Gunung Sampah di Meranti Cemari Sumur Warga, Iyet Bustami Tagih KLH Turun
Iyet dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Plt. Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) KLH/BPLH RI.(poto/ist)
JAKARTA, Satuju.com - Gunung sampah Meranti cemari sumur warga. Tumpukan sampah di lahan gambut seluas sekitar dua hektare di Kepulauan Meranti, Riau, menjadi perhatian Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKB Dapil Riau I, Iyet Bustami.
Persoalan itu diungkap Iyet dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Plt. Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) KLH/BPLH RI. Ia meminta kementerian tidak sekadar menerima laporan, tetapi melihat sendiri kondisi yang dihadapi masyarakat Meranti.
Temuan tersebut, kata Iyet, bermula ketika dirinya melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Meranti untuk meninjau persoalan mangrove dan abrasi. Di lapangan, ia justru menemukan tumpukan sampah yang menggunung di atas lahan gambut.
"Redaksi mencatat, dalam video itu Iyet mengaku terkejut. Padahal Meranti itu pulau kecil, tapi ada gunung sampah berdiri di atas tanah 2 hektar tanah gambut. Itu sampah Bu," ujarnya dalam rapat yang dikutip dari akun TikTok resminya.
Iyet menilai kondisi tersebut sudah memasuki tahap mengkhawatirkan. Air lindi dari tumpukan sampah disebut mencemari sumber air masyarakat. Bau dari lokasi penumpukan juga menyebar hingga ke kawasan sekitar.
"Saya mencoba berdiri di sana, agak jauh dari lokasi, apakah masih tercium. Rupanya sampai kemana-mana baunya Bu. Sudah mengganggu masyarakat, tanah mereka tercemar, air sumurnya tercemar. Ini sudah sangat genting," tegas Iyet dalam video tersebut.
Bagi Iyet, persoalan itu tidak bisa diperlakukan sebagai masalah sampah biasa. Lokasi penumpukan berada di atas lahan gambut yang memiliki karakter ekologis rentan. Pada saat yang sama, masyarakat di sekitar lokasi harus menghadapi dampak pencemaran dan bau.
Karena itu, Iyet meminta Deputi PSLB3 KLH/BPLH RI segera mengirimkan tim ke Kepulauan Meranti. Ia bahkan menawarkan diri untuk mendampingi pejabat kementerian melihat langsung kondisi tersebut.
"Ibu Deputi yang cantik saya mohon ya, berangkatlah ke sana Bu, kirim lah staf ke sana, lihatlah Kepulauan Meranti. Kalau Ibu mau saya dampingi, saya siap mendampingi," desaknya.
Iyet juga mengkritik ketimpangan perhatian dalam pengembangan teknologi pengelolaan sampah. Ia menyebut teknologi pengolahan sampah modern telah masuk ke sejumlah daerah seperti Bekasi, Tangerang, Bogor, hingga Sumatera Selatan.
Menurut dia, Riau semestinya memperoleh perhatian serupa. Selain menghadapi persoalan lingkungan, Riau merupakan salah satu daerah dengan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional melalui sektor perkebunan sawit dan minyak serta gas bumi.
"Tolong jangan hanya membawa program ini di wilayah Jawa, perhatikan Riau. Kami tidak minta lebih dari Pulau Jawa, tapi paling tidak imbang lah," katanya.
Pernyataan Iyet itu sekaligus menjadi desakan agar pemerintah pusat memperlakukan persoalan lingkungan di daerah secara lebih berimbang. Ia meminta Kepulauan Meranti tidak hanya muncul dalam agenda rapat, tetapi juga menjadi lokasi yang didatangi dan ditangani secara langsung.
"Riau janganlah ditinggal Bu, jangan ditinggal Bu. Ini bukti saya sudah menyampaikan ke Ibu."
Kasus gunung sampah tersebut kini menyoroti dua persoalan sekaligus: pengelolaan sampah yang belum tertangani dan potensi dampaknya terhadap lingkungan gambut serta sumber air masyarakat. Desakan kepada KLH/BPLH untuk turun langsung menjadi penting untuk memastikan kondisi pencemaran dan langkah penanganannya di lapangan.Versi ini sengaja menempatkan pencemaran sumur warga sebagai konflik utama, sementara desakan Iyet kepada KLH menjadi penguat berita.
