Pernikahan Qori dan Zizi, Jejaring Silaturahmi Berkumpul di Al-Ittifaqiah
poto Ai hanya ilustrasi, Pernikahan Qori dan Zizi di Al-Ittifaqiah mempertemukan tokoh lintas daerah sekaligus menunjukkan kuatnya jejaring silaturahmi.(poto/ist/Ahmadie Tahaha)
INDRALAYA, Satuju.com - Pernikahan Qori dan Zizi di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, pada Sabtu, 29 Agustus 2026, bukan sekadar perhelatan keluarga. Acara tersebut mempertemukan jejaring sahabat, ulama, akademisi, pejabat, pengusaha, aktivis, dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah.
Akad dan resepsi berlangsung di Aula KH Ahmad Qori Nuri, Kampus D Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah, Tanjung Lubuk, Indralaya Selatan. Sejumlah tamu datang dari luar Sumatera Selatan, termasuk Sumatera Utara dan Jakarta.
Deretan kendaraan dan bus dari berbagai daerah memenuhi lokasi acara. Para tamu menempuh perjalanan ratusan kilometer untuk menghadiri pernikahan, memberikan doa kepada kedua mempelai, sekaligus kembali menjalin hubungan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Suasana tersebut membuat perhelatan Qori dan Zizi tampak berbeda. Seorang tamu bahkan menyebut susunan panitianya seperti perhelatan di lingkungan keraton.
“Ini kayak pernikahan di keraton.”
Kesan itu muncul dari buku susunan panitia yang memuat 12 halaman. Nama-nama di dalamnya berasal dari beragam latar belakang, mulai dari guru besar, doktor, kiai, pejabat pemerintah, akademisi, pengusaha, aktivis, tokoh masyarakat hingga sahabat keluarga.
Struktur kepanitiaannya juga tersusun lengkap, mulai dari pelindung, penanggung jawab, penasihat, pengarah, pelaksana hingga sekretariat. Jejaring tersebut membentang dari Indralaya dan Palembang hingga Sumatera Utara, Jakarta, serta sejumlah daerah lainnya.
Di balik perhelatan itu terdapat sosok Dr. K.H. Mudrik Qori, M.A., yang dikenal luas sebagai penggerak Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah. Ia kerap disebut sebagai “ulama terbang” karena aktivitasnya yang terus bergerak membangun hubungan antarpesantren, kampus dan komunitas di berbagai daerah.
Mudrik Qori merupakan alumni Fakultas Adab, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang kini menjadi UIN Jakarta. Ia menyelesaikan pendidikan tersebut pada 1991.
Semasa menjadi mahasiswa, Mudrik aktif dalam organisasi dan gerakan mahasiswa. Pada 1985, ia tercatat sebagai bagian dari tim perumus AD/ART Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka).
Ia kemudian melanjutkan kiprahnya di dunia pendidikan hingga memperoleh gelar doktor di bidang tilawatil Qur’an, bidang yang relatif jarang ditekuni dalam pendidikan akademik.
Jejaring yang terbentuk sejak masa muda itu turut menjelaskan banyaknya tokoh lintas profesi yang hadir dalam pernikahan Qori dan Zizi. Pernikahan menjadi ruang pertemuan kembali bagi orang-orang yang pernah berada dalam satu perjalanan pendidikan, organisasi, perjuangan, maupun pengabdian.
Mudrik kembali ke Indralaya dan melanjutkan kepemimpinan pesantren yang diwariskan ayahnya, K.H. Ahmad Qori Nuri, sejak 1998.
Di bawah kepemimpinannya, Al-Ittifaqiah mengembangkan manajemen, sumber daya manusia, sarana pendidikan, serta berbagai program pembelajaran. Lembaga tersebut kemudian berkembang hingga menaungi Universitas Al-Qur'an Ittifaqiah (UQI).
UQI sebelumnya berkembang dari STIQI pada 2000 dan kemudian berubah menjadi institut pada 2021. Perkembangan itu memperluas jangkauan pendidikan Al-Ittifaqiah sekaligus membangun jejaring alumni dan sivitas akademika yang semakin besar.
Dalam konteks tersebut, pernikahan Qori dan Zizi menjadi gambaran tentang bagaimana hubungan sosial dapat tumbuh menjadi modal sosial. Kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun membuat orang bersedia hadir, memberikan dukungan, serta menjaga hubungan meski terpisah jarak.
Perhelatan itu juga memperlihatkan kuatnya tradisi perkawinan masyarakat Palembang. Prosesi adat mengenal sejumlah tahapan, antara lain madik, menyenggung, berasan, mutuske kato, nganterke belanjo, akad hingga munggah.
Munggah menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi perkawinan Palembang. Prosesi tersebut menjadi simbol naiknya pasangan pengantin menuju fase kehidupan baru, sekaligus menjadi ruang pertemuan keluarga dan kerabat.
Dalam perkawinan, pertemuan tidak hanya terjadi antara dua orang. Dua keluarga besar ikut dipertemukan. Hubungan kekerabatan yang sebelumnya berjalan dalam lingkaran masing-masing mulai saling beririsan.
Nilai timbang rasa menjadi salah satu unsur penting dalam hubungan tersebut. Setiap pihak dituntut memahami kapan harus berbicara dan kapan perlu menjaga suasana tetap teduh.
Pernikahan Qori dan Zizi akhirnya menjadi pertemuan berbagai lintasan: pesantren, pendidikan, aktivisme, persahabatan dan keluarga.
Pesta memang berlangsung sehari. Namun, setelah tamu pulang dan seluruh rangkaian acara selesai, Qori dan Zizi menghadapi bagian terpenting dari pernikahan: membangun rumah tangga, mengambil keputusan bersama, membagi tanggung jawab dan menjaga komitmen.
Karena itu, kesan “keraton” dalam perhelatan tersebut bukan muncul karena kemewahan atau simbol kekuasaan. Ia terbentuk dari panjangnya jejaring silaturahmi yang terawat dan terus bergerak lintas generasi serta daerah.
