Ujian Terberat Ruben Onsu: Cerai, Tekanan Ekonomi, Kini Jadi Tersangka

Ruben Onsu.(poto/ist/Erizal)

Oleh: Erizal

Satuju.com - Ada masa ketika hidup seseorang seperti tidak memberi jeda. Ruben Onsu sepertinya sedang berada di fase itu.

Perceraian belum sepenuhnya menjadi cerita lama. Tekanan ekonomi datang setelahnya. Ia kemudian memilih jalan spiritual dengan memeluk Islam. Publik belum menyelesaikan pembicaraan tentang perubahan hidup tersebut, masalah hukum telah diketuk.

Ruben kini berstatus tersangka dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan di Polres Metro Jakarta Selatan. Laporan perkara itu dibuat pada Agustus 2025 dan setahun kemudian kasusnya memasuki tahap yang lebih serius dengan ditetapkannya Ruben sebagai tersangka.

Menyusun peristiwa itu memang mudah dijadikan satu cerita. Terlalu mudah.

Cerai. Pindah agama. Bisnis menurun. Kemudian tersangka.

Tetapi hidup tidak selamanya konsisten.

Kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, mengungkap bahwa kondisi ekonomi kliennya memang mengalami tekanan setelah perceraian. Permasalahan pembagian dan penguasaan aset, ditambah bisnis yang menurun, menjadi permasalahan yang harus dihadapi secara bersamaan.

Dengan kata lain, setelah rumah tangga bubar, persoalan tidak ikut bubar.

Justru ada tagihan kehidupan baru yang harus dibayar.

Ruben juga mengambil keputusan besar dalam kehidupan spiritualnya. Ia memeluk Islam setelah perceraian. Keputusan itu kemudian mendapat perhatian publik, apalagi baru lima bulan setelah menjadi mualaf, Ruben berangkat umrah.

Bukan sekali.

Dalam kurun waktu setahun memeluk Islam, Ruben disebut telah empat kali menjalankan ibadah umrah.

Bagi publik, tentu mudah membuat kesimpulan. Apalagi manusia memang gemar mencari hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Perceraian dianggap sebagai penyebab perpindahan agama. Perpindahan agama dianggap sebagai bagian dari pengungsi. Tekanan ekonomi kemudian dianggap sebagai konsekuensi.

Padahal Ruben sudah berkali-kali menolak menganggap bahwa perceraian menjadi alasan ia memeluk Islam.

Ia mengatakan ketertarikannya terhadap Islam telah muncul jauh sebelum keputusan tersebut. Pilihan itu, menurut Ruben, telah dipikirkan secara matang dan bukan karena paksaan.

Maka masalah keyakinan seharusnya berhenti menjadi masalah keyakinan.

Begitu pula perkara hukum.

Status tersangka memang membawa konsekuensi serius. Nama baik dipertaruhkan, sorotan publik diperbesar, dan proses hukum harus dihadapi. Namun satu hal yang juga perlu diingat: tersangka bukan berarti penjara, apalagi orang yang terbukti bersalah.

Hukum belum menjatuhkan vonis.

Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mengambil alih pekerjaan pengadilan dengan membuat vonis sendiri di ruang komentar.

Ruben sekarang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Satu sisi adalah kehidupan pribadi yang berubah setelah perceraian. Sisi lain adalah tekanan ekonomi dan bisnis. Di depan, ada perkara hukum yang harus ia hadapi.

Semuanya datang hampir bersamaan.

Ironisnya, masyarakat sering kali lebih tertarik pada drama jatuhnya seseorang dibandingkan proses bagaimana orang itu bangkit.

Padahal Ruben bukanlah orang yang tiba-tiba menemukan kesuksesan. Ia pernah membangun karir dan bisnis dari bawah. Ia tahu rasanya tidak punya apa-apa sebelum kemudian memiliki sesuatu.

Oleh karena itu, kembali ke titik rendah seharusnya tidak membuat seseorang benar-benar kehilangan bekal.

Pengalaman tetap ada.

Yang sedang diuji sekarang bukan hanya uang, karier, atau popularitas. Yang diuji adalah daya tahan.

Ruben mungkin sedang kehilangan banyak hal dalam waktu berdekatan. Tetapi kehilangan bukan selalu akhir cerita. Kadang-kadang hidup memang harus memaksa seseorang mengungkap kembali bangunan yang pernah dibuatnya untuk mengetahui mana yang benar-benar kokoh.

Soal perkara hukum, biarkan proses membuktikannya.

Soal kehidupan pribadi, biarkan Ruben menjalaninya.

Dan soal keyakinan, biarkan itu menjadi urusan Ruben dengan Tuhan.

Masyarakat cukup mengawasi dengan kepala dingin.

Sebab dalam perkara hukum, menjadi tersangka belum tentu bersalah. Dan dalam kehidupan, jatuh berkali-kali tidak otomatis membuat seseorang gagal.

Bisa jadi, tepat dari titik paling rendah seseorang belajar bagaimana caranya berdiri lagi.( ERIZAL )