Mikroba Usus Kelaparan, Tubuh Sendiri Bisa Jadi Santapan

Poto Ai hanya ilustrasi, Riset Princeton mengungkap mikroba usus dapat memanfaatkan protein dari lapisan pelindung usus ketika asupan serat menipis.(poto/ist/Ahmadie Tahaha)

Satuju.com - Mikroba usus kekurangan serat dapat mengubah peta metabolisme di dalam tubuh. Ketika bahan makanan yang biasanya menjadi santapan bakteri menipis, sebagian mikroba dapat beralih memanfaatkan protein dari lapisan lendir yang melindungi dinding usus.

Temuan ini berasal dari penelitian Jenna E. AbuSalim, Joshua D. Rabinowitz, dan kolega mereka dari Princeton University serta Ludwig Institute for Cancer Research. Hasil penelitian diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 11 Agustus 2026.

Penelitian berjudul Digestion-resistant proteins support the healthy metabolite profiles associated with plant-based diets tersebut sebelumnya terbit secara daring pada 27 Juli 2026.

Selama ini serat lebih sering dipromosikan sebagai penunjang kelancaran pencernaan. Ia membantu pembentukan tinja, memperpanjang rasa kenyang, dan berkaitan dengan kesehatan metabolik.

Tetapi riset ini menunjukkan cerita yang lebih dalam.

Serat bukan hanya makanan untuk manusia. Ia juga menjadi bekal bagi mikroba yang hidup di usus besar.

Ketika bekal itu cukup, mikroba mempunyai bahan yang dapat mereka olah. Ketika pasokannya berkurang, mereka tidak serta-merta berhenti bekerja.

Mereka mencari sumber lain.

Mikroba Tidak Kelaparan, Mereka Beradaptasi

Usus besar dihuni komunitas mikroba dalam jumlah sangat besar. Mikroorganisme tersebut memanfaatkan berbagai komponen makanan yang tidak selesai dicerna oleh tubuh.

Serat dan sejumlah protein tumbuhan dapat lolos dari pencernaan di usus halus. Bahan itu kemudian masuk ke usus besar dan menjadi sumber makanan mikroba.

Penelitian AbuSalim dan Rabinowitz secara khusus menyoroti digestion-resistant proteins, yakni protein yang tahan terhadap proses pencernaan manusia.

Dalam rilis Ludwig Institute, AbuSalim menyebut kelompok protein tersebut sebagai proteins imitating fiber atau Prif.

Peneliti menemukan bahwa serat dan protein tahan cerna dapat mengarahkan mikroba menghasilkan profil metabolit yang lebih menguntungkan.

Persoalannya muncul ketika sumber tersebut berkurang.

Sebagian mikroba kemudian dapat menggunakan protein yang tersedia dari lingkungan tubuh. Salah satu sumber yang mereka temukan adalah mucin.

Mucin merupakan protein utama pada lapisan lendir yang melapisi dan melindungi permukaan bagian dalam usus.

Di sinilah paradoksnya.

Lapisan yang seharusnya menjadi benteng perlindungan tubuh justru dapat menjadi sumber makanan ketika pasokan dari luar tidak mencukupi.

Tentu bakteri tidak sedang menyerang manusia. Mereka tidak mempunyai agenda untuk menghancurkan tubuh.

Mereka hanya mengikuti mekanisme metabolisme.

Ada bahan yang tersedia, bahan itu diproses.

Dinding Usus Bukan Sekadar Lendir

Mucin membentuk lapisan pelindung yang membantu memisahkan komunitas mikroba dari sel-sel usus.

Karena itu, pemanfaatan protein lapisan tersebut bukan perkara sepele. Jika aktivitas mikroba terhadap komponen pelindung meningkat, keseimbangan ekosistem usus juga dapat berubah.

Para peneliti menggunakan teknik stable isotope tracing untuk membongkar jalur tersebut.

Metode ini menggunakan penanda isotop stabil untuk mengikuti perjalanan molekul di dalam tubuh. Dengan teknik tersebut, ilmuwan dapat melacak asal bahan yang digunakan mikroba dalam menghasilkan metabolit tertentu.

Hasilnya menunjukkan bahwa ketika mikroba mengolah tirosin dan menghasilkan phenol sulfate serta p-cresol sulfate, sumber bahan bakunya dapat berasal dari protein yang disekresikan tubuh sendiri.

Salah satu sumber utama protein tersebut adalah mucin.

Temuan ini melahirkan gambaran yang cukup mengganggu: ketika makanan bagi mikroba berkurang, sebagian dari mereka dapat beralih menggunakan bahan penyusun "rumah" tempat mereka hidup.

Bukan karena mereka jahat.

Justru karena mereka bertahan hidup.

Makanan Tumbuhan Punya Dua Konsumen

Riset tersebut juga menunjukkan bahwa makanan tumbuhan dapat memberikan manfaat pada dua pihak sekaligus: manusia dan mikroba usus.

Serat menjadi bahan bakar bagi komunitas mikroba. Protein tumbuhan yang tahan terhadap pencernaan juga dapat mencapai usus besar dan diproses oleh bakteri.

Ketika bakteri memproses fenilalanin dari tumbuhan, penelitian menemukan pembentukan metabolit seperti hippuric acid dan 3-phenylpropionate.

Sebaliknya, pemrosesan tirosin yang berasal dari protein tubuh dapat menghasilkan phenol sulfate dan p-cresol sulfate. Kedua senyawa tersebut diketahui berpotensi merugikan dan berkaitan dengan fungsi ginjal.

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa hubungan antara tubuh dan mikrobioma tidak sesederhana membedakan metabolit sebagai produk bakteri atau manusia.

Penelitian kelompok yang sama dalam Nature Metabolism pada 23 Juni 2026 menunjukkan sel mamalia juga mampu menghasilkan sejumlah metabolit indole dan phenol secara mandiri tanpa bantuan mikrobioma.

Dengan demikian, tubuh manusia dan mikroba usus sebenarnya terlibat dalam jaringan metabolisme yang jauh lebih kompleks.

Pertanyaannya Bukan Hanya: Ada Bakteri Baik?

Perbincangan mengenai kesehatan usus selama ini sering berhenti pada pertanyaan apakah seseorang memiliki cukup "bakteri baik".

Riset ini menggeser pertanyaan tersebut.

Bukan hanya siapa yang hidup di dalam usus, tetapi apa yang mereka makan.

Di laboratorium, ilmuwan dapat menggunakan stable isotope tracing untuk mengetahui asal bahan baku metabolisme mikroba.

Di rumah, manusia tentu tidak memiliki perangkat tersebut.

Namun sumber informasinya ada di tempat paling sederhana: piring makan.

Keragaman makanan nabati dan kecukupan serat menjadi salah satu cara menyediakan bahan bagi mikroba yang hidup di usus besar.

Sebab mikroba bukan sekadar penghuni tubuh.

Mereka juga konsumen.

Jika pasokan makanan mereka cukup, mereka memanfaatkan bahan yang tersedia dari makanan. Jika pasokan itu berubah drastis, sebagian dari mereka dapat mengalihkan metabolisme ke sumber lain.

Termasuk protein dari lapisan pelindung usus.

Maka metafora "mikroba memakan kita" memang terdengar seperti cerita fiksi ilmiah. Tetapi di balik metafora itu terdapat persoalan biologis yang nyata: ekosistem usus membutuhkan pasokan makanan yang memadai agar tetap seimbang.

Dan mungkin, selama ini manusia terlalu sibuk menghitung jumlah bakteri baik, tetapi lupa menyediakan makanan untuk mereka.

Penulis: Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 22 Agustus 2026


BERITA TERKAIT