Herto Bastian Abul Bawa Identitas Manggarai ke Musik Populer
Herto Bastian Abul.(poto/ist)
Jakarta, 1 September 2026, Satuju.com - Herto Bastian Abul musik Manggarai menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang mempertemukan karya modern dengan akar budaya Flores. Penyanyi sekaligus penulis lagu itu tidak sekadar mengejar ekspresi musikal, tetapi menjadikan identitas sebagai salah satu pijakan utama dalam berkarya.
Lahir dan besar di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, Herto membawa pengalaman daerah asalnya ke dalam musik. Baginya, Manggarai bukan sekadar latar belakang kehidupan, melainkan sumber cerita yang terus memengaruhi cara ia melihat dan menyampaikan gagasan.
Kecintaan terhadap budaya lokal pernah ia tunjukkan ketika terlibat dalam Flores The Singing Island Virtual Festival pada 2021. Pengalaman tersebut memperkuat ruang bagi Herto untuk memperkenalkan kekayaan budaya Flores melalui musik.
Pilihan bahasa menjadi salah satu cara Herto mempertahankan hubungan dengan akar budayanya. Ia berkarya dalam bahasa Indonesia, Inggris, hingga Manggarai.
Salah satu karya yang memiliki kedekatan khusus dengan identitas tersebut ialah “Momangm E”. Lagu berbahasa Manggarai itu menunjukkan bahwa karya berbasis bahasa daerah tetap memiliki peluang menjangkau pendengar yang lebih luas, termasuk mereka yang tidak sepenuhnya memahami arti liriknya.
Perjalanan musik Herto dimulai melalui album “Laboratory” pada 2019. Setelah itu, ia merilis sejumlah karya, antara lain “Beautiful Day”, “You're My God”, “Here I Am”, “Sa Minta Maaf”, “Tuhan Atur Ulang”, dan “Apa Masalahnya”.
Pada 2026, Herto kembali menghadirkan karya melalui “Ca Ca Laku Lelon” bersama Petra Dolla. Lagu tersebut membawa bahasa Manggarai sekaligus realitas sosial masyarakat setempat ke dalam lanskap musik populer.
“Ca Ca Laku Lelon” tidak berhenti pada pengenalan bahasa daerah. Karya itu juga membuka ruang pembicaraan tentang budaya, representasi, serta berbagai realitas sosial yang berkembang di tengah masyarakat Manggarai.
Herto memilih melihat budaya secara lebih luas. Kebudayaan, dalam karyanya, tidak hanya berisi sisi indah yang layak dipertontonkan, tetapi juga humor, konflik, persoalan sosial, dan cerita keseharian.
Aktivitas Herto juga tidak terbatas pada musik. Ia memiliki latar belakang Hubungan Internasional dan studi sastra serta tetap menjalani aktivitas di bidang komunikasi dan pendidikan tinggi, termasuk di Universitas Kristen Indonesia.
Perjalanan lintas bidang tersebut membuat Herto memiliki cara pandang yang beragam terhadap cerita. Musik dan dunia akademik memang berbeda, tetapi keduanya bertemu dalam satu hal: bagaimana cerita dibangun untuk menghasilkan makna.
Lewat musik, Herto menunjukkan bahwa modernitas tidak harus memutus hubungan dengan akar budaya. Kreativitas dapat membuka ruang agar seseorang dikenal, tetapi identitas memberikan alasan mengapa sebuah karya layak didengar.(Ysf)
Tag: Herto Bastian Abul, musik Manggarai, musik Flores, penyanyi Indonesia, budaya Manggarai
