Letusan Krakatau 1883: Ledakan Dahsyat yang Mengubah Suhu Bumi hingga Membuat Bulan Tampak Biru

Letusan Krakatau 1883.(Poto/net)

Jakarta, Satuju.com - Letusan Gunung Krakatau pada 1883 menjadi salah satu bencana alam paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Gunung api yang berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatera, itu meletus dengan kekuatan luar biasa pada Agustus 1883.

Puncak letusan terjadi pada 27 Agustus 1883 sekitar pukul 10.02 WIB. Ledakan besar tersebut menewaskan lebih dari 36.000 orang dan dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar Selat Sunda, tetapi juga memengaruhi atmosfer dan iklim Bumi.

Dilansir dari Natural History Museum, letusan Krakatau bahkan menyebabkan suhu rata-rata global mengalami penurunan selama berbulan-bulan setelah erupsi.

Dalam catatan sejarah, Krakatau 1883 menjadi salah satu letusan gunung berapi paling mematikan di era modern. Jumlah korbannya berada di bawah letusan Gunung Tambora pada 1815 yang diperkirakan menewaskan sekitar 60.000 orang.

Dahsyatnya ledakan Krakatau juga terlihat dari energi yang dilepaskan. Energi ledakan puncaknya diperkirakan mencapai 200 megaton ekuivalen TNT.

Besarnya energi tersebut diperkirakan sekitar empat kali energi Tsar Bomba, bom nuklir terbesar yang pernah diledakkan manusia oleh Uni Soviet pada 1961. Jika dibandingkan dengan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada Perang Dunia II, energi letusan Krakatau diperkirakan mencapai sekitar 13.000 kali lipat.

Letusan itu melontarkan sekitar 20 kilometer kubik abu vulkanik dan batu apung ke atmosfer. Dalam jumlah besar tersebut terdapat sulfur dioksida yang kemudian berperan dalam membentuk aerosol vulkanik di atmosfer.

Material vulkanik yang mencapai atmosfer membawa dampak terhadap iklim global. Suhu rata-rata Bumi turun secara signifikan pada periode setelah letusan. Partikel-partikel di atmosfer juga menyebabkan perubahan warna langit yang terlihat dari berbagai wilayah dunia.

Langit senja di Eropa dan Amerika Utara dilaporkan berubah menjadi merah menyala dan oranye dengan pemandangan yang sangat dramatis.

Fenomena atmosfer tersebut bahkan dikaitkan dengan karya pelukis Norwegia, Edvard Munch. Pemandangan langit berwarna merah setelah letusan Krakatau yang terlihat di Oslo pada akhir 1883 disebut diyakini menjadi salah satu inspirasi Munch ketika menciptakan lukisan The Scream pada 1893.

Meski letusan Gunung Tambora pada 1815 lebih besar jika dilihat dari total material vulkanik yang dikeluarkan serta dampak iklim jangka panjangnya, Krakatau memiliki keistimewaan tersendiri karena intensitas ledakan dan kekuatan suara yang ditimbulkannya.

Krakatau Membuat Bulan Tampak Biru

Dampak letusan Krakatau ternyata tidak berhenti pada perubahan suhu dan warna langit. Partikel vulkanik yang memenuhi atmosfer juga memengaruhi cara cahaya Matahari mencapai permukaan Bumi.

Abu dan partikel vulkanik yang dilepaskan Krakatau memiliki ukuran sangat kecil, bahkan kurang dari satu mikron. Ukuran tersebut sekitar seratus kali lebih kecil dibandingkan ketebalan sehelai rambut manusia.

Ketika cahaya Matahari berinteraksi dengan partikel-partikel tersebut, sebagian cahaya dengan panjang gelombang tertentu mengalami penyebaran dan penyerapan. Kondisi itu kemudian menghasilkan fenomena optik yang tidak biasa.

Salah satu fenomena yang dilaporkan setelah letusan Krakatau adalah Bulan yang tampak berwarna kebiruan pada malam hari.

Associate Ilmiah di Natural History Museum, Dr. Martin Mangler, menyebut fenomena tersebut menjadi gambaran bagaimana sebuah letusan gunung api mampu memberikan dampak hingga ke tingkat planet.

"Letusan Krakatau merupakan contoh mencolok dari kekuatan alam yang tak terbendung," ujar Martin Mangler.

"Dalam sekejap, letusan gunung berapi dapat mengubah seluruh planet dengan berbagai cara. Fenomena Bulan biru mungkin menjadi salah satu yang paling indah dan paling tidak berbahaya," lanjutnya.

Suara Ledakan Krakatau Terdengar hingga Ratusan Kilometer

Selain kekuatan material dan dampaknya terhadap atmosfer, Krakatau juga dikenang karena suara letusannya yang luar biasa keras.

Sekitar 160 kilometer dari pusat letusan, sebuah alat pengukur tekanan di Batavia, yang kini menjadi Jakarta, masih mencatat perubahan tekanan udara akibat ledakan Krakatau.

Fluktuasi tekanan tersebut diperkirakan setara dengan tingkat kenyaringan sekitar 172 hingga 180 desibel.

Sebagai perbandingan, batas teoritis absolut untuk gelombang suara biasa di udara pada permukaan laut berada di sekitar 194 desibel. Ketika tekanan melampaui batas tersebut, energi tidak lagi merambat seperti gelombang suara normal, melainkan dapat berubah menjadi gelombang kejut atau dinding udara bertekanan tinggi yang bergerak dengan kecepatan suara.

Di wilayah yang lebih dekat dengan pusat letusan, gelombang tekanan tentu jauh lebih kuat.

Dampaknya bahkan dirasakan kapal Inggris, Norham Castle, yang sedang berlayar sekitar 65 kilometer dari pusat aktivitas vulkanik di Selat Sunda ketika ledakan puncak terjadi.

Letusan Krakatau 1883 akhirnya menjadi salah satu catatan paling ekstrem tentang kekuatan alam. Dalam hitungan jam, sebuah gunung api tidak hanya menghancurkan wilayah di sekitarnya, tetapi juga melepaskan material ke atmosfer dan menciptakan perubahan yang dapat diamati hingga ribuan kilometer dari sumber letusan.


BERITA TERKAIT