Haji Mengajarkan Damai, Mengapa Konflik Tetap Bersemi?
Poto Ai hanya ilustrasi, Buku Fahmi Salim mengajak umat melihat haji sebagai latihan mengendalikan ego, merawat persatuan, dan membawa perdamaian setelah pulang.(poto/ist/Ahmadie Thaha)
Satuju.com - Makna ibadah haji dan perdamaian tidak semestinya berhenti di Tanah Suci. Ritual yang setiap tahun mempertemukan jutaan manusia dalam kesetaraan justru menyisakan pertanyaan besar: mengapa pesan damai itu kerap tidak ikut pulang bersama jamaah?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan penting yang muncul dalam buku terbaru Dr. Fahmi Salim berjudul Haji: dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan.
Buku setebal 360 halaman itu terbit pada Juni 2026 atau Muharam 1448 H melalui Al-Fahmu Institute. Karya tersebut memiliki ISBN 978-634-97065-0-6.
Buku ini tidak sekadar membahas tata cara ihram, tawaf, sa'i, wukuf, lontar jumrah, maupun doa-doa dalam manasik. Fahmi membawa pembahasan haji ke wilayah yang lebih luas: perubahan karakter manusia dan dampaknya terhadap kehidupan sosial.
Dalam catatan Cak AT atau Ahmadie Thaha, pendekatan tersebut menjadi salah satu kekuatan buku Fahmi. Haji diposisikan sebagai proses untuk menundukkan ego, melepaskan simbol-simbol status sosial, dan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia memiliki kedudukan yang setara sebagai hamba Allah.
Di Tanah Suci, jabatan tidak ikut dikenakan bersama ihram. Kekayaan tidak otomatis membuat seseorang lebih mulia di hadapan Ka'bah. Ras, bahasa, dan latar belakang ekonomi juga kehilangan fungsi sebagai pembeda dalam pelaksanaan ritual.
Jutaan manusia berkumpul dalam ruang yang sama dan menjalankan ibadah dengan tujuan yang sama.
Dari sana, haji dapat dibaca sebagai sebuah eksperimen sosial tentang bagaimana perbedaan seharusnya dikelola. Perbedaan tidak dengan sendirinya melahirkan konflik. Ego manusialah yang kerap mengubah perbedaan menjadi persaingan, permusuhan, bahkan kekerasan.
Fahmi mengulas persoalan tersebut melalui bagian "Refleksi Perjalanan", terutama tiga tema yang saling berkaitan: akhlak, persatuan, dan perdamaian.
Dalam subbab "Dari Madrasah Akhlak ke Laboratorium Persatuan Umat", ia menyintesiskan pemikiran sejumlah ulama dan cendekiawan, seperti Imam al-Ghazali, Ibn al-Qayyim, Syekh as-Sa'di, Sayyid Quthb, dan Muhammad Rasyid Ridha.
Kesimpulannya mengarah pada satu persoalan mendasar: konflik kemanusiaan sering berawal dari ego yang tidak terkendali.
Keinginan untuk mendominasi, klaim kebenaran sepihak, fanatisme kelompok, hingga ketidakmauan mengalah menjadi bahan bakar konflik. Haji justru mengajarkan kebalikannya.
Ihram memaksa manusia meninggalkan simbol kebesaran duniawi. Semua kembali pada identitas paling dasar: seorang hamba.
Pesan itu juga tersimpan dalam rangkaian ritual haji. Sa'i mengabadikan perjuangan Hajar mencari pertolongan bagi Ismail. Qurban merekam keteguhan Nabi Ibrahim AS menghadapi ujian ketaatan. Sementara keseluruhan manasik menghubungkan umat Islam dengan sejarah panjang perjuangan kenabian.
Semua pengalaman itu bermuara pada nilai yang sama: ketundukan kepada Allah dan kehidupan yang membawa keselamatan bagi manusia.
Fahmi kemudian membaca Tanah Haram sebagai model ruang damai. Kawasan suci itu bukan sekadar tempat pelaksanaan ritual, melainkan simbol ruang yang harus dijaga dari tindakan yang merusak keamanan dan ketenteraman.
Gagasan tersebut terasa kontras dengan dunia modern. Berbagai negara memiliki lembaga diplomasi, hukum internasional, dan mekanisme perdamaian, tetapi konflik bersenjata masih terus berlangsung.
Masalahnya bukan semata-mata ketiadaan aturan. Kepentingan dan ego politik sering kali lebih kuat daripada komitmen untuk menghentikan penderitaan manusia.
Pesan pengendalian diri dalam haji juga relevan dengan kehidupan publik. Al-Qur'an melarang jamaah melakukan rafats, fusuq, dan jidal selama menjalankan ibadah.
Larangan terhadap jidal menjadi penting ketika ruang publik modern dipenuhi pertengkaran verbal, provokasi, ujaran kebencian, dan disinformasi.
Perang tidak selalu dimulai dari senjata. Konflik juga dapat tumbuh dari kata-kata yang sengaja mempertajam permusuhan.
Karena itu, pesan haji sebenarnya sederhana tetapi berat dijalankan: sebelum menuntut dunia menjadi damai, manusia harus lebih dulu mampu berdamai dengan egonya sendiri.
Di sinilah paradoks haji muncul.
Setiap tahun jutaan umat Islam menjalani simulasi kehidupan yang tertib, setara, dan penuh pengendalian diri di Tanah Suci. Namun setelah kembali ke negara masing-masing, nilai tersebut tidak selalu menjelma menjadi perilaku sosial.
Lebih ironis lagi, kawasan Timur Tengah yang menjadi lokasi ibadah haji masih menghadapi konflik dan krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Jarak antara ritual dan realitas itu menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan.
Fahmi menawarkan wukuf di Arafah sebagai simbol penting untuk membaca persoalan tersebut. Ia menyebutnya sebagai "ruang berhenti" atau space of reflection.
Di tengah dunia yang terus mengejar pertumbuhan ekonomi, kekuasaan, pengaruh, dan kemenangan politik, manusia membutuhkan jeda untuk bertanya: untuk apa semua kemenangan itu jika harus dibayar dengan penderitaan manusia lain?
Pertanyaan tersebut tidak hanya relevan bagi jamaah haji. Ia juga penting bagi pemimpin politik, kelompok masyarakat, dan siapa pun yang terlibat dalam perebutan kepentingan.
Perdamaian, dalam perspektif yang ditawarkan buku ini, tidak lahir dari slogan. Ia membutuhkan pengorbanan: menekan ego, mengurangi ambisi, berbagi sumber daya, dan bersedia melepaskan sebagian kepentingan pribadi demi kemaslahatan yang lebih besar.
Tanpa itu, perdamaian hanya menjadi bahasa politik yang terdengar indah tetapi kehilangan makna.
Pada akhirnya, Haji: dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan menggeser cara pandang terhadap ibadah haji. Haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Ka'bah, melainkan perjalanan membentuk manusia baru.
Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata selesainya seluruh rangkaian manasik. Ukuran yang lebih berat adalah apa yang terjadi setelah jamaah kembali.
Jika ego tetap menguasai, permusuhan tetap dipelihara, dan perbedaan tetap menjadi alasan untuk saling menjatuhkan, maka ada pesan haji yang belum benar-benar dibawa pulang.
Cak AT - Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 5/9/2026
