Pezeshkian Bertemu Putin, Ucapkan Terima Kasih atas Dukungan Rusia
Presiden Iran Masoud Pezeshkian
Jakarta, Satuju.com - Presiden Iran Masoud Pezeshkian bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kirgistan, Rabu (2/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Pezeshkian menyampaikan penghargaan kepada Putin atas sikap Rusia yang dinilai terus mendukung Iran di tengah konflik dan tekanan internasional.
“Kami menghargai dan berterima kasih atas sikap Anda di setiap tahapan, baik selama masa pertempuran dan tindakan agresi berlangsung, maupun dalam keadaan normal saat Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada kami, baik di Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun di forum-forum internasional,” ujar Pezeshkian kepada Putin, seperti dilansir AFP.
Pezeshkian menilai sikap Moskow tersebut menjadi bukti bahwa hubungan Iran dan Rusia telah berkembang menjadi hubungan strategis.
Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kita adalah hubungan strategis; bukan hubungan biasa, tambahnya.
Pertemuan Pezeshkian dan Putin menjadi yang pertama sejak konflik di Timur Tengah pecah. Kedua negara diketahui terus memperkuat hubungan, khususnya dalam bidang militer dan ekonomi, dalam beberapa tahun terakhir.
Pihak Kepresidenan Iran sebelumnya menyatakan bahwa kedua pemimpin akan meninjau perkembangan hubungan bilateral. Selain itu, mereka diselenggarakan membahas langkah-langkah untuk memperkuat sekaligus memperluas kerja sama di berbagai sektor.
Dukungan Rusia terhadap Iran juga sebelumnya disampaikan Putin dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Saint Petersburg pada akhir April. Saat itu, Putin menyatakan Moskow akan melakukan "segala upaya" untuk membantu mewujudkan perdamaian di Timur Tengah.
Pezeshkian dan Putin terakhir kali bertemu dalam sebuah KTT di Turkmenistan pada Desember 2025.
Konflik Iran-AS
Hubungan Iran dan Amerika Serikat semakin memburuk setelah perang pecah pada 28 Februari. Konflik tersebut dipicu serangan AS-Israel yang menampilkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersama sejumlah pejabat tinggi militer.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke berbagai wilayah seiring konflik yang semakin meluas. Teheran juga memblokade Selat Hormuz, jalur strategi yang menjadi salah satu rute penting bagi pasokan energi global.
Sebagai tanggapan, Amerika Serikat menerapkan blokade tandingan melalui pengerahan kekuatan angkatan laut di sekitar pelabuhan-pelabuhan Iran.
Gencatan senjata yang dicapai pada 8 April sempat mengakhiri pertempuran paling sengit antara kedua pihak. Namun, serangkaian serangan sporadis, terutama di kawasan sekitar Selat Hormuz, kembali menimbulkan kekhawatiran dan memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai permanen.
Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat belakangan meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui kampanye yang mereka sebut sebagai "pencekikan ekonomi" terhadap Iran.
