Wahyudi El Panggabean: Wartawan Jangan Jadi Korban, Lawan Arogansi dengan Komunikasi Cerdas

Wahyudi El Panggabean meminta wartawan menghadapi intimidasi verbal dengan komunikasi cerdas, tegas, dan tetap menjaga marwah profesi.(poto/ist)

PEKANBARU, Satuju.com - Komunikasi wartawan profesional dinilai menjadi kunci menghadapi narasumber yang bersikap arogan atau merendahkan jurnalis saat menjalankan tugas. Jurnalis senior sekaligus Direktur Utama Pekanbaru Journalist Center (PJC), Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H., MT.BNSP., C.PCT, meminta wartawan tidak terjebak dalam posisi sebagai korban ketika menghadapi intimidasi verbal.

Menurut Wahyudi, wartawan perlu memiliki ketenangan, keberanian, serta kemampuan komunikasi untuk mengendalikan situasi tanpa harus membalas penghinaan dengan makian.

Pernyataan itu disampaikan Wahyudi di hadapan sejumlah pemimpin redaksi media berita di kediamannya di Pekanbaru, Ahad (30/8) sore.

Ia menilai, menjadikan penghinaan terhadap wartawan sebagai sekadar bahan pemberitaan tidak selalu menjadi solusi. Dalam situasi tertentu, sikap tersebut justru dapat membuat profesi pers terlihat defensif di hadapan publik.

"Jangan sedikit-sedikit melapor bahwa Anda dilecehkan, kemudian memberitakan pelecehan dan penghinaan itu pula di media sebagai bahan cemooh orang. Anda punya hak untuk membela diri dan menyerang balik dengan komunikasi yang cerdas tetapi mematikan," ujar Wahyudi.

Wahyudi menyebut sejumlah perselisihan antara jurnalis dan tokoh publik dapat menjadi pelajaran mengenai pentingnya kesiapan komunikasi di lapangan. Ia menyinggung kasus politisi Benny K. Harman serta perselisihan yang melibatkan pengacara Hotman Paris Hutapea dengan jurnalis.

Dalam menghadapi ucapan yang menyerang pribadi, kata Wahyudi, wartawan tidak harus terpancing emosi. Respons yang tenang tetapi argumentatif justru dapat mengembalikan fokus pembicaraan pada substansi.

Sebagai contoh, ketika narasumber bertanya, "Lu punya otak gak?", wartawan dapat menjawab tanpa menggunakan kata-kata kasar.

"Loh, kalau Anda punya otak, jawab dong pertanyaan saya secara elegan!"

Menurut Wahyudi, respons semacam itu merupakan pembalikan logika yang dapat mengubah posisi dalam sebuah percakapan. Wartawan tidak perlu kehilangan kendali hanya karena narasumber berusaha memancing emosi.

Penulis buku "Strategi Wartawan Menembus Narasumber" dan "Untukmu yang Ingin Menjadi Wartawan Sukses" itu juga menjelaskan bahwa serangan terhadap pribadi atau ad hominem sering muncul ketika narasumber tidak lagi menjawab substansi pertanyaan.

Karena itu, wartawan perlu memahami pola komunikasi sekaligus tetap menjaga batas profesionalitas. Ketajaman bertanya, kemampuan membaca situasi, dan penguasaan retorika menjadi modal penting dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Wahyudi yang telah menekuni dunia jurnalistik sejak 1985 menegaskan wartawan memiliki perlindungan hukum dalam menjalankan fungsi pers. Posisi tersebut, menurut dia, harus diikuti pemahaman mengenai tanggung jawab serta etika profesi.

"Menguasai teknik komunikasi tingkat tinggi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan senjata utama untuk menjaga marwah profesi jurnalisme," tegas Wahyudi.

Ia mendorong pemimpin redaksi dan wartawan memperkuat literasi komunikasi taktis serta pemahaman psikologi massa di ruang redaksi. Bekal tersebut dinilai penting agar wartawan mampu menghadapi karakter narasumber yang beragam tanpa kehilangan kendali.

Wahyudi juga mengingatkan agar wartawan tidak membangun mentalitas sebagai korban ketika menghadapi tekanan verbal. Menurut dia, profesionalitas justru terlihat dari kemampuan jurnalis mengelola tekanan dan mengembalikan percakapan pada persoalan yang sedang diuji.

"Hanya dengan komunikasi yang berkelas, profesi wartawan akan dihormati secara terhormat. Bukan ditakuti karena ancaman laporan semata," katanya.(PJC)