PEDANG, POLITIK, DAN UJIAN KEKUASAAN

Prabowo dan Kesatria Cahaya: Saat Pedang Tak Selalu Diayunkan

Poto Ai hanya ilustrasi, SENI TEMPUR KESATRIA CAHAYA.(poto/ist/Ahmadie Tahaha)

Prabowo dan Kesatria Cahaya menjadi cermin perjalanan politiknya: dari kekalahan, rekonsiliasi, hingga ujian kepemimpinan sebagai presiden.

Satuju.com - Prabowo dan Kesatria Cahaya menjadi menarik dibaca ketika perjalanan politik Presiden Prabowo Subianto disandingkan dengan buku Kitab Suci Kesatria Cahaya karya Paulo Coelho. Buku yang pernah ia rekomendasikan kepada anak muda itu tidak semata berbicara tentang keberanian, tetapi juga tentang memilih pertempuran, membaca lawan, dan mengetahui kapan harus menghunus pedang.

Dalam wawancara dengan Najwa Shihab, Prabowo pernah menyebut Kitab Suci Kesatria Cahaya sebagai salah satu buku yang paling berpengaruh dalam hidupnya. Ia menggambarkannya sebagai buku yang tidak tebal, ringkas, tetapi sarat pelajaran yang membangkitkan semangat.

Pengakuan itu menjadi relevan karena Prabowo sendiri pernah menyinggung buku tersebut dalam Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto terbitan 2021.

Buku Paulo Coelho itu disebut dalam bagian yang membahas gambaran kepemimpinan dan karakter. Di titik inilah buku tersebut dapat dibaca sebagai salah satu pintu untuk melihat perjalanan Prabowo—bukan sebagai kunci tunggal untuk menjelaskan seluruh sosoknya.

Kalah, Bangkit, lalu Mengubah Strategi

Salah satu pesan penting Kitab Suci Kesatria Cahaya adalah cara menghadapi kegagalan. Kesatria bukan sosok tanpa luka. Ia pernah takut, keliru, jatuh, dan kehilangan arah.

Dalam perjalanan politik Prabowo, pola itu terlihat cukup jelas.

Ia mengalami kekalahan dalam Pilpres 2014 dan 2019 sebelum akhirnya memenangkan Pilpres 2024. Dua kekalahan tersebut tidak membuatnya meninggalkan gelanggang politik.

Namun kegigihan Prabowo tidak berhenti pada upaya mengulang strategi yang sama. Ia mengubah pendekatan.

Prabowo yang sebelumnya berada di garis oposisi terhadap pemerintahan Joko Widodo kemudian bergabung ke pemerintahan sebagai Menteri Pertahanan. Rekonsiliasi itu mengubah peta politik sekaligus membuka jalan bagi terbentuknya hubungan politik baru.

Dalam perspektif Coelho, perubahan tersebut dapat dibaca sebagai kemampuan mengubah medan. Kesatria tidak selalu menerobos batu. Ia bisa memilih jalan lain untuk mencapai tujuan.

Lawan Politik Tidak Harus Menjadi Musuh Selamanya

Kekuatan lain dari Kitab Suci Kesatria Cahaya justru terletak pada gagasan bahwa kesatria tidak harus bertempur setiap kali menghadapi lawan.

Coelho menggambarkan kesatria yang memilih memahami lawannya sebelum mengambil tindakan.

«“Dia hanya bertempur jika benar-benar perlu.”»

Gagasan tersebut menarik jika dikaitkan dengan perjalanan politik Prabowo.

Mantan perwira Kopassus itu dikenal dekat dengan bahasa pertahanan, kekuatan, strategi, dan kedaulatan. Namun dalam perjalanan politiknya, ia juga menunjukkan kemampuan berkompromi dengan rival.

Setelah dua kali berhadapan keras dengan Jokowi dalam kontestasi politik, Prabowo justru menjadi bagian dari pemerintahannya.

Langkah itu menunjukkan satu hal penting dalam politik: kemenangan tidak selalu berarti menghancurkan lawan. Dalam kondisi tertentu, kemenangan justru berarti mampu mengubah hubungan dengan lawan menjadi kerja sama.

Ketegasan Diuji oleh Belas Kasihan

Coelho juga menempatkan keseimbangan antara ketegasan dan belas kasihan sebagai bagian penting dari karakter kesatria.

<“Kesatria cahaya selalu menjaga keseimbangan antara ketegasan dan belas kasihan.”>

Pesan ini menjadi salah satu ujian terbesar bagi Prabowo sebagai presiden.

Prabowo kerap menggunakan diksi seperti disiplin, keberanian, kekuatan, kedaulatan, swasembada, dan kepentingan nasional. Namun kekuatan negara tidak hanya diukur dari kemampuan pertahanan.

Program Makan Bergizi Gratis, misalnya, menempatkan pembangunan manusia sebagai salah satu agenda pemerintahan. Pemerintah menyebut program tersebut telah menjangkau puluhan juta penerima manfaat pada 2026.

Program itu tentu tetap harus diuji dari sisi kualitas, anggaran, pengawasan, ketepatan sasaran, dan efektivitas. Tetapi secara gagasan, terdapat pergeseran menarik: kekuatan negara tidak hanya hadir dalam bentuk senjata, melainkan juga melalui makanan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.

Negara yang kuat bukan sekadar negara yang memiliki persenjataan. Negara yang kuat juga harus mampu memastikan anak-anak mendapatkan asupan yang layak dan kesempatan belajar.

Politik Memerlukan Kemampuan Membaca Medan

Dalam Kitab Suci Kesatria Cahaya, kemenangan tidak hanya ditentukan keberanian. Ada iman, sahabat, waktu, ruang, dan strategi.

Prinsip itu memiliki kemiripan dengan pendekatan Prabowo dalam Kepemimpinan Militer. Seorang pemimpin tidak cukup berani. Ia harus mampu membaca situasi, menentukan waktu, memahami kemampuan orang-orang di sekitarnya, dan memilih strategi.

Perubahan Prabowo dari kandidat oposisi menjadi pemimpin koalisi luas memperlihatkan kemampuan adaptasi tersebut.

Sebab memenangi pemilu dan menjalankan pemerintahan membutuhkan kemampuan berbeda.

Kampanye membutuhkan kemampuan memenangkan suara. Pemerintahan membutuhkan kemampuan memenangkan kerja sama.

Ujian Terbesar Bukan Lagi Lawan Politik

Setelah memenangkan Pilpres 2024, medan Prabowo berubah.

Ia tidak lagi berhadapan dengan pasangan calon, panggung debat, atau kampanye. Tantangannya kini lebih konkret: kemiskinan, ketimpangan, pendidikan, kesehatan, korupsi, birokrasi, pangan, energi, hingga daya saing Indonesia.

Karena itu, salah satu pesan Kitab Suci Kesatria Cahaya yang paling relevan bagi seorang presiden adalah kemampuan melakukan koreksi terhadap diri sendiri.

Kesatria tidak hanya bertanya apakah ia menang. Ia juga harus bertanya apakah pertempuran yang dijalankannya memang benar.

Di sinilah kekuasaan mengubah ukuran keberhasilan.

Kemenangan elektoral memberikan mandat. Tetapi mandat tidak otomatis menjadi keberhasilan pemerintahan.

Prabowo harus membuktikan bahwa kekuasaan yang diperolehnya mampu menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat.

Memilih Kawan Sama Pentingnya dengan Mengalahkan Lawan

Coelho juga mengingatkan pentingnya mengenali kemampuan dan kelemahan sekutu.

Gagasan tersebut relevan dengan tantangan pemerintahan Prabowo. Seorang presiden tidak bekerja sendirian. Ia bergantung pada menteri, pejabat, birokrasi, aparat, dan jaringan politik yang berada di sekelilingnya.

Karena itu, kualitas orang-orang yang dipilih menjadi bagian penting dari keberhasilan pemerintahan.

Masalah akan muncul ketika pemimpin gagal mengendalikan atau mengawasi orang-orang yang diberinya kepercayaan.

Dalam konteks ini, ujian Prabowo bukan lagi sekadar keberanian menghadapi lawan politik. Ujian yang lebih berat adalah memastikan orang-orang di sekelilingnya bergerak dalam arah yang sama dan tidak menyalahgunakan kekuasaan.

Kemenangan 2024 Bukan Garis Akhir

Pilpres 2024 merupakan kemenangan besar bagi Prabowo. Namun jika menggunakan kerangka Kitab Suci Kesatria Cahaya, kemenangan itu bukan akhir perjalanan.

Pemilu hanyalah satu pertempuran.

Pertempuran berikutnya jauh lebih panjang: meningkatkan kualitas pendidikan, memperbaiki kesehatan, menekan kemiskinan, memberantas korupsi, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta menjaga posisi Indonesia di tengah persaingan global.

Di bidang luar negeri, pemerintahan Prabowo juga membawa pesan diplomasi dan penyelesaian damai dalam sejumlah konflik internasional. Dukungan terhadap penyelesaian Palestina melalui solusi dua negara menjadi salah satu sikap yang terus ditegaskan Indonesia.

Ada paradoks menarik di sana.

Seorang mantan prajurit yang memahami konsekuensi perang justru dapat melihat pentingnya diplomasi dan negosiasi.

Kesatria, dalam pemikiran Coelho, bukan orang yang selalu menghunus pedang. Ia adalah orang yang memahami kapan pedang harus tetap berada di sarungnya.

Buku Bukan Kunci Tunggal Membaca Prabowo

Namun menjadikan Paulo Coelho sebagai satu-satunya kunci untuk membaca Prabowo tentu terlalu sederhana.

Prabowo dibentuk oleh keluarga, pendidikan, pengalaman militer, sejarah politik Indonesia, pengalaman kekalahan, kemenangan, serta dinamika kekuasaan yang terus berubah.

Buku yang berpengaruh juga tidak otomatis membuat pembacanya menjadi sosok ideal seperti tokoh dalam buku.

Yang lebih masuk akal adalah melihat sejumlah prinsip dalam Kitab Suci Kesatria Cahaya sebagai cermin untuk membaca pola tertentu dalam perjalanan Prabowo.

Kegigihan terlihat dari kemampuannya bangkit setelah kekalahan. Adaptasi terlihat dari perubahan strategi politik. Rekonsiliasi terlihat dari hubungan dengan rival politik. Sementara gagasan tentang kepemimpinan dan keteladanan juga pernah ia rumuskan dalam Kepemimpinan Militer.

Tetapi pada akhirnya, seorang presiden akan diuji bukan oleh buku yang pernah dibacanya.

Ia diuji oleh hasil keputusan yang dibuatnya.

Prabowo telah memperoleh mandat rakyat. Kini ia berhadapan dengan medan yang jauh lebih besar: waktu, anggaran negara, birokrasi, kemiskinan, ketidakadilan, dan masa depan lebih dari 280 juta penduduk Indonesia.

Di titik itulah Kitab Suci Kesatria Cahaya dapat berubah dari sekadar buku motivasi menjadi cermin politik.

Kesatria yang baik bukan orang yang selalu menang. Ia adalah orang yang setelah menang masih mampu bertanya apakah kemenangan itu membawa manfaat bagi orang lain.

Pedang memang penting bagi seorang kesatria.

Namun yang jauh lebih penting adalah tangan yang memegangnya—dan alasan mengapa tangan itu memilih menghunuskannya.

Penulis: Cak AT - Ahmadie Thaha
_Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 23 Agustus 2026_


BERITA TERKAIT