Imam Syafi"i Saja Tak Mengklaim “Islam Ala Saya”, Lalu Anda Siapa?

Poto Ai hanya ilustrasi: SEKELAS IMAM SYAFII TAK PERNAH MEMBUAT BUKU "ISLAM ALA SYAFII). (poto/ist/Lhynaa Marlinaa)

SATUJU.COMIslam dan klaim pribadi kembali menjadi sorotan setelah muncul polemik penggunaan label personal dalam memahami dan menyampaikan ajaran agama. Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan tentang batas antara tafsir keagamaan dan klaim atas Islam itu sendiri.

Penulis, Lhynaa Marlinaa, menyoroti teladan Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i yang dikenal sebagai salah satu ulama besar dalam sejarah Islam. Meski memiliki pengaruh keilmuan yang sangat luas, Imam Syafi’i tidak pernah menamai ajarannya dengan istilah “Islam ala Syafi’i”.

Imam Syafi’i meninggalkan karya dan metodologi keilmuan yang kemudian menjadi rujukan umat Islam. Di antaranya kitab Al-Risalah dan Al-Umm yang menjadi fondasi penting dalam perkembangan Mazhab Syafi’i.

Mazhab tersebut diterima dan diikuti luas bukan karena Imam Syafi’i mengklaim Islam sebagai milik pribadi. Pengaruhnya tumbuh dari kedalaman ilmu, metodologi, serta kontribusi keilmuan yang diwariskan kepada generasi setelahnya.

Dari sini, muncul pertanyaan ketika agama kemudian diberi label berdasarkan nama atau kepentingan personal.

“Lalu kalau ada ‘Islam ala saya’, Anda ini siapa?”

Pertanyaan tersebut menjadi kritik terhadap kecenderungan menghadirkan Islam dalam bentuk “versi pribadi”. Islam pada dasarnya bukan agama milik individu, kelompok, maupun kekuasaan tertentu.

Ulama memang memiliki ruang untuk berijtihad, menjelaskan dan menafsirkan ajaran agama sesuai kapasitas keilmuan. Namun, proses tersebut tetap membutuhkan dasar ilmu, sanad dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tafsir seorang ulama merupakan ikhtiar memahami wahyu, bukan berarti menciptakan Islam dalam versi baru.

Fenomena penggunaan berbagai label “ala” dalam beragama juga dinilai berisiko membingungkan masyarakat. Jika tidak ditempatkan secara tepat, istilah tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa terdapat banyak versi Islam yang berdiri berdasarkan klaim personal.

Padahal, sumber utama ajaran Islam tetap Al-Qur’an dan Sunnah. Perbedaan penafsiran dan hasil ijtihad para ulama berada dalam wilayah upaya memahami sumber tersebut.

Polemik ini sebelumnya juga muncul dalam wacana “Islam ala Prabowo” yang mendapat sorotan Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas. Ia menilai penggunaan embel-embel personal atau kekuasaan dalam penamaan Islam berpotensi memicu perpecahan di tengah umat.

Persoalan tersebut akhirnya kembali pada satu hal: adab dalam beragama.

Imam-imam besar dalam sejarah Islam justru menunjukkan bahwa keluasan ilmu tidak harus melahirkan klaim bahwa kebenaran agama merupakan milik pribadi. Sebaliknya, ilmu menuntut tanggung jawab, kerendahan hati dan keterbukaan terhadap perbedaan dalam wilayah yang memang memungkinkan adanya ijtihad.

Karena itu, kritik terhadap istilah “Islam ala saya” bukan semata soal pilihan kata. Di baliknya terdapat pertanyaan lebih besar tentang siapa yang berhak berbicara atas nama Islam dan sejauh mana tafsir pribadi boleh ditempatkan dalam kehidupan umat.

Penulis: Lhynaa Marlinaa


BERITA TERKAIT