Muhammadiyah Ingatkan Pentingnya Beramal Berdasarkan Ilmu
Ilustrasi bersedekah.(poto/net)
Yogyakarta, Satuju.com — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Ariffudin, mengingatkan umat Islam agar menjalankan ibadah dan seluruh aktivitas kehidupan dengan berlandaskan ilmu pengetahuan.
Menurutnya, ilmu dan amal tidak boleh dipisahkan. menjadi pengetahuan dasar agar setiap tindakan yang dilakukan dengan benar, sementara amal menjadi wujud nyata dari ilmu yang telah dipahami.
Pesan tersebut disampaikan Muhammad Ariffudin saat menjadi khatib dalam salat Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Jumat (4/9).
Tiga Kelompok dalam Garis Agama
Dalam khutbahnya, Ariffudin mengawali dengan menjelaskan pelajaran yang dapat diambil para ulama dari Surat Al-Fatihah. Menurutnya, terdapat tiga gambaran kelompok manusia dalam menjalankan ajaran agama.
Kelompok pertama adalah orang-orang yang beribadah dan beramal berdasarkan ilmu. Kelompok kedua adalah mereka yang beratal tanpa memiliki dasar ilmu yang memadai. Sementara kelompok ketiga merupakan orang yang telah mengetahui ilmu pengetahuan, tetapi tidak mengamalkannya.
“Yang pertama adalah orang-orang yang beramal berdasarkan ilmu dan mereka ini adalah orang-orang yang beruntung,” tuturnya.
Ariffudin menjelaskan, beramal berdasarkan ilmu berarti memastikan setiap ibadah memiliki landasan yang benar serta sesuai dengan Al-Qur'an dan sunah Nabi Muhammad SAW.
Sebaliknya, amal yang dilakukan tanpa pengetahuan berpotensi membawa seseorang pada kesalahan, meskipun tindakan tersebut terlihat sebagai suatu bentuk ibadah.
“Kalau suatu amalan itu dibangun di atas ilmu, maksudnya adalah sesuai dengan Quran dan sesuai dengan sunah an-Nabawiyah,” jelasnya.
Karena itu, ia mengajak jamaah menjadikan kelompok pertama sebagai orientasi dalam kehidupan, yakni menjadi pribadi yang beribadah kepada Allah SWT sekaligus menjalankan amal berdasarkan ilmu.
“Yang kita inginkan, yang kita ingin capai adalah model yang pertama, alladzi ya’budunallah wa’malun ala ilmin, yang beribadah kepada Allah Swt. dan beramal di atas ilmu,” katanya.
Ilmu Menjadi Dasar Pengambilan Keputusan
Ariffudin menegaskan, prinsip beramal berdasarkan ilmu tidak hanya berlaku dalam persoalan ibadah. Prinsip tersebut juga harus diterapkan dalam pekerjaan, profesi, maupun berbagai keputusan yang diambil dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan seorang dokter bedah yang harus menentukan tindakan medis terhadap pasien. Setiap keputusan harus didasarkan pada ilmu kedokteran yang benar, profesionalitas, serta amanah.
“Kalau dia memutuskan suatu operasi ala ilmin, di atas ilmu yang benar dan amanah, maka insyaallah apa yang dilakukan ini adalah sebagaimana yang kita inginkan, yaitu di atas ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Dalam konteks ilmiah, pendekatan tersebut dikenal dengan istilah evidence-based, yaitu pengambilan keputusan yang didasarkan pada pengetahuan dan bukti ilmiah.
Sebaliknya, ia mengingatkan risiko ketika seseorang yang memiliki profesi tertentu mengambil keputusan tidak berdasarkan kompetensi keilmuannya, tetapi dipengaruhi kepentingan lain.
“Kalau seorang dokter memberikan suatu keputusan, namun bukan didasarkan di atas ilmu medis, tapi didasarkan di atas kepentingan yang lain, wallahu a’lam, dan kita berlindung kepada Allah dari yang seperti ini,” tuturnya.
Menurutnya, prinsip tersebut berlaku untuk seluruh bidang kehidupan. Setiap pekerjaan dan karya hendaknya dilakukan berdasarkan ilmu yang benar serta dilaksanakan dengan penuh amanah.
Menempuh Jalan yang Diberi Nikmat Allah
Lebih lanjut, Ariffudin menghubungkan pentingnya beramal berdasarkan ilmu dengan doa yang dibaca umat Islam setiap hari dalam Surah Al-Fatihah, khususnya permohonan agar diberikan petunjuk menuju jalan yang lurus.
Ia menjelaskan, sirāṭ al-mustaqīm merupakan jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang yang mendapatkan nikmat dari Allah SWT, sebagaimana disebut dalam ayat alladzīna an‘amta ‘alaihim.
“Jalan yang disebut dengan siratal mustaqim adalah jalan yang sudah ditempuh. Siapa yang menempuh siratal mustaqim? Alladzina an’amta alaihim, yaitu orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka,” jelasnya.
Karena itu, jamaah diajak menjadikan orang-orang yang mendapat nikmat Allah sebagai teladan dan orientasi dalam menjalani kehidupan. Yakni, menjadi manusia yang beribadah kepada Allah sekaligus mengamalkan ilmu yang dimilikinya.
Setiap Perbuatan Akan Dipertanggungjawabkan
Pada khutbah kedua, Ariffudin kembali mengingatkan jamaah bahwa seluruh aktivitas manusia berada dalam pengetahuan dan pengawasan Allah SWT.
Apa yang ditiru di dalam hati maupun yang diwujudkan melalui perbuatan tidak terlepas dari kinerja di hadapan Allah.
Ia mengingatkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, umat Islam perlu terus mendekatkan diri kepada Allah sekaligus meningkatkan pengetahuan sebagai landasan dalam beramal.
“Semua penglihatan kita, pengetahuan kita, pendengaran kita semuanya akan mendapatkan pertanggungjawaban atau dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.,” katanya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberagamaan tidak cukup hanya diwujudkan melalui banyaknya aktivitas ibadah. Setiap amal perlu memiliki dasar ilmu yang benar dan diwujudkan dengan penuh tanggung jawab agar memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
