Dolly Parton dan Warisan 332 Juta Buku untuk Anak

Poto Ai hanya ilustrasi, Meta Deskripsi: Dolly Parton meninggal pada usia 80 tahun. Ia meninggalkan warisan besar lewat 332 juta buku gratis untuk anak di lima negara.(poto/ist/Ahmadie Tahaha)

Satuju.com - Dolly Parton meninggalkan warisan yang jauh melampaui musik. Dolly Parton 332 juta buku menjadi salah satu jejak terbesar penyanyi country Amerika itu setelah meninggal dunia pada 25 Agustus 2026 dalam usia 80 tahun. Ia wafat setelah menjalani perjuangan singkat melawan kanker. 

Nama Dolly Parton selama hampir enam dekade identik dengan musik country, rambut pirang menjulang, busana gemerlap, serta lagu-lagu seperti Jolene dan I Will Always Love You. Namun, di balik popularitas tersebut, ia membangun gerakan literasi yang menjangkau jutaan anak.

Melalui Imagination Library, Parton sejak 1995 mengirimkan buku gratis kepada anak-anak sejak lahir hingga usia lima tahun. Program yang bermula di Sevier County, Tennessee, itu kini berkembang ke Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Republik Irlandia. 

Hingga Agustus 2026, program tersebut telah membagikan lebih dari 332 juta buku kepada anak-anak. Jutaan buku dikirim setiap bulan kepada penerima tanpa membebankan biaya kepada keluarga. 

Gagasan tersebut berangkat dari pengalaman masa kecil Parton. Ia tumbuh dalam keluarga miskin di Tennessee dan merupakan salah satu dari 12 bersaudara. Ayahnya, Robert Lee Parton, tidak bisa membaca dan menulis.

Kondisi itu kemudian menjadi salah satu alasan Parton membangun Imagination Library. Ia ingin memastikan anak-anak memiliki akses terhadap buku, tanpa menjadikan kondisi ekonomi keluarga sebagai penghalang.

Sistemnya sederhana. Anak yang terdaftar memperoleh satu buku yang sesuai dengan usianya setiap bulan. Buku dikirim langsung ke rumah dengan nama anak sebagai penerima. Program tersebut dirancang untuk menumbuhkan kegemaran membaca sekaligus memperluas imajinasi sejak usia dini. 

Jumlah distribusinya kini mencapai jutaan buku setiap bulan. Pada 2024, Imagination Library mencatat lebih dari tiga juta anak terdaftar di berbagai negara dan mendistribusikan lebih dari tiga juta buku setiap bulan. 

Bagi Parton, keberhasilan program itu memiliki arti personal. Ia bahkan dikenal sebagai The Book Lady oleh anak-anak yang menerima buku.

Warisan sosial Parton tidak berhenti pada literasi. Ia juga memberikan dukungan untuk penelitian vaksin Covid-19. Pada 2020, Parton menyumbangkan US$1 juta kepada Vanderbilt University Medical Center yang mendukung riset awal vaksin Moderna. 

Ketika kebakaran besar melanda kawasan Great Smoky Mountains pada 2016, yayasan miliknya juga menyalurkan bantuan kepada warga terdampak. Ia membangun reputasi sebagai figur publik yang tidak sekadar menyumbangkan uang, tetapi menciptakan program dengan dampak berkelanjutan.

Di luar kegiatan sosial, Parton dikenal sebagai pengusaha yang cermat menjaga aset kreatifnya. Ia mempertahankan hak atas karya-karya musiknya dan mengembangkan bisnis di luar industri rekaman.

Salah satu hasil ekspansi bisnis tersebut adalah Dollywood, taman hiburan di Tennessee yang berkembang menjadi salah satu destinasi wisata penting di negara bagian itu. 

Keputusan mempertahankan hak cipta juga terbukti penting bagi kekayaan Parton. Lagu I Will Always Love You, misalnya, kembali meraih kesuksesan besar ketika dinyanyikan Whitney Houston.

Lagu tersebut kerap keliru dianggap sebagai lagu tema Titanic. Padahal, lagu tema film tersebut adalah My Heart Will Go On yang dinyanyikan Celine Dion.

I Will Always Love You justru memiliki sejarah sendiri. Parton menulisnya pada 1973 sebagai lagu perpisahan profesional dengan Porter Wagoner, mitra panggungnya saat itu.

Kehidupan pribadi Parton juga menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya. Ia menikah dengan Carl Dean pada 1966 setelah bertemu di sebuah laundromat di Nashville. Dean dikenal sangat menjaga privasi dan hampir tidak pernah tampil di hadapan publik.

Pernikahan mereka berlangsung hampir enam dekade hingga Dean meninggal dunia pada Maret 2025 dalam usia 82 tahun. Parton kemudian mengungkap bahwa selama masa sakit suaminya, ia banyak menjalankan peran sebagai pendamping dan perawat keluarga.

Pengalaman tersebut memperlihatkan sisi lain kehidupan seorang figur publik. Di balik panggung dan kesuksesan bisnis, Parton tetap menghadapi persoalan domestik yang juga dialami jutaan keluarga: merawat orang terdekat yang sakit.

Peran caregiver keluarga sering berlangsung tanpa pelatihan formal dan tanpa kompensasi. Anggota keluarga harus mengatur obat, mendampingi pemeriksaan, membantu aktivitas sehari-hari, sekaligus menjaga kondisi emosional pasien.

Beban tersebut dapat membuat perawat keluarga mengabaikan kesehatan dirinya sendiri. Karena itu, pengalaman Parton juga menjadi pengingat bahwa dukungan bagi caregiver seharusnya tidak berhenti ketika pasien meninggal dunia.

Kematian Parton tidak tepat disederhanakan sebagai akibat patah hati setelah kehilangan suaminya. Penyebab kematiannya adalah kanker setelah perjuangan singkat melawan penyakit tersebut. 

Meski kehilangan pasangan dapat memengaruhi kondisi kesehatan seseorang, hubungan sebab-akibat tidak dapat disimpulkan hanya dari jarak waktu kematian keduanya.

Yang lebih penting dari kisah tersebut adalah warisan yang ditinggalkan Parton. Ia mengubah ketenaran menjadi program sosial yang terukur, dari jutaan buku anak hingga dukungan terhadap riset medis dan bantuan bencana.

Musiknya mungkin akan terus diputar. Namun, salah satu warisan paling nyata Dolly Parton justru hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: buku yang tiba di depan pintu rumah seorang anak.

Lebih dari 332 juta buku telah menjadi bukti bahwa popularitas dapat diubah menjadi infrastruktur kebaikan yang bekerja lintas generasi.

Penulis: Cak AT - Ahmadie Thaha
.Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 29/8/2026.


BERITA TERKAIT