Dua Seminar Internasional Rangkayo Minang Indonesia: Menghidupkan Warisan Budaya untuk Menjawab Tantangan Masa Depan

Dua Seminar Internasional Rangkayo Minang Indonesia: Menghidupkan Warisan Budaya untuk Menjawab Tantangan Masa Depan

Jakarta, Satuju.com – Rangkayo Minang Indonesia menutup rangkaian dua seminar internasional di Jakarta dengan membawakan satu gagasan utama, yakni kebudayaan tidak seharusnya hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sumber energi intelektual untuk membangun masa depan.

Di bawah kepemimpinan Ketua Rangkayo Minang Indonesia, Dr. Susilawati, dua forum yang digelar pada 26 dan 27 Agustus 2026 tersebut mempertemukan berbagai perspektif mengenai sejarah, Islam, kepemimpinan, kebudayaan, hingga gagasan kebangsaan.

Rangkaian kegiatan berlangsung di Ruang Serbaguna MH Thamrin, Balai Kota DKI Jakarta. Forum tersebut menghadirkan tokoh nasional, sejarawan, pemuka agama, pejabat pemerintahan, unsur militer, budayawan, hingga generasi muda.

Beragamnya latar belakang peserta dan pembicara menunjukkan bahwa warisan Minangkabau tidak hanya dapat ditempatkan sebagai identitas etnis, tetapi juga menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai Indonesia dan dunia.

Membaca Jalur Sutra Maritim dan Peradaban Islam

Forum pertama kali digelar pada Rabu (26/8/2026) melalui Seminar Internasional "Jalur Sutra Maritim dan Peradaban Islam di Nusantara" dengan tema "Memperingati 400 Tahun Warisan Syech Yusuf Al-Makassari."

Seminar yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut menghadirkan Prof. Dr. Ismunandar, sejarawan dan guru besar kimia asal Indonesia yang pernah menjabat sebagai Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO di Paris, Prancis.

Sejumlah tokoh lainnya turut memberikan perspektif dalam forum tersebut, di antaranya Rektor Universitas YARSI Prof. Dr. Fasli Jalal, So. GK., Ph.D., perwakilan Kementerian Agama Dr. K.H. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., perwakilan Kementerian Kebudayaan Endah Budi Heryani, S.S., M.M., serta Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, S.P.

Perspektif akademik dan kebudayaan juga disampaikan Prof. H. Fauzi Bahar, M.Si., Prof. Yusuf Liu Baojun, Prof. Erwiza Erman, M.A., Ph.D., dan Dr. Roni Tabroni, M.A. Forum tersebut dimoderatori Dr. Jef. Rizal Sofyan Gueci, S.H., M.I.C.

Pembahasan mengenai Jalur Sutra Maritim tidak hanya diarahkan pada perjalanan perdagangan dan perpindahan manusia, tetapi juga pada bagaimana pertukaran gagasan, agama, pengetahuan, dan kebudayaan membentuk peradaban Nusantara.

Tokoh Minangkabau dan Inspirasi Kepemimpinan

Sehari berselang, Kamis (27/8/2026), Rangkayo Minang Indonesia kembali menggelar seminar internasional dengan tema "Tokoh Minangkabau yang Mengubah Indonesia: Inspirasi Kepemimpinan Lintas Generasi melalui Tradisi Merantau, Dakwah, Kemandirian, Adaptasi, dan Jejaring Global."

Forum kedua memperluas pembahasan dari sejarah dan peradaban menuju pertanyaan mengenai nilai-nilai yang membuat sejumlah tokoh Minangkabau mampu melampaui batas daerah dan memberikan pengaruh terhadap perjalanan bangsa Indonesia.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menjadi salah satu figur sentral dalam forum tersebut. Kehadirannya memberikan dimensi penting mengingat Sumatera Barat merupakan salah satu ruang utama tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Minangkabau.

Selain Mahyeldi, forum menghadirkan Irman Gusman, S.E., MBA., Dr. Handa Satyanugraha Abidin, S.H., LL.M., Ph.D., Dr. Elfa Hendri Mukhlis, M.A., Asnimar, S.Kar., M.Sn., serta Ustadz Hadi Nur Ramadhan, M.Pd. Diskusi dimoderatori Dr. Jur. Rizal Sofyan Gueci, S.H., M.I.C.

Tradisi merantau menjadi salah satu pembahasan penting. Bagi Rangkayo Minang Indonesia, merantau tidak sekadar bermakna meninggalkan kampung halaman, tetapi juga merupakan proses pembentukan manusia melalui pengalaman, keberanian menghadapi lingkungan baru, kemampuan beradaptasi, membangun jejaring, serta membawa pulang pengetahuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ketua Rangkayo Minang Indonesia, Dr. Susilawati, mengatakan nilai-nilai tersebut masih memiliki relevansi kuat dalam menghadapi dunia yang semakin terbuka dan dinamis.

"Seminar sebagai inspirasi kepemimpinan lintas generasi melalui tradisi merantau, dakwah, kemandirian, adaptasi, dan jejaring global," ujar Susilawati.

Menurutnya, semangat merantau memiliki resonansi yang semakin kuat pada abad ke-21. Perkembangan teknologi, mobilitas manusia, kompetisi global, dan perubahan sosial membuat kemampuan beradaptasi menjadi salah satu modal penting bagi generasi muda.

Karena itu, warisan budaya tidak cukup hanya dipertahankan sebagai simbol identitas. Nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterjemahkan menjadi gagasan yang dapat membantu generasi baru menghadapi perubahan tanpa kehilangan akar budaya.

Dari Hatta hingga Hamka

Sejarah Indonesia menyimpan banyak contoh mengenai daya jangkau pemikiran yang tumbuh dari lingkungan Minangkabau.

Nama-nama seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Haji Agus Salim, Mohammad Yamin, Mohammad Natsir, Abdul Muis, Rohana Kudus, dan Hamka menunjukkan bagaimana gagasan yang berkembang dari lingkungan Minangkabau memberikan pengaruh terhadap berbagai bidang.

Mulai dari politik, pendidikan, agama, pers, sastra, diplomasi hingga pemikiran kebangsaan, kontribusi tokoh-tokoh tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah Indonesia.

Melalui seminar, Rangkayo Minang Indonesia berupaya menggeser cara pandang terhadap warisan budaya dari sekadar objek nostalgia menjadi sumber inspirasi.

Sejarah tidak hanya digunakan untuk mengenang tokoh yang pernah berjasa, tetapi juga untuk menggali nilai yang membuat mereka mampu mengambil risiko, beradaptasi, membangun jaringan, menghasilkan gagasan, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat luas.

Mendorong Lahirnya Kepemimpinan Baru

Ketua Bidang Publikasi dan Humas Rangkayo Minang Indonesia, Drs. Asri Hadi, M.A., menegaskan forum tersebut tidak dimaksudkan sebagai perayaan masa lalu semata.

Menurutnya, pembicaraan mengenai tokoh-tokoh besar Minangkabau harus diarahkan untuk menemukan nilai yang dapat menjadi inspirasi bagi lahirnya kepemimpinan baru.

"Yang ingin kita bicarakan bukan hanya siapa tokoh Minangkabau yang pernah mengubah Indonesia, tetapi juga bagaimana nilai-nilai yang membuat mereka besar dapat menginspirasi lahirnya tokoh-tokoh baru pada masa mendatang," kata Asri Hadi.

Gagasan tersebut menjadikan dua seminar internasional Rangkayo Minang Indonesia sebagai ruang pertemuan antara memori kolektif dan tantangan masa depan.

Pemerintahan, akademisi, tokoh agama, unsur militer, budayawan, masyarakat sipil, serta generasi muda bertemu untuk membaca kembali nilai-nilai yang dinilai dapat memperkuat kepemimpinan Indonesia di tengah perubahan global.

Dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Kari Minang turut memperkuat penyelenggaraan kedua forum tersebut.

Kolaborasi itu sekaligus memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai Minangkabau dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, terutama mengenai hubungan antara kebudayaan, sejarah, Islam, kepemimpinan, mobilitas global, dan pembentukan identitas kebangsaan.

Pada akhirnya, dua seminar yang berlangsung selama dua hari tersebut membawa pesan bahwa kekuatan sebuah kebudayaan tidak hanya terletak pada kemampuannya mempertahankan masa lalu, tetapi juga pada keberaniannya menawarkan nilai bagi masa depan.

Melalui kepemimpinan Dr. Susilawati dan keterlibatan berbagai tokoh, Rangkayo Minang Indonesia berupaya membawa warisan Minangkabau ke ruang dialog yang lebih luas, dari ranah lokal menuju percakapan nasional dan global.

Tradisi merantau, intelektualisme, dakwah, kemandirian, adaptasi, dan jejaring yang melekat dalam perjalanan masyarakat Minangkabau pada akhirnya bukan sekedar cerita tentang masa lalu. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bekal bagi generasi baru untuk membangun masa depan dengan tetap berpijak pada identitas dan akar kebudayaan.


BERITA TERKAIT