Antibully Jakarta Festival Satukan 31 Talenta Muda dalam Satu Panggung, Rayakan Perbedaan Lewat Musik
Antibully Jakarta Festival Satukan 31 Talenta Muda dalam Satu Panggung
Jakarta, Satuju.com – Musik kembali menunjukkan kekuatan siapa sebagai bahasa universal yang mampu mempertemukan saja tanpa memandang perbedaan. Pesan tersebut terasa kuat dalam gelaran Antibully Jakarta Festival yang berlangsung di Citra Xperience, Sunken Plaza Lantai LG, Jakarta Pusat, Minggu (30/8/2026).
Dimulai pukul 15.00 WIB, festival yang digagas PasarLagu tersebut menghadirkan 31 penampil muda dari berbagai latar belakang. Anak berkebutuhan khusus dan tipikal anak tampil dalam satu ruang pertunjukan untuk berkarya, berinteraksi, saling mendukung, dan merayakan keberagaman melalui musik.
Antibully Jakarta Festival merupakan penyelenggaraan keempat dalam perjalanan Antibully Festival yang pertama kali diadakan di Yogyakarta pada tahun 2023. Setelah itu, festival terus berkembang dan hadir di sejumlah kota, termasuk Jakarta dan Cirebon.
Festival ini tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan musik. Lebih jauh lagi, Antibully Festival berupaya menciptakan ruang pertemuan yang setara, agar anak-anak tidak hanya mendengar pesan mengenai pentingnya menghargai perbedaan, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan dalam satu panggung.
Sebanyak 31 penampil yang tampil berasal dari empat label, yakni Teman Hebat Records, Superkids Records, Hebat Records, dan Senada Digital Records.
Komposisi tersebut memperlihatkan keberagaman karakter, kemampuan, daerah asal, dan cara berekspresi. Kehadiran mereka sekaligus membawa pesan bahwa kesempatan untuk berkarya dan tampil seharusnya tidak dibatasi oleh kondisi maupun perbedaan seseorang.
Dari Teman Hebat Records, terdapat 14 performer yang tampil, yakni Junior Noya, Shafaminata, Aisha Natasya, Azka Farzana, Kaysan Raffan, Kenneth Trevi, masing-masing dari Bandung; Ben Hite, Kinanti Ulfidiyanaa, Vanessa Adelynn, Kenzie Rachel, Evi Lugvianty Craib, Felice Rinardi, dan Jocelyn Rinardi dari Jakarta; serta Jevon Christoper dari Tangerang.
Sementara Superkids Records menghadirkan sembilan performer, yaitu Kennisha Alinda Gusman, Bebbie Zy, Reva Kirana, Mikhaela Sinaga, Bunga Shaqilla, dan Mikhayla Xaviera dari Jakarta; Annaila Balqis dari Bogor; serta Zahra Mora dan Felin Natasha dari Tangerang.
Dari Hebat Records, tampil Bintang Haviva dan Asmara Bulan yang keduanya berasal dari Jakarta.
Adapun Senada Digital Records diwakili Amorra Melodiaz dari Tangerang, Ivory Mei dan Michelle Quinessha dari Jakarta, Aisha Kamila serta Sendi Permadie dari Bandung, dan Amira Kim dari Bekasi.
Ruang Setara bagi Semua Anak
Salah satu founder PasarLagu, Lamhot Ivan Tobing, mengatakan keputusan PasarLagu menjadi penyelenggara Antibully Festival berangkat dari kesamaan visi dengan Teman Hebat Records.
Menurutnya, kedua pihak memiliki semangat yang sama untuk menciptakan karya tanpa batas dan memberikan ruang yang setara bagi anak tipikal maupun anak berkebutuhan khusus.
“Kami melihat adanya kesamaan visi dengan Teman Hebat Records untuk membuat sebuah karya tanpa batas tanpa melihat sebuah perbedaan. Dengan memberikan ruang yang setara antara anak tipikal dan anak berkebutuhan khusus,” ujar Lamhot.
Ia mengakui menghadirkan performer dengan kebutuhan dan karakter yang berbeda dalam satu panggung memiliki tantangan tersendiri.
Penyelenggara harus memahami karakter masing-masing anak, menyesuaikan kebutuhan mereka, serta membangun suasana yang hangat agar seluruh performer dapat berbaur dan merasa nyaman sejak masa persiapan hingga pertunjukan berlangsung.
Bagi PasarLagu, nilai festival tersebut juga tidak berhenti pada pertunjukan. Antibully Festival dinilai memiliki dampak sosial sekaligus membuka kesempatan lebih luas bagi musisi berkebutuhan khusus maupun musisi tipikal untuk didengar, diapresiasi, berkembang, dan mendapatkan ruang di industri musik.
Seluruh karya artis yang tampil juga berada dalam ekosistem distribusi digital PasarLagu. Dengan demikian, festival menjadi ruang promosi yang melengkapi distribusi digital, sedangkan media sosial dan pertunjukan langsung dapat membantu para musisi memperkenalkan karya serta tujuan kreatif mereka kepada masyarakat.
Kombinasi distribusi digital dan pertunjukan langsung tersebut memperlihatkan bagaimana ekosistem industri musik dapat membuka jalur yang lebih luas bagi talenta muda untuk bertemu dengan pendengar.
Berawal dari Keresahan terhadap Bullying
Di balik lahirnya Antibully Festival terdapat keresahan personal salah satu penggagasnya, Yuly Twins.
Ia melihat anak berkebutuhan khusus kerap kali lebih dahulu dinilai berdasarkan keterbatasan atau perbedaan yang dianggap tidak biasa, sebelum masyarakat benar-benar mengenal kemampuan, minat, karakter, dan hal-hal yang ingin mereka sampaikan.
Menurut Yuly, ketidaktahuan dan ketidakpahaman dapat menciptakan jarak yang kemudian berkembang menjadi stigma hingga berbagai bentuk bullying.
Karena itu, edukasi tentang penerimaan perbedaan, menurutnya, tidak cukup hanya melalui nasihat seperti larangan mengejek atau membully. Pesan tersebut perlu diwujudkan melalui pengalaman nyata yang memungkinkan anak-anak bertemu, berinteraksi, bermain, berkarya, dan menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang berbeda dari mereka.
Antibully Festival kemudian menjadi ruang pertemuan tersebut.
Yuly tidak ingin festival berkembang menjadi panggung khusus bagi anak berkebutuhan khusus. Sebaliknya, ia ingin menciptakan satu panggung yang benar-benar menjadi ruang bersama bagi semua anak.
Dengan begitu, setiap anak dapat membawa karya masing-masing, memperoleh apresiasi, dan merasakan bahwa dirinya merupakan bagian penting dari sebuah komunitas.
Keberadaan 31 performer dalam Antibully Jakarta Festival, menurut Yuly, memiliki makna jauh lebih besar daripada sekadar angka.
Mereka membawa 31 cerita, kemampuan, karakter, pengalaman, tingkat kepercayaan diri, serta cara berekspresi yang berbeda. Namun, seluruhnya mendapatkan kesempatan untuk berdiri di panggung yang sama.
“Berbeda bukan berarti harus sendiri atau terpisah, dan bersama bukan berarti harus menjadi sama,” tegas Yuly Twins.
Ia menilai keberagaman tersebut menunjukkan bahwa seseorang tidak harus memiliki kemampuan yang sama untuk memperoleh kesempatan yang sama.
Setiap performer datang membawa lagu dan cerita masing-masing. Keberanian untuk tampil, berkomunikasi, mengekspresikan diri, dan memberikan sesuatu dari dirinya sendiri sudah merupakan kontribusi yang layak mendapatkan penghargaan.
Karena itu, Yuly menolak perspektif yang mengukur anak berdasarkan siapa yang paling hebat atau paling mampu bernyanyi.
Antibully Festival, kata dia, bukan kompetisi untuk menentukan siapa yang paling unggul, melainkan ruang yang memungkinkan setiap anak menjadi dirinya sendiri dan merasa bahwa kehadirannya memiliki arti.
Momen Kenneth Trevi dan Makna Inklusi
Salah satu momen yang paling membekas bagi Yuly terjadi ketika Kenneth Trevi, penyanyi berkebutuhan khusus asal Bandung, membawakan lagu “Aku Berbeda Aku Bisa”.
Saat lagu tersebut dibawakan, anak-anak berkebutuhan khusus dan anak tipikal kemudian naik ke panggung. Mereka ikut bernyanyi, berjoget, melompat, dan mengekspresikan kegembiraan dengan cara masing-masing.
Suasana tersebut membuat batas antara dua kelompok anak seolah menghilang. Yang terlihat hanyalah sekumpulan anak yang sedang menikmati musik dan kebahagiaan bersama.
Bagi Yuly, momen Kenneth Trevi menjadi gambaran nyata mengenai makna inklusi.
Inklusi bukanlah upaya untuk membuat semua orang menjadi sama, tetapi menciptakan ruang yang memungkinkan setiap orang menjadi dirinya sendiri dengan segala perbedaannya, sembari tetap merasa diterima, memiliki tempat, dan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Pandangan tersebut juga menjadi alasan Yuly ingin mengubah cara masyarakat memandang anak berkebutuhan khusus.
Ia berharap masyarakat tidak lagi menjadikan keterbatasan sebagai hal pertama yang terlihat, melainkan mulai mengenal manusia di balik perbedaan tersebut, termasuk kemampuan, minat, karakter, karya, dan aspirasi mereka.
Perubahan perspektif, menurutnya, membutuhkan pengalaman nyata yang berlangsung secara berulang. Berkarya, tampil, bermain, dan saling mengenal bersama dapat membantu mengurangi jarak psikologis yang selama ini membuat seseorang merasa asing terhadap orang lain yang berbeda.
Musik sebagai Medium Kampanye Antibullying
Penggagas Antibully Festival lainnya, Rulli Aryanto, melihat musik sebagai medium yang efektif untuk menyampaikan pesan antiperundungan kepada masyarakat.
Musik dapat diterima berbagai lapisan, golongan, dan usia. Pada saat yang sama, suasana pertunjukan memungkinkan pesan mengenai bullying disampaikan dengan cara yang lebih dekat dan tidak terkesan menggurui.
Menurut Rulli, keberhasilan konsep Antibully Jakarta Festival sudah terlihat sejak tahap persiapan.
Respons positif dari para penyanyi, dukungan orang tua, keluarga dan sahabat, kedatangan pendukung dari luar Jakarta, antusiasme sejumlah brand dan produk, serta koordinasi tim hingga hari pelaksanaan menjadi indikator bahwa gagasan mengenai ruang musik yang inklusif mendapatkan dukungan luas.
Namun, pengalaman yang paling membahagiakan baginya adalah ketika performer berkebutuhan khusus dan performer tipikal dapat saling mendukung di atas panggung.
Kebersamaan itu menunjukkan bahwa musik mampu menjadi ruang yang mempertemukan manusia tanpa harus terlebih dahulu mempersoalkan latar belakang mereka.
Rulli juga menilai representasi memiliki peran penting terhadap perkembangan kepercayaan diri anak berkebutuhan khusus.
Ketika mereka berada dalam ruang yang membuat mereka merasa diterima dan pada saat yang sama mampu menerima orang lain, pengalaman tersebut dapat membantu menumbuhkan keberanian untuk tampil dan berkarya di industri musik.
Dari perspektif industri, Rulli melihat era digital telah membuka kesempatan semakin luas bagi siapa pun yang memiliki karya.
PasarLagu yang menjadi bagian dari ekosistem distribusi karya para artis dari label-label yang terlibat dalam festival juga melihat kegiatan seperti ini sebagai salah satu instrumen penting untuk mempromosikan karya para musisi.
Menurutnya, industri musik tidak semestinya hanya berbicara tentang popularitas dan komersialitas. Setiap orang yang memiliki karya membutuhkan kesempatan untuk memperkenalkan karyanya, dan kesempatan tersebut semestinya terbuka bagi talenta dengan berbagai latar belakang.
Membawa Pesan Stop Bullying
Antibully Jakarta Festival pada akhirnya menjadi pertemuan antara musik, industri kreatif, pendidikan sosial, dan inklusivitas.
Empat label yang terlibat menghadirkan talenta-talenta muda dalam satu panggung yang menunjukkan bahwa ekosistem musik dapat memberikan ruang kepada setiap performer berdasarkan karya dan potensinya.
Pesan yang dibawa festival tersebut sederhana namun fundamental: stop bullying.
Setiap manusia memiliki kekurangan, kelebihan, dan talenta masing-masing. Karena itu, seseorang tidak seharusnya dipandang hanya berdasarkan kekurangannya, tetapi juga melalui karya dan kontribusi yang mampu diberikan.
Mimpi Yuly terhadap Antibully Festival pun jauh melampaui pertunjukan musik. Ia ingin pengalaman yang terjadi di dalam maupun sekitar venue dapat dibawa pulang oleh anak-anak dan keluarga.
Dengan demikian, pertemuan dengan seseorang yang berbeda tidak lagi dianggap menakutkan, asing, atau sesuatu yang harus dihindari.
Ia berharap para orang tua semakin memahami bahwa anak berkebutuhan khusus tidak harus selalu berada di ruang terpisah atau hanya berinteraksi dalam kelompoknya sendiri.
Di sisi lain, anak-anak juga diharapkan tumbuh dengan kesadaran bahwa setiap orang memiliki tempat, arti, kemampuan, dan sesuatu yang dapat diberikan kepada lingkungan.
Antibully Festival direncanakan terus hadir di kota-kota lain dengan membawa gagasan serupa.
Bagi Yuly, keberhasilan terbesar bukan ketika festival menjadi semakin besar atau menjangkau semakin banyak kota. Keberhasilan sejati justru ketika masyarakat sudah terbiasa menerima perbedaan meski Antibully Festival tidak sedang berlangsung.
Jika suatu hari anak-anak dapat berteman, bermain, belajar, berkarya, dan berada bersama tanpa lagi mempersoalkan apakah seseorang berbeda atau tidak, Yuly percaya jembatan yang dibangun melalui festival tersebut telah berdiri dengan sendirinya.
Sebelum hari itu tiba, Antibully Festival akan terus berusaha menciptakan ruang pertemuan melalui musik dan karya.
Antibully Jakarta Festival 2026 pun memperlihatkan wajah lain dari sebuah panggung musik. Di tangan para performer muda, musik bukan sekadar suara, melodi, dan pertunjukan, tetapi juga medium untuk membuka pintu pertemanan, membangun keberanian, mengikis stigma, dan mempertemukan manusia yang sebelumnya mungkin ditempatkan dalam ruang berbeda.
Dengan 31 performer yang membawa karya dan cerita masing-masing, festival tersebut menyampaikan pesan bahwa setiap anak berhak didengar, setiap karya layak diapresiasi, dan setiap manusia berhak mendapatkan tempat dalam ruang bersama.
Ketika musik mampu membuat perbedaan terasa bukan sebagai tembok, melainkan sebagai bagian dari keindahan sebuah pertunjukan, maka panggung bukan lagi sekadar tempat tampil. Panggung menjadi tempat perubahan dimulai.
