3 Cara Membuat Pupuk dari Kulit Pisang, Bisa Cair hingga Kompos
Kulit Pisang. (poto/net)
Jakarta, Satuju.com — Kulit pisang yang selama ini sering berakhir sebagai limbah dapur ternyata dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik. Kandungan kalium, fosfor, kalsium, dan magnesium di dalamnya membuat kulit pisang berpotensi menjadi bahan alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.
Ada tiga metode sederhana yang dapat dilakukan untuk mengolah kulit pisang menjadi pupuk, yakni melalui fermentasi menjadi pupuk cair, dikeringkan menjadi bubuk, serta dikomposkan atau dikubur langsung ke dalam tanah.
Pemanfaatan kulit pisang sebagai pupuk juga mendapat perhatian dalam penelitian pertanian. Berdasarkan observasi penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal MDPI, kulit pisang merupakan sumber daya terbarukan yang memiliki kandungan kalium cukup tinggi dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pupuk alternatif.
1. Pupuk Cair Kulit Pisang
Pembuatan pupuk cair melalui proses fermentasi menjadi salah satu metode yang cukup praktis dilakukan di rumah. Proses penguraian juga membantu mengurangi bau yang dapat muncul jika kulit pisang digunakan dalam kondisi mentah.
Bahan-bahan yang diperlukan antara lain kulit pisang, air bersih, gula pasir atau molase, serta botol atau stoples sebagai wadah fermentasi. Pisau atau blender dapat digunakan untuk memperkecil ukuran kulit pisang.
Pertama, cuci dan potong kulit pisang menjadi bagian kecil. Kulit juga dapat dihaluskan menggunakan blender agar proses penguraian berlangsung lebih cepat.
Selanjutnya, larutkan gula ke dalam air. Takaran yang dapat digunakan sekitar satu sendok makan gula untuk 250 mililiter air atau dua sendok makan untuk wadah berkapasitas sekitar 1.500 mililiter.
Masukkan potongan kulit pisang ke dalam larutan tersebut, kemudian tambahkan air hingga menyisakan ruang sekitar 5-7 sentimeter dari bagian atas wadah. Ruang tersebut diperlukan untuk menampung gas yang dihasilkan selama fermentasi.
Tutup wadah dan simpan di tempat teduh selama sekitar 7-10 hari. Tutup wadah perlu dibuka sebentar secara berkala untuk melepaskan gas hasil fermentasi.
Fermentasi yang berjalan baik umumnya ditandai dengan aroma asam manis dan perubahan warna cairan menjadi kecokelatan. Sebaliknya, aroma busuk yang sangat menyengat dapat menjadi tanda bahwa proses fermentasi tidak berjalan dengan baik.
Setelah fermentasi selesai, cairan disaring untuk memisahkan ampasnya. Sebelum digunakan, pupuk cair sebaiknya diencerkan dengan air, misalnya dengan perbandingan sekitar 1:10.
Larutan kemudian dapat disiramkan ke media tanam di sekitar pangkal tanaman. Penggunaan langsung pada batang dan daun sebaiknya dihindari.
Sejumlah tinjauan penelitian juga menunjukkan potensi pupuk berbahan kulit pisang dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Laporan yang merangkum lebih dari 120 studi menyebutkan adanya peningkatan pada sejumlah parameter pertumbuhan, termasuk perkecambahan, ukuran daun, dan tinggi tanaman, dibandingkan tanah tanpa perlakuan.
2. Pupuk Bubuk dari Kulit Pisang
Metode berikutnya adalah mengeringkan kulit pisang kemudian mengolahnya menjadi bubuk. Cara ini cocok bagi masyarakat yang ingin menyimpan pupuk dalam waktu lebih lama dan menggunakannya secara bertahap.
Kulit pisang terlebih dahulu dicuci hingga bersih dan dipotong kecil atau memanjang. Potongan tersebut kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama sekitar satu hingga dua hari hingga benar-benar kering dan renyah.
Selain dijemur, kulit pisang juga dapat dikeringkan menggunakan oven dengan suhu rendah. Pastikan kulit benar-benar kering sebelum dihaluskan agar tidak mudah berjamur saat disimpan.
Kulit yang sudah kering kemudian digiling menggunakan blender, penggiling kopi, atau ulekan hingga menjadi bubuk.
Bubuk kulit pisang dapat disimpan dalam stoples atau wadah kedap udara. Saat digunakan, taburkan secukupnya di sekitar pangkal tanaman atau campurkan dengan tanah. Bubuk kemudian dapat ditutup tipis menggunakan tanah agar proses pelepasan nutrisi berlangsung secara perlahan.
Dibandingkan kulit pisang segar, bentuk kering cenderung lebih praktis untuk disimpan dan dapat digunakan sebagai sumber bahan organik secara bertahap.
3. Dikomposkan atau Dikubur Langsung
Cara paling sederhana memanfaatkan kulit pisang adalah dengan memasukkannya ke dalam tumpukan kompos atau menguburnya langsung di tanah.
Kulit pisang sebaiknya dipotong kecil, sekitar satu sentimeter, agar lebih cepat terurai. Potongan tersebut kemudian dapat dikuburkan beberapa sentimeter di dalam tanah di sekitar tanaman.
Jika memilih metode kompos, kulit pisang dapat dicampurkan dengan bahan organik lainnya, seperti sisa sayuran dan ampas kopi. Campuran tersebut perlu diaduk secara berkala untuk menjaga sirkulasi udara selama proses penguraian.
Setelah kompos matang dan berubah menjadi bahan berwarna gelap menyerupai tanah, kompos dapat dicampurkan ke lapisan atas media tanam atau diberikan di sekitar tanaman.
Pengomposan juga menjadi salah satu cara yang relatif praktis untuk mengolah limbah dapur sekaligus meningkatkan kandungan bahan organik di dalam tanah. Kulit pisang yang dipotong kecil akan lebih cepat terurai dibandingkan potongan berukuran besar.
Bisa Jadi Alternatif Pemanfaatan Limbah Dapur
Pemanfaatan kulit pisang sebagai pupuk tidak hanya membantu menyediakan bahan organik bagi tanaman, tetapi juga dapat mengurangi jumlah limbah dapur yang berakhir di tempat pembuangan.
Bagi masyarakat yang memiliki tanaman di pekarangan rumah, metode ketiga dapat dipilih sesuai kebutuhan. Pupuk cair dapat digunakan setelah melalui fermentasi, bubuk kulit pisang lebih mudah disimpan, sedangkan metode kompos cocok bagi mereka yang ingin mengolah limbah organik sekaligus memperbaiki kualitas media tanam.
Meski demikian, penggunaan pupuk berbahan kulit pisang sebaiknya tetap dilakukan secara wajar. Pupuk organik dari satu jenis bahan tidak selalu dapat memenuhi seluruh kebutuhan unsur hara tanaman, sehingga pemupukan perlu disesuaikan dengan jenis tanaman dan kondisi media tanam.
