yang dijadwalkan rilis pada 21 Agustus 2026.
Video musik “Running Out” mengusung atmosfer moody dan membawa konsep “music for cars” ke layar. Pendekatan visual itu menjadi bagian dari upaya Reevva membangun identitas sejak awal kemunculannya.
Di tengah industri musik yang kerap menuntut produksi serba besar, Reevva mengambil jalur yang lebih personal. Ia memilih mengendalikan proses kreatifnya sendiri dan menempatkan kejujuran sebagai pusat karya.
Baginya, musik bukan perlombaan untuk menghasilkan sesuatu yang paling megah. Musik, bagi Reevva, adalah ruang untuk menjadi jujur sekaligus tempat pulang bagi pendengar.
“A BAD GOOD PLAN” pun akhirnya berdiri sebagai potret cinta yang belum sepenuhnya reda. Bukan kisah tentang bagaimana seseorang berhasil melupakan, melainkan tentang bagaimana perasaan yang pernah diyakini bisa berubah menjadi sesuatu yang harus dihadapi.(Ysf)
